Mengenal “Qasidah Muktamar” Kiai Afifuddin Muhajir

BeritaMengenal "Qasidah Muktamar" Kiai Afifuddin Muhajir

Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-34 tak lama lagi akan digelar. Dalam rangka memeriahkan dan menyambut forum permusyawaratan tertinggi warga Nahdliyyin tersebut, Kiai Afifuddin Muhajir menggubah sebuah syair yang diberi judul “Qasidah Muktamar” yang kemudian menjadi lagu resmi (official song) dari Muktamar NU ke-34 yang akan berlokasi di Lampung itu. Di samping nadanya yang memanjakan telinga, makna syairnya pun begitu mendalam. Kiai Afif—Rais Syuriah PBNU ini—mengingatkan kita suatu spirit perjuangan dengan cara yang menyentuh nan indah.

Kasidah merupakan syair yang dirangkai dengan pola-pola tertentu sehingga menghasilkan ketukan dan bunyi yang padu. Suatu bentuk karya seni yang dinyanyikan dengan iringan musik. Yang umumnya berisi puji-pujian atau dakwah keagamaan. Para ulama sendiri telah lekat dengan tradisi pembuatan kasidah.

Bait syair buah karya Kiai Afifuddin Muhajir ini singkat namun padat makna. Rangkaian syairnya mengingatkan, bahwa organisasi NU digagas dan didirikan oleh para alim ulama, para auliya yang ‘arif billah yang memiliki cita-cita luhur mewujudkan kesejahteraan dan kemaslahatan bagi bangsa, negara, serta masyarakat.

Indonesia sebagai negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia adalah suatu anugerah Tuhan. Dan kehadiran NU adalah berkah bagi bumi pertiwi. Di mana sampai detik ini NU terbukti telah berkontribusi dalam menjaga dan mengawal laju kehidupan bangsa. Karenanya, rasa syukur dan semangat berkhidmat dengan ikhlas harus terus menyala, guna meraih rahmat-Nya. Hal tersebut setidaknya nampak dari penggalan syair berikut:

فضل من الله على هذي البلاد  #  سكانها جلا فكانو مسلمين

(Adalah) anugerah dari Allah untuk negeri ini, mayoritas penduduknya adalah kaum Muslim.

أسعد بهم أيمن بهم في في دولة  #  قويت وذبت مفعمة بالناهضين

Betapa bahagia dan beruntung mereka, ada di sebuah negara yang kuat dan dibela penuh oleh Nahdliyyin.

Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari merupakan pendiri sekaligus guru kita sekalian. Mbah Hasyim bersama para masyayikh yang lain telah meletakkan prasasti kearifan dan tujuan yang tulus dalam mendirikan jam’iyyah NU. Karenanya, apa yang diajarkan para masyayikh tersebut harus selalu dipegang dan diingat dalam tiap patron perjuangan serta pengabdian para pengikutnya.

Baca Juga  Jihad Pancasila ala Milenial

Dalam konteks perhelatan Muktamar, seluruh pihak diharapkan dapat meneguhi warisan kearifan para pendiri NU, sehingga dapat terselenggara Muktamar yang benar-benar menghadirkan solusi bagi problematika umat, membawa kemaslahatan, terlaksana dengan suasana penuh kegembiraan dan rasa kekeluargaan. Jangan sampai kepentingan politis sebagian pihak menciderai tujuan luhur dari muktamar.

Di penggalan syairnya yang lain, Kiai Afif nampak begitu tulus memanjatkan doa kepada Allah agar perkumpulan akbar esok hari nanti bisa melahirkan kepemimpinan dari para pemimpin yang terpercaya. Pemimpin yang amanah adalah anugerah Tuhan, dan tugas kita untuk mengupayakan serta meminta itu pada-Nya.

“Qasidah Muktamar” merupakan salah satu tanda cinta(mahabbah) Kiai Afifuddin Muhajir tehadap NU. Kiai Jawa Timur yang alim dalam bidang fikih dan ushul fikih ini, berharap NU menjadi wasilah atau sarana yang bisa mengantarkannya pada perkenan (ridha) Allah SWT. Adanya motivasi Ilahiah dalam mengabdi seperti yang ditunjukkan kiai Afif sangat penting untuk ditiru. Karena dari situ akan lahir ketulusan dalam berkhidmat, bukan kepentingan.

Menyongsong eksistensi NU yang akan memasuki abad kedua, kasidah ini diharapkan dapat menjadi pengingat sekaligus memperbaharui semangat umat. Sebagaimana umumnya, lagu merupakan medium yang bisa mentransfer energi dan membangun spirit yang membahagiakan. Semoga simpul cinta dari Kiai Afif tersebut dapat mengiringi kesuksesan jalannya permusyawaratan akbar ini. Membawa NU menjadi jam’iyyah yang kian menjadi berkah bagi banyak pihak. Wallahu a’lam. []

Khalilatul Azizah
Redaktur Islamramah.co || Middle East Issues Enthusiast dengan latar belakang pendidikan di bidang Islamic Studies dan Hadis. Senang berliterasi, membahas persoalan sosial keagamaan, politisasi agama, moderasi, khazanah kenabian, juga pemikiran Islam.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.