Beberapa puluh tahun lamanya, Buya Syafii pernah terjerembap dalam pemikiran konservatif. Sebagai umat Muslim pada awamnya, kita melihat Islam adalah agama yang sempurna untuk menata seluruh kepentingan umat dan negara. Hal ini menjadikan Buya Syafii kekeh ingin mendirikan negara Islam di Indonesia. Namun proses studinya di Chicago, berhasil mengubah pemikirannya menjadi moderat. Cakrawala ilmu keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan telah mengetuk kebenaran yang sejati, untuk menyuarakan penolakan khilafah.

Pergulatan dua ideologi antara islamis dan nasionalis di Indonesia sudah menjadi perdebatan sejarah lama hingga kini. Histori ini tak terlepas dari jejak para tokoh pejuang kemerdekaan yang memiliki latar belakang pelural. Namun pada finalnya,  kondisi sosial-keagamaan yang homogen mendesak Indonesia meresmikan Pancasila sebagai ideologi negara. Kendati final, ketidakpuasan kelompok Muslim terhadap pemerintahan pusat dan ideologi Pancasila, kembali memicu hasrat pergerakan simpatisan khilafah mendirikan negara Islam di Tanah Air.

Dinamika sejarah pergulatan dua ideologis tersebut, turut mewarnai perjalanan hidup Ahmad Syafii Maarif atau panggilan akrabnya Buya, yang kini usia senjanya mencapai 85 tahun, mengalahkan usia kemerdekaan RI yang masih terbilang muda (75). Sebelum menjadi pemikir Muslim yang moderat dan menerima Pancasila sebagai ideologi negaranya, Buya Syafii merupakan sosok yang konservatif.

Mulanya Buya Syafii merupakan seorang pendukung negara Islam tulen, karena kala itu ia dalam orientasi priode Atens (pendukung gagasan negara Islam). Puncaknya pada tahun 1950-1970, Buya Syafii masif bergabung pada gagasan negara Islam yang utamanya merujuk pada tokoh pemikir Masyumi dan Maududi. Sebagaimana khilafah yang kini digencarkan oleh HTI atau kelompok sejenisnya, mereka tak lelah mengkalim sistem selain khilafah adalah sistem kafir.

Meski begitu, Buya Syafii seorang intelektual yang rindu kebenaran. Karena itu ia membaca buku karya Muhammad Iqbal, tetapi tidak mempengaruhi pemikirannya terhadap model negara. Sikap militannya terkait Islamic State masih menguasai akalnya. Pada kesempatannya, Buya Syafii meneruskan studi dan mendapat gelar doktornya di Universitas Chicago. Di titik keberanian ini, ketika Buya Syafii berharap agar mimpinya terlaksana, justru nasib cita-citanya mendirikan negara Islam terbuang jauh. Ia tidak lagi menjadi Muslim yang konservatif.

Kepercayaan diri Buya Syafii saat pertama kali megikuti perkuliahannya bersama tokoh neo-modernis asal Pakistan, kepada Prof. Fazlur Rahman ia melontarkan pertanyaan yang selama ini membuatnya galau dan berambisi tinggi. Singkatnya ia memohon agar Prof. Rahman memberikan seperempat ilmunya tentang Islam, untuk ia gunakan sebagai modal mendirikan Indonesia menjadi negara Islam. (Memoar Anak Kampung: 2018).

Tak ada penjelasan yang eksplisit atas jawaban Prof. Rahman hingga mengubah pemikiran Buya Syafii. Menurut buku Merawat Kewarasan Publik: Refleksi Kritis Kader Intelektual Muda Tentang Pemikiran Syafii Maarif (2018), jika dicermati berdasarkan karya-karya Prof. Rahman terkait negara Islam, maka pendapatnya al-Quran hanya mengajarkan etika dan nilai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara bagi umat manusia. Pada prinsipnya respons Prof. Rahman, al-Quran adalah petunjuk etika bagi manusia, bukan sebagai pedoman politik. Fleksibilitas yang diberi al-Quran karena sunnatullah dunia terus berevolusi, justru membantu manusia mempermudah menata institusi sesuai kondisi zamannya.

Kegigihan cita-cita Buya Syafii yang ingin mewujudkan Indonesia sebagai negara Islam, akhirnya bisa ditaklukan oleh penjelasan Prof. Rahman. Seusai itu, Buya Syafii mengungkapkan tak ada penyesalan bagi dirinya yang dulu bersikap radikal dan sangat konservatif karena menyuarakan negara Islam adalah ketulusannya sebagai umat yang membela agamanya.

Kini Buya Syafii tak lagi ditemukan sebagai Muslim yang berpenampilan konservatif, melainkan Muslim moderat. Penolak Buya Syafii terhadap ideologi Islam, disuarakan lantang dalam setiap karya dan dakwahnya. Tak heran orientalis asal Belanda, Martin van Bruinessen, menyebut Buya Syafii sebagai  Indonesia’s last remaining public wise old man (publik Indonesia yang tersisa sebagai orang tua yang bijak) dan ‘unique paragon of morral leadership’ (teladan unik kepemimpinan moral)

Analogi favorit Buya Syafii adalah kutipannya dari Bung Hatta tentang filsafat garam dan gincu, dalam rangka mendidik umat Islam agar lebih bijaksana dalam memperjuangkan cita-cita politik Islam. Islam itu tidak sekaku, seperti gincu yang mementingkan tampilan kasat matanya saja tapi tak ada rasa. Sedangkan garam, meski ia tak tampil tetapi ia tetap bisa larut dan mampu memberikan rasa substansi keislaman.

Meskipun mayoritas bangsa Indonesia adalah Muslim. Akan tetapi pada saat yang bersamaan, alasan yang tak dapat terbantahkan bagi Buya Syafii dan semua bangsa Indonesia untuk menolak khilafah karena bangsa Indonesia adalah bangsa yang heterogen, multikultural dan multireligius. Sebab itu, tak ada salahnya para simpatisan khilafah mendiskusikan hal ini dengan Buya Syafii, demi mendapatkan pencerahan melalui kisah pengalamannya dari Muslim yang konservatif menuju Islam moderat.

%d blogger menyukai ini: