Awal Berkembangnya Pemalsuan Hadis

KhazanahHadisAwal Berkembangnya Pemalsuan Hadis

Dalam beragama, hadis menjadi sumber utama umat Islam setelah al-Quran. Namun, dari sedemikian hadis yang beredar tak jarang masyarakat enggan mengoreksi dan menggunakannya untuk landasan beragama, padahal boleh jadi hadis tersebut palsu. Oleh karena itu, mari lebih berhat-hati lagi dalam menggunakan hadis supaya kita tidak menjadi korban dan termasuk orang-orang yang berdusta atas nama Nabi SAW

Pada masa Nabi SAW, tak sedikit orang-orang memanfaatkan popularitasnya untuk meriwayatkan hadis palsu. Entah karena kedengkian atau sekadar nebeng nama agar ikut populer, bahkan Nabi palsu pun ada pada masa beliau, yakni Musailamah al-Kazab. Sepeninggalan beliau pun atau pada masa sahabat hadis palsu terus berkembang, bahkan lebih pesat dari yang masyarakat awam kira. Narasi hadis palsu tidak melulu sentimen, melainkan ada pula yang terlalu melebih-lebihkan sesuatu, misal tentang pengkultusan para sahabat terhindar sebagai orang yang adil pun ditemukan banyak kepalsuan.

Pemalsuan hadis-hadis ini sangat merugikan dan berbahaya bagi umat Islam, sebab setiap kalimat beliau menjadi bagian dari ritual syariat. Itu sebabnya, mengapa penulusran hadis-hadis palsu terus diungkap yaitu demi menjernihkan kembali ajaran Islam yang sesungguhnya.

Mengutip Abu Rayyah dalam buku Genealogi Hadis Politis al-Mu’awiyat dalam Kajian Islam Ilmiah  (2018), keterlambatan penulisan hadis hingga akhir abad 1 H mengakibatkan derasnya aliran hadis palsu hingga menggenangi seluruh wilayah kehidupan umat Islam. Terkait hadis palsu tersebut, semua sarjana hadis, baik Barat maupun Islam, pendukung atau penolak ‘adalat ash-shabah, sepakat bahwa konflik politik menjadi motif utamanya.

Sebagaimana yang diketahui, penulisan hadis dimulai sejak masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Bani Umayyah saat menduduki jabatan khalifah (717-720 M). Pembukuan tersebut dilakukan karena faktor kekhawatiran khalifah dengan semakin berkurangnya penghafal hadis yang meninggal dan sudah berpencar ke berbagai wilayah Islam sekaligus pemalsuan hadis pun mulai berkembang. Meski begitu penelusuran hadis-hadis masih tetap digencarkan untuk memfilter keorisinilan hadis, terlebih pada masa Tabi’in bahkan hingga kini.

Baca Juga  Meneladani Syaikhona Kholil Bangkalan
Baca Juga  KH. Wahab Hasbullah, Sang Ulama Nasionalis

Dalam Tafsir al-Qurtubi, kisah Imam Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in yang sedang shalat di masjid lantas mendengar ada yang membacakan riwayat hadis: Mengabarkan kepadaku Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in , dari Abdur Razaq, Ma’mar, Qatadah, dan dari Anas bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Barangsiapa yang menyebut la ilaha ila Allah maka dari setiap kalimat itu Allah ciptakan burung yang paruhnya emas dan bulunya marjan. 

Imam Ahmad dan Yahya yang mendengar namanya di sebut, langsung mendatangi orang yang membacakan hadis tersebut dan menyangkal kalau dirinya tidak pernah meriwayatkan hadis demikian. Sayangnya, orang ini menyangkal kemudian mengatakan kalau dirinya telah meriwayatkan sejumlah hadis dari 17 orang lain bernama Ahmad bin Hanbal. Ini menandakan kalau hoaks hadis memang ada sejak dulu, hingga berimbas pada Muslim masa kini.

Oleh karena itu, untuk menghindari hadis palsu di masa digital saat ini kita lebih baik berhati-hati dalam penggunaan hadis. Tidak terkecoh dengan berseliwerannya hadis-hadis di ruang digital. Namun, hadis yang terdapat dalam ruang akademis misal jurnal, buku yang kreadibilitasnya masih memungkinkan. Adanya klasifikasi hadis sahih, hasan, da’if, dan maudu’ ini menjadi perhatian bagi masyarakat agar lebih berhati-hati dalam penggunaan hadis dan sebagai pertimbangan untuk pengimpletasian dalam syariat.

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.