Refleksi Hadis Mujaddid terhadap Abad Baru NU

KolomRefleksi Hadis Mujaddid terhadap Abad Baru NU

Sekian abad silam, Rasulullah SAW pernah menuturkan hadis mengenai akan datangnya pembaharu (mujaddid) bagi umat di tiap seratus tahun. Hadis tersebut sangat relevan untuk direfleksikan dengan momentum Nahdlatul Ulama yang akan memasuki babak baru di abad kedua. Dalam pidato sambutannya saat Muktamar NU di Lampung, KH Miftachul Akhyar mengatakan bahwa secara Hijriah NU sudah berusia 98 tahun. Tersisa dua tahun lagi untuk menutup abad pertamanya. Jika direfleksikan, riwayat Nabi tadi adalah semacam kabar gembira sekaligus isyarat akan tanggung jawab NU yang lebih besar terhadap umat, bangsa, serta dunia.

Hadis tentang kehadiran mujaddid itu diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dari sahabat Abu Hurairah. Telah disepakati kesahihannya oleh para ulama. Redaksi matan hadis tersebut adalah sebagai berikut:

«إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا»

Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya Allah akan mengutus untuk umat ini pada setiap seratus tahun orang yang memperbaharui agamanya.

Kehidupan umat manusia dalam berbagai aspeknya selalu berubah dan dinamis. Demikian halnya dengan problematika umat yang juga terus berkembang. Apa yang Nabi ungkapkan dalam hadis tadi menggambarkan hadirnya seseorang dalam konteks perubahan sosial yang memiliki tugas-tugas perbaikan dan membimbing manusia agar selalu adaptif dengan perubahan. Karena perubahan serta pergeseran tatanan adalah perkara yang niscaya dalam kehidupan.

Mujaddid di sini bukan berarti seseorang yang membawa agama baru. Pembaharuan itu disasarkan kepada umat, karena perubahan, kesalahan, kelemahan adalah hal-hal yang dialami manusia. Sedangkan Islam sendiri telah paripurna dan terjaga. Mujaddid adalah orang yang ditugaskan memperbaiki yang rusak dan memertahankan apa-apa yang baik. Setiap kali banyak penyimpangan dari jalan agama yang dilakukan manusia, saat itu para ulama, pemimpin yang benar-benar memahami Islam akan dihadirkan untuk membimbing mereka.

Sosok pembaharu yang digadang-gadang dalam hadis itu tidaklah terbatas pada satu tokoh tertentu. Para ulama menyebut, bahwa kata “man” pada redaksi hadis menunjukkan faidah mutlak. Yang artinya mengandung kemungkinan sang mujaddid adalah figur personal, dan mungkin juga merupakan sekelompok manusia (jamaah).

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathu al-Bari berpendapat, tidak hanya perlu satu orang yang menjadi pembaharu di tiap seratus tahun. Tapi persoalan ini kembali pada kemungkinan, bahwa pembaharu itu juga bisa hadir dari jamaah. Selain itu, melihat dinamika dan realitas masa kini, kumpulan hal yang perlu diperbaiki di masyarakat tidaklah sedikit, dan amunisi-amunisi perbaikan belum tentu terkumpul pada satu orang, kecuali yang disebutkan dalam literatur klasik bahwa kualifikasi tersebut dimiliki oleh figur Umar bin Abdul ‘Aziz.

Baca Juga  Kesalahpahaman terhadap Poligami Nabi

Ulama terdahulu menafsirkan bahwa mujaddid di abad pertama Islam disandang oleh khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz. Adapun di abad kedua predikat itu disematkan kepada Imam al-Syafi’i. Hal tersebut karena sifat-sifat kebaikan terdapat pada mereka. Dan dengan karakter unggul itu mereka menebar ilmu, kebaikan, pengaruh baik, dan penyegaran dalam perkara agama bagi umat manusia.

Baca Juga  Pemikiran Ibnu Khaldun: Tujuh Kesalahan Sejarawan (Bagian 2)

Pendek kata, mujaddid bisa saja dari kalangan ulama, cendekiawan, ataupun pemimpin. Namun yang pasti, mereka adalah sosok yang punya pengaruh besar, penghidup ajaran dan nilai-nilai Islam, dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat. Mereka mungkin saja satu orang dan mungkin pula perkumpulan sejumlah orang.

Atas dasar hal tersebut, NU sebagai organisasi massa bukan tidak mungkin menjadi bagian dari pembaharu dalam tubuh Islam. Sudah menjadi rahasia umum pula bahwa NU diisi oleh para kiai, ulama, juga kalangan cendekia yang berkhidmat pada masyarakat. Pendiri NU sendiri adalah ulama-ulama kaliber yang ‘arif billah. Daya pengaruh organisasi Islam terbesar di dunia ini pun tak perlu diragukan, minimal untuk skala nasional. Selama ini NU turut ambil bagian dalam mendidik dan memberdayakan umat. NU juga berperan besar dalam menjaga stabilitas bangsa ini.

Sejumlah indikator sebagai figur pembaharu telah dikantongi NU. Apabila mau lebih dalam merefleksi sabda Nabi tersebut berkaitan dengan fase transisi NU sekarang, jam’iyyah ini akan memiliki semangat dan energi lebih untuk melakukan tugas-tugas perbaikan serta revitalisasi di bawah kepengurusan yang baru, agar bisa berkontribusi lebih bagi peradaban dan perdamaian dunia sebagaimana yang diharapkan. Sebab NU telah memiliki sumber daya dan potensi yang sangat memadai.

Pengutusan generasi pembaharu dalam hadis tadi adalah kabar gembira dari Nabi dan sebentuk pertolongan dari Allah, bahwa di tiap masa akan selalu ada figur yang dihadirkan Tuhan untuk memperbaiki dan mengelola urusan umat. Sebagaimana Allah mengutus para Nabi di tiap zaman untuk memberikan petunjuk, adanya mujaddid ini juga wujud dari karunia Allah dalam rangka membimbing umat manusia.

Setelah menelaah hadis tersebut, anasir-anasir sebagai mujaddid nampaknya ada dalam tubuh NU. Terlebih momentumnya sangat tepat, yakni menuju abad baru NU. Dengan demikian, NU mengemban tugas besar untuk mengurus persoalan keumatan, memperbaiki pemahaman dan praktik keagamaan yang ada di masyarakat. Sejatinya spirit pembaharuan dan dialektika harus selalu hidup, karena itu adalah konsekuensi logis dari perubahan sosiohistoris umat manusia yang dinamis. Wallahu a’lam. []

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.