Protes Bani Umayyah atas Kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz

Dunia IslamProtes Bani Umayyah atas Kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz

Selama kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz mendapat protes keras karena memiliki gaya bersebrangan dan merugikan bagi Bani Umayyah sendiri. Bani Umayyah yang biasanya mendapat banyak keistimewaan yang melimpah, maka di masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz hak-hak prioritas tersebut dicabut. Semua dana umat dibagikan secara merata kepada yang hak, karena tidak seharusnya keluarga khalifah menikmatinya banyak kemewahan sementara rakyatnya mengalami kesulitan.

Umar bin Abdul Aziz (717-720 M) merupakan khalifah keturunan Bani Umayyah yang konon sanadnya tersambung pada Khalifah Umar bin Khattab. Sejarah mengenangnya sebagai pemimpin yang berambisi kuat menegakkan keadilan, saleh, dan bertanggung jawab dalam memegang amanah kepemimpinan. Itu sebabnya ia juga sering disebut sebagai sufi dan Umar II.

Menjadi keturunan Bani Umayyah, tentu sejak kecil Umar II mendapat banyak fasilitis sebagai keluarga khalifah. Ia menikmati kehidupan tersebut, meski di lain sisi ia juga menemukan banyak kejanggalan mengapa Umayyah memiliki tradisi mencela Ali bin Abi Thalib dan keluarga Rasulullah SAW dalam khutbah Jumat. Tidak hanya itu, Bani Umayyah benar-benar tenggelam dalam kemewahan, mengabaikan rakyat kecil, mengucilkan keturunan Bani Hasyim dan tidak memberikan santunan sebagaimana dulu pernah dilakukan di masa Khulafaur Rasyidun. Umar II merasa ada yang janggal, hingga ia mengetahui apa yang sesungguhnya dari ayahnya dan guru-gurunya.  

Meski mengetahui situasi buruk sedang terjadi, Umar II tak bisa melakukan apa-apa, tetapi tekadnya kuat untuk mengembalikan kebenaran pada tempatnya. Singkat cerita, sampai pada terpilihnya Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah, ia mulai menjalankan misinya dalam menegakkan keadilan.

Dalam buku Biografi Umar bin Abdul Aziz karya Abdurrahman Al-Syarqawi (2020), Umar II mengirimkan surat kepada para pejabat dan pembantunya di berbagai daerah yang memerintahkan agar tidak mengutamakan keluarga Amirul Mukminin sebab semua masyarakat mendapat pelayanan yang sama. Ketika perintah Amirul Mukminin dijalankan banyak kerabat Umar dari kalangan Bani Umayyah yang marah karena menyita harta dan mengembalikannya pada pemilik yang sah serta memasukannya pada kas negara.

Selain itu, paling memicu kemarahan dan kedengkian Bani Umayyah adalah kebijakan Umar II memerhatikan dan menyantuni musuh mereka. Bani Hasyim yang masukkan sebagai kelompok dzawil qurba sehingga mendapatkan bagian seperlima bagian harta fei, yang kemudian dibagikan rata kepada keturunan Bani Hasyim, baik perempuan maupun laki-laki, yang dewasa maupun yang kecil. Sementara santunan keluarga Bani Marwan dipangkas.

Protes ini meski dilayangkan secara terang-terangan kepada Khalifah. Namun, Umar II sedikitpun tidak gentar dan justru berbalik marah, mengancam dan membuat mereka ketakutan sehingga terpaksa mengikuti perintahnya. Sejak saat itu, tidak ada lagi dari Bani Marwan dan Bani Umayyah meminta hak-hak istimewa kepada Umar II.

Baca Juga  Khabib Nurmagomedov, Muslim Pertama Juara Dunia di UFC

Tak henti-hentinya Umar II berkirim surat agar titah kepada bawahannya dapat terlaksana dengan baik. Jika ada Muslim yang dirampas haknya, juga kaum dzimmi, warga bukan pribumi, maka berhak melapor dan harus dikembalikan haknya. Bahkan, ketika pemilik sudah meninggal, maka harta itu bisa dikembalikan kepada ahli warisnya.

Baca Juga  Masa Depan Indonesia Di Pundak Santri

Umar II menyadari bahwa kebijakannya ini membuat gejolak kemarahan besar bagi keluarganya. Oleh karena itu, ia bertanya kepada Maimun agar bagaimana seharusnya ia menyikapi masalah ini. Maimun menjawab agar Umar II tidak risau hatinya dan menyibukkan pikirannya dengan urusan tersebut. Karena Amirul Mukminin merupakan pasar yang hanya bisa memperdagangkan kebaikan, sementara mereka yang tidak memiliki nilai kebenaran mereka tidak bisa memperdagangkan di pasar Umar II.

Hal tersebut diafirmasi oleh putranya Abdul Malik dan Sahl saudaranya. Menegakkan keadilan memang harus bersabar dan teguh pendirian, karena tentu banyak orang yang selama ini menikmati harta bathil, pasti akan merongrong keras. Pengawasan ketat yang dilakukan Umar II terhadap administrasi negara menciptakan kondisi kestabilan di seluruh wilayah.

Sayangnya, pemimpin adil dan arif seperti Umar bin Abdul Aziz tidak dapat memimpin lebih lama, kurang lebih tiga tahun. Sebab ia meninggal di usia yang relatif muda, 38 tahun. Sepeninggalannya, Umar II tidak mewariskan apapun kepada keluarganya, karena merasa tidak berhak semua harta yang membersamainya milik umat.

Badan Umar II sangat kurus dan ringkih, karena kezuhudannya. Ia sangat takut menelan hak rakyatnya ke dalam perutnya dan sesuatu yang tak disadarinya. Alas tanah juga menjadi kesukaannya, meski beberapa kali disodorkan alas yang jauh lebih empuk. Umar II tetap menolak.

Ini kisah seorang pemimpin yang adil yang melakukan perlawanan dari akar-akar tanah. Protes yang dilayangkan Bani Umayyah tidak lain cerminan dari orang yang serakah dan tidak merasa bersalah karena memakan hak orang lain. Di manapun berada, sebaik apapun niat seseorang, barang tentu dunia ini tak lepas dari kritikan dan hujatan. Oleh karena itu, ketika diri ini merasa yakin bahwa yang diperjuangkan adalah kebenaran, maka teruslah berpegang pada prinsip. Tak luput, untuk terus berada di sekeliling orang ‘alim yang tidak duniawi agar dapat mengoreksi setiap perbuatan dan penunjuk jalan yang lebih baik.

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.