Jasa Non-Muslim kepada Nabi Muhammad SAW di Awal Keislaman

KolomJasa Non-Muslim kepada Nabi Muhammad SAW di Awal Keislaman

Di balik banyaknya kisah cercaan yang diterima kafir Quraisy Mekkah, barang tentu Nabi SAW juga memiliki teman baik dari non-Muslim. Mereka yang membantu memberikan perlindungan, panduan, berteman, dukungan, dan melancarkan dakwah Nabi SAW sehingga Islam dapat menemukan jalannya untuk terus berkembang pesat serta mendapat banyak pemeluk.

Bermula dari Waraqah bin Naufal, sosok penganut agama hanif. Di kala jiwa Nabi SAW terguncang setelah mendapat wahyu dari Malaikat Jibril, di sini Waraqah berperan besar menguatkan bahwa apa yang dialaminya adalah wahyu. Waraqah berkata, “Ini adalah orang yang sama membawa wahyu yang telah dikirim Allah kepada nabi Musa as”. Pernyataan ini menenangkan Nabi SAW akan kesaksian Waraqah yang diberikan kepada beliau.

Sosok yang kedua, tidak lain Abu Thalib, paman Nabi SAW yang senantiasa mendukung dakwahnya. Masyarakat Arab yang kental dengan ikatan klan mendorong persatuan, bahwa siapapun dari pihak klan yang menyatakan perlindungan terhadap seseorang maka hidupnya aman. Jika ada yang mencelakai, maka seluruh klan yang tergabung akan bersedia membalas dan berhadapan satu sama lain tanpa melihat apa agama dari orang yang dilindunginya tersebut. Kita tentu mengetahui, bahwa Abu Thalib sosok yang dihormati oleh orang Quraisy karena kebaikan dan kedermawanannya. Kendati tak menafikan, gangguan dari kafir Quraisy terus berdatangan yang gencar mengancam kehidupan beliau.

Dalam buku Saring Sebelum Sharing buah karya Nadirsyah Hosen, Nabi SAW memang benar mendapat perlindungan atas pamannya Abu Thalib. Namun, tidak dengan para pengikut beliau. Mereka kerap mendapat cobaan yang berat. Itu sebabnya, beliau memerintahkan agar berhijrah ke Habasyah. Ini negeri Kristen. Para sahabat mendapat perlindungan dari Raja Habasyah atas kepercayaannya terhadap Nabi SAW. Di era-era sekarang, saudara-saudara kita di Timur Tengah, seperti Suriah, Afghanistan, Libia, Yaman, dan Tunisia yang sering terjadi kecamuk perang, tak jarang memasuki wilayah Eropa yang didominasi umat Kristiani atau non-Muslim untuk mengungsi atau mendapat perlindungan. Demikian tingginya rasa kemanusiaan ini yang sebenarnya diajarkan oleh Islam sebagai agama rahmat bagi umat manusia.

Lebih dilemanya saat Abu Thalib wafat. Abu Lahab menghapus jaminan perlindungan. Kafir Quraisy kian leluwasa bertindak represif terhadap Nabi SAW dan para sahabat. Beliau hijrah ke Taif, tetapi ditolak dan mendapat tindakan keras yang membuat darah suci beliau mengalir dari tubuh mulianya. Untung ada suku kecil yang mau menampung beliau. Mu’thim bin Adi mengumumkan, bahwa Muhammad berada dalam perlindungannya. Meski tak lama setelah terjadinya peristiwa Isra’ Mi’raj, Mu’thim tidak memercayai apa yang terjadi pada peristiwa tersebut dan menganggap beliau telah berbohong, hingga beliau terlepas dari perlindungan klan ini.

Baca Juga  Kiai Saiq Aqil Siroj: Budaya Kita Lebih Baik daripada Budaya Arab

Nabi SAW merasa dilema karena hampir semua tak ada lagi tokoh yang mau memberikan perlindungan untuk beliau. Alhasil, turun perintah untuk hijrah ke Yastrib sebagai satu-satunya jalan keluar dari ancaman. Namun, untuk bisa sampai di Yastrib Nabi harus mendapati rintangan yang sangat sulit. Pasalnya, orang-orang Quraisy berpatroli tanpa henti seperti pemburu yang sedang mencari hewan buruan. Yakni, apabila bertemu dengan orang kafir Quraisy nyawa beliau menjadi taruhannya.

Allah tidaklah Maha Besar kalau tidak bisa menjadikan non-Muslim sebagai perantaranya. Di sini Nabi SAW dan Abu Bakar yang konon menemani belaiu menuju Yastrib, di tolong oleh seorang non-Muslim yang bernama Abdullah bin Arqat (saat itu belum masuk Islam). Bersama Abdullah, Nabi SAW dan Abu Bakar ditunjukkan jalan yang aman dan tidak biasa dilalui oleh orang-orang. Dengan ini, akhirnya beliau bisa sampai di Yastrib dengan selamat dan mendapat sambutan yang membuat hati Nabi SAW begitu bahagia setelah melalui banyak badai cobaan yang terus mengancam nyawanya.

Dalam Thabaqat Ibn Sa’d. Ibnu Hajar dalam Al-Ishabah, Ibnu Sabbah dalam Tarikh Al-Madinah, ada kisah yang mungkin masih asing didengar. Sebenarnya Nabi SAW memiliki seorang Yahudi yang teramat sayangnya terhadap beliau. Namanya, Mukhayriq seorang yang kaya raya dan memutuskan untuk ikut Perang Uhud untuk membela Nabi SAW. Ia berwasiat, mana kala dirinya gugur dalam Perang Uhud, maka seluruh harta kekayaannya diberikan kepada Nabi Muhammad SAW. Kabar gugurnya Mukhayriq kemudian terdengar. Beliau mengatakan, bahwa Dia Yahudi terbaik.

Demikian kita tak  bisa membenci seseorang hanya karena perbedaan agama, budaya, dan dari golongan apa ia lahir. Melalui kisah di atas, tentu kita dapat memahami seorang non-Muslim yang kala itu kental dengan kekafiran dan ketidakbiadaban, tetapi pada faktanya mereka terlibat dalam sejarah membantu syiar Islam yang patut diapresiasi. Kebaikan itu kembali pada karakter manusianya. Rasa kemanusiaan dalam Islam itu menopang, bahwa kita sudah seharusnya hidup saling berdampingan secara damai, bergotong royong, dan memajukan peradaban. Sebagaimana kata Gus Dur, “Tidak penting apa agama atau sukumu. Jika kamu bisa berbuat baik kepada semua orang, orang tidak akan bertanya apa agamamu. ”

Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.