Menyingkap Makna Membaca Al-Quran dengan Tartil

RecommendedMenyingkap Makna Membaca Al-Quran dengan Tartil

وَرَتِّلِ الۡقُرۡاٰنَ تَرۡتِيۡلًا  “Bacalah al-Quran itu dengan perlahan-lahan” (QS. Al-Muzammil: 4)

Salah satu pesan al-Quran sendiri agar manusia bisa memahaminya, yakni membaca dengan tartil. Tidak dianjurkan membaca secara terburu-buru, karena tujuan adanya al-Quran dihadirkan tidak lain sebagai petunjuk bagi manusia.

Sebuah pesan atau petunjuk akan disalahpahami jika tidak diperhatikan dengan seksama. Al-Quran yang memuat kalam Allah SWT mengandung pesan yang berat, Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu (QS. Al-Muzammil: 5). Itu sebabnya, mengapa tata bahasa al-Quran dikemas sangat indah dan sastra yang tinggi agar perkataan yang berat tadi terasa ringan, baik untuk dipahami maupun diamalkan sekaligus untuk menarik perhatian pembacanya.

Dalam riwayat hadis oleh Al-Bukhari, ada ditanyakan kepada Anas bin Malik tentang bagaimana cara Nabi SAW membaca al-Quran? Lalu Anas memberi keterangan bahwa Nabi SAW membaca al-Quran dengan suara tenang panjang, tidak tergesa-gesa. Anas membuat misal kalau beliau membaca dengan panjang, Ar Rahman dengan panjang dan Arrahim dengan panjang pula. Tafsir Al-Azhar, Hamka menyatakan itulah contoh teladan dari Rasulullah SAW di dalam hal membaca al-Quran. Terlebih beliau anjurkan supaya dilagukan membacanya. Bahkan beliau menyuruh membaca dengan perasaan sedih, seakan-akan hendak menangis supaya lebih masuk dalam jiwa.

Dikatakan dalam Fathul Bayan, yang dimaksud tartil ialah menghadirkan hati ketika membaca. Tidak hanya sekadar mengeluarkan huruf-huruf dari tenggorokan dengan mengerutkan muka, mulut dan irama nyanyian, sebagaimana biasa dilakukan oleh para qari zaman sekarang dari penduduk negeri ini, Makkah al-Mukarramah dan negeri lain-lain.

Menurut Ahmad Fathoni dalam buku Metode Praktis Tahsin Al-Quran Metode Maisura (2016), bahwa perintah membaca al-Quran harus dengan tartil yang benar-benar berkualitas. Senada dengan Ali bin Abi Thalib yaitu, membaguskan bacaan huruf-huruf Quran disertai dengan pemahaman waqaf. Kemuliaan al-Quran mengimplikasikan tidak bisa dibaca secara asal, melainkan ada tuntunan atau kaidah yang harus diikuti untuk cara membacanya supaya menyeragamkan bacaan dan tidak mengubah arti pesan yang Maha Agung.

Baca Juga  Seorang Wahabi Gagal Membunuh Abuya
Baca Juga  Seorang Wahabi Gagal Membunuh Abuya

Demikian yang dimaksud membaca dengan tartil tentu tak lepas dengan pengetahuan ilmu tajwid dan munasabah terhadap al-Quran. Pahala membaca al-Quran itu tinggi, karena mengandung pesan yang berat. Berat untuk dipahami dan diamalkan bagi orang awam, begitupun Rasulullah SAW ketika menyampaikan risalahnya kepada umat dan orang-orang kafir Quraisy. Pesan-pesan al-Quran dapat tersampaikan dengan baik bagi mereka yang memang memiliki cahaya keilmuan dan hati yang senantiasa mendapat ridha dari Allah SWT.

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.