Ahlul Bait Bukan Sekadar Garis Darah, Tapi Akhlak

KolomAhlul Bait Bukan Sekadar Garis Darah, Tapi Akhlak

Nama Habib Bahar bin Smith kembali menjadi sorotan. Kegaduhan dan kontroversi tak ada habisnya ia produksi. Tidak satu dua kali ia terlibat aksi kekerasan dan tindak pidana. Kali ini karena kasus ujaran kebencian, ia pun harus kembali berurusan dengan pihak kepolisian. Dan pada Senin (3/1/21) ia ditetapkan sebagi tersangka penyebaran berita bohong. Kekerasan baik verbal maupun fisik yang dilakukannya telah merusak marwah predikat habib. Sebagai seorang yang mendaku sebagai keturunan Nabi, semestinya Habib Bahar menjadi aktor utama dalam mencontohkan akhlak mulia dan cinta kasih. Tidak malah berlindung di balik gelar habib untuk membentengi perilaku kasarnya.

Adalah sebuah truisme bahwa kita harus mengasihi dan menghormati semua manusia. Apalagi Ahlul Bait yang jelas disinggung mendapat hak istimewa dari Allah SWT berupa penghilangan keburukan serta penyucian dari kotoran, seperti kotoran yang menempel pada pelaku maksiat. Hal ini dijelaskan dalam QS. Al-Ahzab [33]: 33.

Mengenai Ahlul Bait, para ulama berlainan pendapat atas tafsirannya. Boleh dibilang, yang paling populer Ahlul Bait diartikan sebagai keluarga Nabi yang terdiri dari Imam Ali bin Abi Thalib, Sayyidah Fatimah, serta kedua cucu Nabi; Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein. Karena merekalah yang secara jelas diselimuti dan didoakan oleh Nabi dalam peristiwa hadis kisa’.

Pada perjalanannya, garis keturunan Rasullullah SAW, salah satunya dikenal dengan predikat habib. Gelar ini tentu merupakan produk budaya di masyarakat, bukan title yang bersifat tauqifi (paket jadi) dari langit untuk tiap kerabat Nabi yang dapat menjaminnya suci. Dalam tradisi masyarakat, seorang yang berpredikat habib biasanya dinilai berilmu, memiliki peran penting bagi masyarakat, dan tentunya berbudi pekerti mulia penuh cinta. Artinya, sejatinya tidak semua orang yang diketahui sebagai keturunan Nabi berhak dianugerahi gelar habib.

Ahlul Bait memiliki kemulian tersendiri. Nabi menunjukkan perhatian besar kepada mereka, sekaligus menghimbau agar umatnya mengasihi dan mencintai kerabat beliau. Demikian pula ditegaskan dalam QS. Asy-Syura [42]: 23. Ahlul Bait, oleh Rasulullah SAW bahkan disandingkan dengan kitab Allah SAW dalam hal agar kita berpegang teguh kepadanya. Hadis ini jamak disebut dengan hadis tsaqalain.

Keistimewaan dan kemuliaan keturunan Nabi harus dipahami secara proporsional. Sayyid Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam kitabnya al-Fushul al-‘Ilmiyyah wa al-Ushul al-Hikamiyyah mengingatkan agar umat Muslim bersikap wajar dan tidak berlebihan dalam menampilkan penghormatan dan kecintaan kepada Ahlul Bait.

Baca Juga  Ngaji Maraqi Al-‘Ubudiyah: Menjaga Lisan Dari Ingkar Janji

Lebih lanjut, Sayyid Abdullah al-Haddad menjelaskan, bahwa tidak menutup kemungkinan ada dari kalangan Ahlul Bait yang sikapnya tidak sejalan dengan ajaran agama. Untuk itu, evaluasi, nasihat, atau kritik sangat terbuka untuk disampaikan. Kemuliaan yang terabadikan dalam nash-nash agama atas keturunan Nabi, tidak membuatnya kebal kritik atau kebal hukum.

Baca Juga  Mengatasi Rasa Takut Kematian ala Raghib Al-Ishfahani

Pemilik gelar “habib”, yang berakar dari kata bahasa Arab yang berarti “cinta” ini, seharusnya menjadi duta yang lisan serta lakunya dipenuhi kasih dan cinta. Quraish Shihab menuturkan bahwa predikat ini berlaku bagi keturunan Nabi yang mencintai dan dicintai, bukan hanya orang yang ingin dicintai atau dimuliakan semata.

Terdapat indikasi adanya inflasi makna dari kata “habib”. Siapapun yang memiliki gelar itu hampir dianggap tidak mungkin bertindak amoral, karena kemuliaan nasabnya yang bersambung kepada Rasulullah SAW. Padahal, hukum dasarnya adalah tak ada manusia yang imun terhadap kekeliruan, selain hanya Rasulullah SAW saja. Di samping itu, tidak tertutup kemungkinan pula jika si pemilik gelar mengambil untung dari privilege yang ia miliki demi suatu tujuan.

Di era disrupsi seperti sekarang, kita harus benar-benar waspada dan jeli dalam membaca situasi. Jika tidak, kita hanya akan menjadi obyek yang diayun-ayun oleh pihak yang berkepentingan. Sayangnya masyarakat awam banyak terkecoh. Status nasab sebagai keturunan Nabi acap kali membuat mereka membenarkan atau memaklumi apa saja perilaku seorang habib.

Masyarakat pun kemudian digiring menuju skenario berulang playing victim. Di mana seorang dengan label ulama atau keturunan Nabi yang ditindak karena perilaku kriminal kemudian disebut sedang dizalimi pemerintah dengan narasi kriminalisasi ulama. Pola seperti ini yang selalu memicu keterbelahan umat. Poin pentingnya, tolok ukur seseorang bisa diteladani atau tidak adalah dari akhlak dan perilakunya, bukan hanya bermodal garis keturunan karena itu bukan jaminan.

Semua orang harus kita hormati dan kasihi, terlebih kerabat Nabi yang menyandang kemuliaan. Rasa hormat dan kritik bukan hal yang harus dipertentangkan. Keduanya bisa disandingkan dalam satu kotak. Menyandang gelar Ahlul Bait secara otomatis memiliki tanggung jawab moral lebih untuk menjadi teladan paripurna atas akhlak Rasulullah SAW. Karena kerabat sejati Nabi bukan sekadar perkara garis darah, tapi melampaui itu, yaitu perilaku. Sejatinya, predikat “habib” ialah milik Rasulullah SAW semata. Beliau adalah album semua akhlak mulia. Wallahu a’lam. []

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.