Mensifati Kebaikan dengan Memberi

KhazanahHikmahMensifati Kebaikan dengan Memberi

Cara mudah mensifati kebaikan itu dengan memberi. Siapapun yang mengkalim dirinya paling baik, bermanfaat, tetapi pada kenyataannya tidak suka memberi, tentu yang diucapkannya hanya omong kosong belaka. Memberi adalah sikap penentuan di mana posisi seseorang, karena menerima bagian dari akibat terjadinya pemberian.

Islam mengajarkan, bahwa tangan di atas lebih baik ketimbang tangan yang di bawah. Ini menjadi terusan dari hadis Nabi SAW yang mengatakan, sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Ketika seseorang memiliki kesanggupan memberi dengan harta yang dimilikinya dengan ikhlas, ia bagian dari orang yang baik. Begitupun, ketika yang diberikannya berupa jasa, pertolongan, memberi nasihat kebaikan, meski banyak juga yang mengemas kalimat indah, padahal manipulatif.

Berdasarkan hal tersebut, segala sesuatu yang dilakukan dengan konsisten maka demikian adanya kebaikan. Sebagaimana yang diungkap Gus Baha, posisi memberi jauh lebih baik ketimbang menerima, sehingga ketika Allah SWT menyifati orang baik itu sederhana, yaitu orang yang keinginannya selalu memberi.

Memberi merupakan bentuk empati kepada orang lain. Menghayati setiap kesulitan dengan memberi pertolongan dan tergerak untuk membantu. Itu sebabnya, jika ingin melihat siapa yang peduli terhadap keadaan kita, maka perhatikan siapa mereka yang selalu membersamai dan memberi banyak kebaikan untuk terus mendukung dalam setiap keadaan. Tidak hanya itu, dengan memberi kita juga dapat bercermin menilai diri, apakah kita sudah menjadi orang yang baik? Memberi sesuatu yang bersifat materi atau non materi pada setiap harinya.

Manfaat memberi tentu sangat banyak, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Tentunya merasa bahagia melihat orang lain senang karena mendapat pemberian dari kita, menumbuhkan rasa syukur, meningkatkan kepercayaan, membuat hidup lebih berwarna, dan memberi sejatinya melatih diri menjadi rendah hati. Adapun mereka yang memberi, tetapi muncul kesombongan, boleh jadi pemberiannya hanya sebatas pencitraan atau belum sampai batas beramal secara ikhlas karena Allah SWT.

Baca Juga  Doa untuk Imunitas dan Kesembuhan
Baca Juga  Mengukuhkan Pentingnya Akhlak di Tengah Banalitas Ruang Publik

Kendati demikian, menerima bukan berarti selalu buruk. Setiap pemberian harus ada yang menerima sebagai rasa penghormatan atau saling menghargai. Namun, alangkah baiknya kita melatih diri senang dalam memberi pertolongan, ucapan, apresiasi untuk membahagiakan orang lain. Semoga kita termasuk orang-orang yang suka dalam berbuat kebaikan, fastabiqul khairat yang gemar menebar kebaikan terhadap sesama manusia.

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.