Pentingnya Menghormati Orang Berilmu

KolomPentingnya Menghormati Orang Berilmu

Pada dasarnya semua orang harus kita hormati. Pembicaraan khusus mengenai penghormatan pada para ahli ilmu (ulama) adalah karena mereka memiliki kedudukan dan keutamaan tertentu di sisi Allah dan utusan-Nya. Jika Allah dan Rasulullah saja memuliakan ulama, kita pun mesti demikian adanya.

Firman pertama Allah yang memerintahkan kita untuk menggali ilmu merupakan isyarat utama yang menunjukkan besarnya keistimewaan dari aktivitas belajar sekaligus kemuliaan orang yang menuntut ilmu. Al-Quran pun secara gamblang meninggikan derajat orang yang berilmu (QS. Al-Mujadalah [58]: 11). Keberadaan ulama adalah keberkahan yang membawa maslahat bagi banyak orang. Di tangan merekalah terdapat tongkat estafet ajaran para Nabi.

Sayangnya, orang kini mudah sekali mencaci maki para ahli ilmu disebabkan pemahaman yang tak sejalan atau karena kesalahan tertentu yang dilakukan ulama. Perbedaan penafsiran adalah hal yang kaprah dalam dunia intelektual. Demikian halnya dengan kesalahan, kita semua berpotensi salah termasuk ulama.

Persoalannya adalah sikap sejumlah pihak yang membabi buta dalam merespons perbedaan pendapat atau kekeliruan tertentu. Dengan enteng mereka melontarkan hinaan, laknat, bahkan menganggap pihak yang berbeda sebagai musuh. Seenaknya saja menghakimi hingga adab tak lagi diperhatikan. Semestinya perbedaan atau kesalahan dihadapi dengan kritik sehat serta nasihat yang arif. Dan apabila tak mengerti duduk perkara, maka lebih baik diam daripada memperkeruh suasana.

Orang berilmu adalah golongan yang dicintai Allah. Dia pun jelas menegaskan bahwa tidaklah sama antara orang berilmu dan tidak berilmu (QS. Az-Zumar [39]: 9). Imam Ar-Razi dalam kitab tafsirnya Mafatih al-Ghaib mengatakan, ayat ini menunjukkan peringatan keras akan keutamaan ilmu. Ia menggambarkan orang tak berilmu sebagai seseorang yang tak mendayagunakan akal dan hatinya sekalipun Allah telah mendatangkan ilmu pada mereka.

Karenanya, masuk akal jika al-Quran kerap menyindir orang yang tak mau berpikir atau tak menjalankan hal yang telah diketahuinya. Seperti halnya ayat yang mengatakan, Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir? (QS. Al-Baqarah [2]: 44).

QS. Ali Imran [3]: 18 berbunyi, Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia, (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. Ayat ini menunjukkan status unggul para ahli ilmu. Kalau bukan karena kemuliaan dan keutamaan ulama, Allah tak akan menyandingkannya dengan nama-Nya dan nama malaikat. Ulama adalah hamba Allah yang dianugerahi perasaan takut yang disertai rasa takjub pada-Nya.

Ilmu adalah penerang jalan. Tuas untuk mengendalikan diri dalam kehidupan. Banyak sekali hadis Nabi yang menerangkan keutamaan orang berilmu. Orang berilmu adalah orang yang dikehendaki kebaikan oleh Allah (HR. Bukhari-Muslim). Di lain riwayat, dikatakan bahwa Orang yang berilmu benar-benar dimintakan ampun oleh penghuni langit dan bumi, bahkan oleh ikan-ikan yang berada di dalam air (HR. Abu Daud-Tirmidzi).

Baca Juga  Ramadhan Bulan Syahrul Ukhuwah

Seorang ahli ilmu termasuk golongan yang terhindar dari laknat Allah. Sebagaimana dinyatakan dalam riwayat, Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu dilaknat dan dilaknat pula apa yang ada di dalamnya, kecuali zikir kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya, seorang alim, dan seorang yang menuntut ilmu (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Baca Juga  Varian Infiltrasi Politik Kekerasan

Menghormati ulama adalah ciri Muslim yang benar-benar mengikuti sunnah Nabi dan para salaf al-shalih. Sikap saling menghargai sekalipun berbeda pandangan adalah tradisi dari akhlak para ulama terdahulu. Eksistensi empat mazhab besar fikih adalah contoh nyata dari sikap saling menghormati ahli ilmu. Perbedaan di antara imam mazhab ini tidak menjadikan mereka saling membenci. Sebagai contoh ketika Imam Malik dan Imam Syafi’i membahas tentang rizki. Sekalipun berlainan pendapat dengan gurunya, Imam Syafi’i tetap hormat pada Imam Malik. Sang guru juga tidak marah saat pendapatnya disanggah oleh Imam Syafi’i.

Penghormatan pada ulama dapat dilakukan dengan banyak cara, seperti mendoakan, bertanya, atau mengunjungi mereka. Menyebar ilmu yang diperoleh dari mereka, meminta klarifikasi jika ada hal yang tidak jelas, menutup aib mereka, dan jangan menghina hanya karena tidak sepakat dengan pendapat mereka atau karena kesalahan yang mereka lakukan. Dari sikap hormat pada ulama, diharapkan keberkahan ilmu dan ahlinya bisa sampai pada kita. Tanpa penghormatan, bagaimana mungkin kita akan menyerap wawasan dari mereka.

Kedudukan para ahli ilmu sedemikian utama. Kontribusi mereka dalam memberikan pengajaran juga tak terbantahkan. Ibnu Qayyim dalam kitabnya I’lam al-Muwaqqi’in ‘An Rabbi al-‘Alamin mengatakan, “Para ulama, mereka di dunia seperti kedudukan bintang di langit. Orang-orang yang bingung dalam kegelapan, mengambil petunjuk dari mereka. Dan butuhnya manusia terhadap mereka lebih besar daripada kebutuhan mereka atas makanan dan minuman.”

Orang yang seenaknya menghina dan menghakimi itu congkak. Biasanya mereka adalah orang yang merasa paling tahu dan paling benar padahal sebenarnya tak mengerti, sehingga menolak mentah-mentah pendapat yang berbeda. Nabi pernah mengatakan, Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan menghinakan orang lain (HR. Muslim).

Jangan sampai kita dibutakan oleh praduga dan rasa benci yang membuat kita melecehkan orang-orang berilmu. Mengkritisi atau mengingatkan ulama bukan hal yang dilarang selagi dilakukan secara arif dan santun. Ulama adalah ahli waris para Nabi yang mendidik dan mengarahkan umat manusia. Menghormati para ahli ilmu adalah wujud dari ketundukan dan cinta kita pada Allah serta Rasulullah SAW. Wallahu a’lam. []

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.