Mengasihi Kerabat Non-Muslim

KhazanahHadisMengasihi Kerabat Non-Muslim

Cinta dan Kasih sayang adalah metode paling utama dalam mengajarkan Islam. Nabi SAW dan para sahabatnya yang setia menunjukkan cinta yang begitu luas sebagai cara untuk mendekatkan orang-orang pada kebenaran Islam. Tentu saja, karakter baik, ketulusan, dan perilaku penuh kasih-sayang, selalu dapat memenangkan hati siapapun, bahkan orang-orang yang keras sekalipun. 

Setiap Nabi SAW memasuki sebuah kota, beliau akan berdoa kepada Allah SWT agar menjadikan beliau dan para sahabatnya dicintai dan disukai penduduknya, meskipun mereka kafir dan belum beriman. Itulah modal sosial yang penting untuk membawa penduduk tersebut lebih dekat pada Islam. Ibnu Umar mengisahkan bahwa ketika Nabi SAW melihat sebuah kota yang ingin beliau masuki, beliau akan berdoa sebanyak tiga kali, Ya Allah, berkahilah kami di dalamnya. Ya Allah, berilah kami buah-buahnya, jadikanlah kami orang-orang yang dicintai oleh penduduknya, dan jadikanlah orang-orang yang saleh dari umatnya dicintai oleh kami (HR. Tabarani)

Dalam Islam, tidak ada larangan untuk menunjukkan kasih sayang kepada non-Muslim yang tidak memusuhi kita. Kita dianjurkan untuk berbicara kata-kata baik kepada mereka, memberi mereka hadiah, bergaul selayaknya teman baik, selama kita tidak mengungkapkan cinta untuk perbuatan yang bertentangan dengan Islam. Hubungan saling mencintai antar sesama keluarga dan kerabat adalah jenis ‘cinta alami’ yang wajar dan dialami semua manusia, seperti cinta dengan orang tua, rekan kerja, teman, dan sesama manusia. 

Ada beberapa contoh dari kehidupan Nabi SAW tentang cinta beliau untuk keluarga, kerabat, dan anggota masyarakat yang non-Muslim. Contoh yang paling jelas adalah hubungan beliau dengan pamannya, Abu Thalib. Ia adalah sosok orang tua yang sangat mencintai Nabi SAW, membesarkannya dan melindunginya, tetapi belum menyatakan keislamannya. Dalam konteks kasih sayang Nabi SAW yang begitu besar bagi pamannya itu, beliau sangat mengharapkan dapat memberikan kebaikan dan hidayah Islam pada Abu Thalib. Hingga turunlah sebuah ayat Al-Quran, Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya... (28:56).

Hubungan kasih sayang antara Abu Thalib dan Nabi SAW adalah cinta alami yang tumbuh dari hubungan keluarga. Hal itu menunjukkan bahwa kita diperbolehkan untuk menunjukkan kasih sayang kepada non-Muslim, terutama yang berada di sekitar kita, seperti kerabat, teman, tetangga, atau keluarga, yang berhubungan baik dengan kita. Sungguh tidak adil membalas kebaikan keluarga yang ditunjukkan saudara non-Muslim dengan permusuhan atau ketidakpedulian. 

Dalam sebuah ayat lain, Nabi SAW diperintahkan untuk menyampaikan risalah Islam kepada kaumnya, tanpa meminta imbalan duniawi. Adapun satu hal yang harus beliau kedepankan adalah mempertahankan ikatan kasih sayang dari rasa kekeluargaan. Katakanlah, Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan (QS. Asy-Syura: 23)

Menunjukkan kasih sayang pada non-Muslim dengan cara-cara yang halal , tentu tidak diragukan lagi kebolehannya. Seperti memberi hadiah, memperlakukan mereka dengan baik, dan melindunginya. Bahkan jika cinta itu bertepuk sebelah tangan, kita tetap dapat menunjukkan dan memberikan kasih sayang kita semata-mata untuk menjaga persaudaraan dan kekerabatan. Larangan menunjukkan kasih sayang kepada orang-orang kafir hanya berlaku bagi yang memusuhi Islam atau yang melakukan tindakan penindasan terhadap orang lain, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Mumtahanah ayat 1.

Baca Juga  Mengenal Abu al-‘Arab al-Tamimi, Ulama Hadis Tunisia

Islam mengajarkan kita untuk membuat perbedaan yang jelas antara non-Muslim yang memusuhi dan yang damai. Hubungan saling berkasih sayang kepada orang-orang kafir yang damai diperbolehkan dan tidak tercela sedikit pun, selama kita menghargai batasan-batasan yang telah ditetapkan dalam Islam.

Nabi SAW selalu mengekspresikan niat baiknya terhadap semua makhluk, beriman dan tidak beriman. Orang-orang beriman harus memiliki keinginan ini untuk membimbing dan memberi manfaat bagi semua oran, terlepas dari agama atau perbuatan mereka. Anas bin Malik RA meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, Seorang hamba tidak akan mencapai hakikat iman sampai dia mencintai kebaikan untuk manusia seperti dia mencintai kebaikan untuk dirinya sendiri. (HR. Ibnu Hibban)

Nabi SAW mengajarkan untuk mencintai kebaikan bagi semua orang. Ini adalah cinta tanpa syarat ‘khusus anggota Muslim’. Kita diajarkan untuk merealisasikan kebaikan agar menjangkau semua manusia, terlepas dari identitas mereka yang menerima kebaikan tersebut. Persaudaraan universal mencakup semua umat manusia. Seorang Muslim harus menyukai kebaikan atas saudaranya, orang yang tidak beriman sekalipun. Untuk alasan inilah, kita dianjurkan untuk berdoa agar mereka dibimbing untuk mendapatkan hidayah, karena Islam adalah kebaikan bagi diri kita dan kita berharap kebaikan itu juga sampai kepada orang yang belum menemukannya. 

Tidak heran, salah satu bentuk terbaik dari keimanan seseorang adalah mencintai kebaikan bagi orang-orang sama seperti dia mencintai kebaikan bagi dirinya sendiri, dan membenci keburukan bagi orang lain sama seperti dia membenci keburukan untuk diri sendiri. 

Sebagai Muslim, kita harus membersihkan hati dari segala kedengkian, niat buruk, atau keinginan untuk menyakiti orang lain, apakah itu terhadap orang-orang beriman atau tidak. Ini adalah ajaran Nabi SAW dalam menyucikan jiwa dari penyakit spiritual, terutama untuk mencapai hati yang sehat (salamat al-sadr atau al-qalb al-salim). Seorang mukmin seharusnya tidak memiliki kebencian terhadap siapapun. Sebaliknya, kita dianjurkan untuk menciptakan lingkungan yang damai dan penuh kasih seluas mungkin dengan memberikan peran yang baik dan mulia. Interaksi positif inilah yang akhirnya dapat menjadi cara yang sangat efektif untuk membagikan keindahan Islam dengan keluarga dan tetangga non-Muslim kita, sehingga menjadi pintu hidayah-Nya.

Intinya, hubungan timbal balik dari kasih sayang dan kebaikan dapat diterapkan tanpa didasarkan pada identitas keyakinan seseorang. Cinta yang murni karena Allah, adalah cinta terhadap terwujudnya pesan, bimbingan, dan rahmat-Nya di bumi. Tidak diragukan lagi, cinta adalah dasar yang kuat dari agama-Nya dan jalan suci para nabi-Nya.

Selvina Adistia
Redaktur Islamramah.co. | Pegiat literasi yang memiliki latar belakang studi di bidang Ilmu al-Quran dan Tafsir. Menuangkan perhatian besar pada masalah intoleransi, ekstremisme, politisasi agama, dan penafsiran agama yang bias gender.
Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.