Tak Perlu Resign dari Bank Karena Takut Riba

ISLAMRAMAH.CO, Di era ini, ajakan untuk terlibat dalam kelompok hijrah begitu massif terjadi, terutama di kalangan masyarakat Muslim urban atau di perkotaan. Tentu saja bila hijrah yang dimaksud adalah menjadikan seorang diri menjadi lebih baik dan meningkatkan kualitas ibadah serta akhlakul karimah, maka hijrah yang dimaksud adalah sesuai dengan nilai-nilai Islam. Namun demikian, banyak individu maupun kelompok yang memilih hijrah bukan pada esensi hijrah itu sendiri. Sebab, hijrah yang terjadi justru hanya pada tampilan semata, seperti perubahan baju maupun pekerjaan.

Yang lebih ironis, setelah hijrah bukan makin meningkatkan kesadaran bahwa setiap manusia memiliki kekurangan dan kekhilafan, melainkan justru memvonis orang-orang yang tidak ikut hijrah sebagai orang atau kelompok yang salah. Padahal hijrah yang hakiki adalah hijrah yang menjadikan seorang individu atau kelompok menjadi lebih baik, tanpa harus merasa lebih baik dari orang lain, apalagi mencaci maki dan menyalahkan orang lain.

Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa (PCI) Australia dan Selandia Baru Kiai Nadirsyah Hosen mengatakan hal itu dalam muktamar pemikiran santri nusantara 2019 di Pesantren Asshiddiqiyah Jakarta, Ahad (29/9). Menurut Gus Nadir, kelompok hijrah tidak hanya menganggap kelompoknya yang paling benar, tetapi juga mengajak orang lain meninggalkan pekerjaan yang ditengarai dilarang oleh agama Islam. Padahal, dugaan itu bukanlah berdasar pada keragaman pendapat ulama, melainkan pendapat salah satu ulama, dan menafikkan pendapat ulama lain.

Gus Nadir mencontohkan, bahwa acapkali kelompok hijrah mengajak orang lain meninggalkan pekerjaan di Bank karena dianggap riba, meninggalkan music karena dianggap haram. Akhirnya, tidak sedikit masyarakat Muslim yang meninggalkan pekerjaan-pekerjaan tersebut, padahal letak keharamannya pun masih diperdebatkan di kalangan ulama. Karena itu, Gus Nadir meminta masyarakat tidak perlu meninggalkan pekerjaan karena takut riba, haram dan sebagainya.

“Ayat ini (Islam Kaffah) sering dipakai oleh kelompok hijrah. Mereka kadang mengatakan seseorang harus masuk Islam secara mendalam harus meninggalkan kerja di bank karena riba, wajib pakai jilbab, gerakan sunnah. Kadang juga masuk keranah komersial, seperti tutorial memakai jilbab syar’i, rumah syar’i, dan kelompok syar’i,” jelasnya.

Gus Nadhir juga mengajaka masyarakat untuk belajar Islam ke sumber asli, yakni Al-Quran, al-Hadis dan para ulama, dan bukan hanya kepada terjemahan al-Quran. Tentu saja konsekuensinya harus memahami Bahasa Arab dan ilmu-ilmu yang mendukung untuk memahami al-Quran. Bila tidak memiliki kemampuan Bahasa Arab, maka masyarakat Muslim hendaknya mengikuti para ulama atau para kiai. “Kita kurang bagus dalam mengadministrasikan strategi damai ala Islam. Ini tugas santri. Mari kita memahami Al-Qur’an dengan cara pesantren yang sempurna tidak hanya memahami dari terjemahan Al-Qur’an saja,” pungkasnya.

Comments
Loading...