Sindiran Gus Dur kepada Pemuka Agama

KhazanahHumorSindiran Gus Dur kepada Pemuka Agama

Rasanya semua orang tahu bahwa Gus Dur dan humor tidaklah terpisahkan. Gus Dur merupakan rujukan guyonan-guyonan kaya makna. Kecerdasannya memotret perkara dan kepiawaian menyampaikannya membuat orang mudah menerima apa yang Gus Dur utarakan. Humor-humor yang terlontar dari Gus Dur biasanya adalah bentuk kritikan dari suatu keadaan. Salah satunya ia pernah melancarkan kritik kepada pemuka agama, tentunya dibungkus humor menggelitik.

Suatu hari Gus Dur berkisah, “Di hadapan pintu surga, para pemuka agama sedang menunggu pintu surga dibuka”. Lama menunggu tapi pintunya tak kunjung dibuka, sampai akhirnya pecah keributan di antara mereka, mempersoalkan siapa sebenarnya umat yang akan Tuhan pilih untuk masuk surga. Pintu surga pun masih tetap tak terbuka.

Beberapa saat kemudian datang seseorang dengan pakaian lusuh, jalannya sempoyongan nampak seperti orang mabuk. Namun pintu surga justru langsung terbuka. Orang tersebut lalu dipersilakan masuk oleh malaikat dan pintu surga kembali ditutup. Tidak terima dengan apa yang terjadi, para pemuka agama itu protes dan meminta penjelasan kepada malaikat.

“Kok bisa gitu? Kami adalah pembawa ayat-ayat Tuhan, wakil Tuhan di muka bumi. Tapi kenapa kami nggak diizinkan masuk surga sejak tadi? Malah orang setengah mabuk dengan penampilan kumal yang langsung dikasih masuk?” protes pemuka-pemuka agama tadi.

Lalu malaikat bertanya balik kepada mereka, “Ketika kalian tengah membacakan ayat-ayat Tuhan, apa yang dilakukan oleh umat kalian?” Malaikat tadi melanjutkan, bahwa orang yang tadi diperkenankan masuk itu setiap harinya membuat ratusan orang menjadi ingat dan mendekat pada Tuhan, serta menghadirkan lagi Tuhan dalam kehidupan.

“Kenapa bisa begitu? Karena ia adalah seorang sopir Metro Mini Jakarta. Dia nyetir dalam keadaan setengah mabuk dan ngebut, para penumpang menjadi ketakutan dan ingat Tuhan, mendekatkan diri pada-Nya,” jelas sang malaikat. Sedangkan para pemuka agama yang membawa ayat-ayat dan nama Tuhan, namun mereka sangat jauh dari realitas dan membosankan, sehingga umatnya tidur kalau diberi ceramah.

Baca Juga  Kiai Kholil Bangkalan Meneriaki Kiai Wahab Chasbullah Macan
Baca Juga  Jejak Islam dalam Konsep Ahimsa

Candaan Gus Dur ini merupakan respons dan kritik terhadap sejumlah pemuka agama yang kadangkala lebih mengutamakan nama baik dan predikatnya di masyarakat ketimbang pengabdian murni untuk membimbing umat. Uniknya, saat candaan itu dilontarkan Gus Dur, memang sedang banyak kecelakaan Metro Mini di Jakarta. Hal ini sekali lagi membuktikan kecerdasan Gus Dur mengolah peristiwa menjadi pelajaran yang berharga dan mudah dicerna. Wallahu a’lam. []

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.