Kisah ‘Kitab Buku’

KhazanahHikmahKisah 'Kitab Buku'

Pernah ada seorang sufi yang telah menemukan kebenaran. Dia memutuskan bahwa dia harus menjadi orang berpengaruh di dunia yang fana ini agar orang-orang mau mendengarkan ajarannya, jadi dia mengerahkan seluruh konsentrasinya untuk mengejar tahta kepemimpinan yang ada. Seiring berjalannya waktu, ia menjadi seorang raja.

Ketika dia telah menghabiskan sekian lama sebagai penguasa, sufi itu menyadari bahwa orang-orang tidak mengikuti ajarannya. Mereka memang mendengarkannya, tetapi beramal hanya karena mengharapkan imbalan atau takut akan hukuman. Raja Sufi ini pun kehabisan cara untuk mengajar. Tidak ada yang datang kepadanya, sampai dia hampir tiba di penghujung usianya.

Suatu hari, raja yang sudah tua sedang melakukan ekspedisi berburu. Ia duduk untuk beristirahat ketika seorang asing, berpakaian hijau, mendekat. Orang itu memberikan hormat pada raja, dia menceritakan sebuah kisah, kisah ini adalah Kisah Kitab Buku. Orang asing berjubah hijau itu pun memulai kisahnya. 

Ada seorang yang arif dan bijaksana, yang umurnya sudah sangat tua, mengajari murid-muridnya segudang kebijaksanaan yang tampaknya tidak ada habisnya. Dia menghubungkan semua pengetahuannya dengan sebuah kitab tebal yang disimpan di tempat terhormat di kamarnya. Orang bijak itu tidak akan mengizinkan siapapun untuk membuka jilidan buku itu. 

Ketika dia meninggal, murid-murid yang mengelilinginya, menganggap diri mereka sebagai ahli warisnya, bersegera untuk membuka kitab itu, dan ingin menguasai apa yang ada di dalamnya. Mereka kaget, bingung, dan kecewa ketika menemukan tulisan yang hanya ada di satu halaman. Mereka menjadi semakin bingung dan kemudian kesal ketika mereka mencoba menembus arti dari kalimat yang mereka lihat. Tulisan itu berbunyi, Ketika Anda menyadari perbedaan antara wadah dan isinya, Anda akan memiliki pengetahuan.  

Para penerus orang bijak itu akhirnya membawa kitab itu kepada para ilmuwan paling terkenal pada masa itu. Mereka mengatakan, “Kami memiliki buku ini, dan meminta penafsiran anda. Buku ini milik orang bijak yang begini-begitu Ia adalah keajaiban zaman, dan sekarang sudah mati. Hanya ini yang dia tinggalkan, dan kita tidak dapat memahami misterinya”. Mula-mula para sarjana senang melihat karya sebesar itu, dengan nama pemilik sebelumnya, yang mereka tahu telah dipuja oleh banyak orang. 

Para ilmuwan berkata, “Tentu saja kami akan memberi tafsiran yang benar”. Tetapi, ketika mereka melihat bahwa buku itu kosong, dan hanya ada kata-kata yang tidak masuk akal bagi mereka, mereka lantas mencibir dan kemudian berteriak kepada para murid orang bijak itu, lalu mengusir mereka dengan marah. Mereka percaya bahwa mereka telah menjadi korban hoax. Masa itu adalah zaman ketika para Ilmuwan masih terbatas dan berpikiran literal. Mereka tidak dapat memikirkan sebuah buku yang dapat melakukan sesuatu, buku hanya mengatakan sesuatu.  

Para murid yang putus asa pergi untuk beristirahat di sebuah karavan, menjumpai seorang sufi, dan menceritakan kebingungan mereka. Sufi itu bertanya, “apa yang kamu pelajari dari para ilmuwan itu?”. Para murid tersebut menjawab, “Tidak ada. Mereka tidak bisa memberi tahu kami apa pun”.

Sufi itu berkata, Sebaliknya, mereka memberitahu kalian segalanya. Mereka menunjukkan bahwa kitab itu tidak untuk dipahami dengan cara yang diasumsikan oleh kalian, atau oleh mereka. Kalian mungkin berpikir bahwa mereka tidak memiliki kedalaman. Tapi Anda, pada gilirannya, juga kurang akal. Buku itu mengajarkan sesuatu melalui kejadian itu sendiri, sementara kalian tetap tidak menyadarinya.

Tetapi para murid menganggap penjelasan ini terlalu halus untuk pikiran mereka, dan satu-satunya orang yang melestarikan pengetahuan tentang kitab ini adalah pengunjung biasa di karavan tersebut, yang menyimak percakapan itu. “dan baru saja saya ceritakan kembali kepada kepada Anda, wahai Raja sekaligus sufi!” ucap sang penutur kisah. Orang asing berpakaian hijau itu pun kemudian berdiri dan berjalan pergi.  

Baca Juga  Semua Agama Memanusiakan Manusia

Raja sangat terkesan dengan cerita orang asing itu sehingga dia memerintahkan agar cerita itu ditulis dan dijilid menjadi sebuah kitab besar dan disimpan di benteng harta bendanya dan dijaga oleh orang-orang bersenjata, siang dan malam. Raja tua itu meninggal kemudian seorang penakluk barbar menghancurkan kerajaannya. 

Sambil membobol tempat penyimpanan harta kerajaan, sang penakluk barbar melihat buku itu ditempatkan di wadah yang terhormat. Ia berkata pada dirinya sendiri, “kitab ini pasti sumber kebahagiaan, kebijaksanaan, dan kemakmuran negara”. Dia berkata dengan lantang, “Biarkan kitab itu diambil dan dibacakan untukku dalam bahasa kita sendiri”. Sayangnya, penakluk ini, atas semua kekuatan fisiknya, adalah orang yang bodoh. Dia tidak bisa memahami kata-kata dalam buku itu.  

Orang barbar itu menghancurkan buku itu. Namun, penerjemahnya, yang bernama Mali, mengingat isinya. Melalui karyanya itulah ajarannya diturunkan. Mali membuka toko. Dia memajang salinan Kitab Buku, untuk dijual. Siapapun tidak ada yang diizinkan untuk melihat isinya sampai membayar dua keping emas untuk satu salinan. 

Beberapa orang mengambil pelajaran dari buku itu, dan kembali untuk belajar dengan Mali. Beberapa orang lainnya ingin agar uang mereka dikembalikan, tetapi Mali selalu berkata, “aku tidak dapat mengembalikan uang mu sampai kamu mengembalikan kepada saya apa yang telah kamu pelajari dari transaksi sebelumnya, serta buku itu sendiri.”

Beberapa orang yang lebih menyukai penampilan daripada isi batin, menyebut Mali penipu. Tapi Mali mengatakan kepada mereka, “Selama ini kalian mencari penipu, jadi kalian akan berasumsi bahwa kalian menemukannya pada siapa pun.”

Ketika Ahmad Yasawi, seorang sufi abad ke-12 dari Turki,  masih mahasiswa, dia membeli satu eksemplar Kitab dari Mali dan membayar dua keping emas. Keesokan harinya dia kembali, dan memberi Mali sepuluh keping emas lagi, dengan mengatakan, “Apa yang telah saya pelajari dari Kitab itu lebih berharga dari ini. Tetapi, karena saya tidak punya uang lagi, saya memberikan semuanya kepada anda, sebagai tanda saya menilai pelajaran ini sama dengan seluruh harta saya.”


Yasawi telah memiliki sejarah dan isi Kitab Buku yang dijilid dalam ketebalan lebih dari dua ratus halaman, yang di sampulnya tertulis, Jika ketebalan buku menentukan nilai isinya, yang ini pasti lebih tebal.‘ Karena Ahmad Yasawi, Sufi terkenal dari  Asia Tengah, kisah ini telah diriwayatkan selama lebih dari tujuh ratus tahun.

Sumber: Idries Shah, The Book of The Book (2016)                               

Selvina Adistia
Redaktur Islamramah.co. | Pegiat literasi yang memiliki latar belakang studi di bidang Ilmu al-Quran dan Tafsir. Menuangkan perhatian besar pada masalah intoleransi, ekstremisme, politisasi agama, dan penafsiran agama yang bias gender.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.