Darurat, Ajari Anak Sex Education Sejak Dini

KolomDarurat, Ajari Anak Sex Education Sejak Dini

Getir, pelecehan seksual terhadap anak-anak terus menelan banyak korban. Mereka yang seharusnya menjalani kehidupan panjangnya dengan menata masa depan, terpaksa terperangkap dalam bayang-bayang yang menyakitkan. Penting bagi anak untuk diajarkan seks education secara berkala agar mereka mengetahui bagian tubuh mana yang hanya boleh disentuh oleh dirinya sendiri, bukan orang lain. Ketika hal itu terjadi, anak-anak harus berani berkata jangan, marah, dan melaporkannya kepada orang tua.

Tak sedikit orang tua yang menganggap, bahwa pendidikan seks adalah hal tabu yang diajarkan. Namun, logikanya mana yang lebih penting tetap menganggap tabu atau membiarkan anak-anak terus menjadi korban pelecehan seksual. Dari pemberitaan yang beredar selama Desember 2021 terkait pelecehan seksual tercatat, 21 korban santriwati di Cibiru, Bandung dan pelaku seorang pengurus sekaligus yayasan boarding school. 10 korban pencabulan anak di bawah umur wilayah Kemirimuka, Depok. Kemudian 15 korban wilayah Cilacap dan pelaku merupakan tenaga pendidik di sekolah dasar.

Berdasarkan data tersebut, kasus terkuak ketika salah satu dari korban berani bersuara dan melapor kepada orang tua atau pihak lainnya. Keberanian ini yang harus ditumbuhkan pada anak agar tidak bermunculan korban-korban lainnya. Jik melihat rata-rata kasus pelecehan seksual di Indonesia, maka usia anak-anak yang menjadi korban yakni mereka yang ada pada jenjang sekolah dasar ke atas.

Untuk itu, usia yang cukup diberikan seks education diberikan kepada anak-anak sejak usia TK atau dimulai dari usia 4 atau 5 tahun. Menurut dokter seksolog ternama Indonesia, Boyke Dian Nugraha anak-anak penting diajarkan pendidikan seks agar anak dapat menghargai tubuhnya dan pendidikan terbaik itu diberikan dari orang tua. Sedangkan orang tua yang belum memahami bagaimana cara memberi pendidikan tersebut dapat berkonsultasi ke dokter anak atau mudahnya melakukan riset di internet dan youtube yang kontennya dinarasumberi oleh dokter spesialis dokter seksolog yang memahami tentang anak-anak.

Sejak dini tahap pengenalan seks education pada usia balita berangkat dari pengenalan anggota badan vital yang tidak boleh disentuh, yaitu mulut, dada, testis atau vagina. Jika ada yang menyuruh untuk membuka baju atau telanjang atau diminta menyentuh alat viatl orang maka harus berani mengatakan “tidak”. Jika kondisi ini terjadi harus dilaporkan kepada orang tua, guru, atau meminta perlindungan kepada orang lain yang dipercayai.

Baca Juga  Pendidikan Multikulturalisme Di Tengah Intoleransi
Baca Juga  Islam Nusantara Tidak Anti-Arab

Mengutip Boyke dalam (2003), pendidikan seks untuk anak usia dini adalah salah satu upaya memberikan pemahaman kepada anak sesuai dengan usianya mengenai fungsi-fungsi alat seksual dan masalah naluri alamiah yang timbul, bimbingan mengenai pentingnya menjaga dan memelihara organ intim, di samping itu juga memberikan pemahaman tentang perilaku pergaulan yang sehat serta resiko-resiko yang dapat terjadi seputar masalah seksual.

Berdasarkan hal tersebut, paling minimalnya anak-anak harus sering diingatkan terkait organ intim yang tidak boleh disentuh. Terkadang hal seperti ini dinilai sederhana, tetapi memiliki sifat yang penting dan bekal yang sangat membantu kelak sampai anak dewasa. Mereka tidak akan berani terlibat dalam pergaulan bebas, karena sejak kecil anak-anak sudah terbiasa tertanam menjaga privasinya. Pola asuh seperti ini akan menghasilkan lingkungan yang sehat, ramah, jauh dari pornografi, dan seks bebas khususnya bagi umat Muslim.

Pendidikan seks bagi anak akan lebih maksimal jika didukung oleh berbagai lembaga. Lembaaga pendidikan mendapat peran sosialisasi kepada orang tua untuk mengajari anak-anaknya di rumah. Dari pihak Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendatangkan tenaga ahli seksologi ke plosok-plosok daerah terkait pendidikan seks yang ramah untuk diajarkan pada anak-anak, khususnya daerah yang kerap terlibat kasus-kasus pelecehan seksual.

Penting bagi kita semua untuk memerhatikan tumbuh kembang anak agar sehat dan bahagia. Sebab anak adalah investasi masa depan bangsa. Pelecehan seksual sebenarnya tidak boleh dilakukan kepada siapapun, baik orang dewasa terlebih anak-anak. Mari kita lindungi anak-anak dan perempuan dari kasus-kasus pelecehan yang traumanya dapat merenggut masa depan cerah anak bangsa Indonesia.

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.