Islam adalah Cinta

KolomIslam adalah Cinta

Gempuran ideologi transnasional kelompok ekstrem, telah banyak mengambil peran dalam mengesankan Islam sebagai agama yang keras, kasar, dan tanpa kompromi. Bagaimana tidak? Kelompok tersebut, entah karena kesalahpahaman dalam memahami teks agama, ataupun karena penyalahpahaman yang disengaja, telah mereduksi makna dari jihad. Mereka mengaburkan fakta sejarah serta penafisiran yang luas dari para ulama mengenai terma tersebut, sehingga muncul pemahaman baru tentang jihad, yang celakanya ditelan mentah-mentah oleh sebagian masyarakat kita. Hal ini adalah ancaman serius, baik bagi citra Islam maupun bagi keutuhan bangsa ini.

Untuk menyikapinya, tentu kita perlu berupaya ‘membela’ Islam, sebagai perwujudan rasa cinta kita terhadapnya. Membela, tentu tidak harus ditempuh dengan aksi heroik dalam medan peperangan. Sederhananya, kita perlu menarasikan secara masif dan berulang, bahwa Islam adalah agama rahmat bagi seluruh alam, yang mana inti ajarannya adalah cinta. Kita akan senantiasa berpikir ulang dan mencari tahu jika ada wacana ataupun fakta yang tidak sejalan dengan identitas utama Islam.

Berangkat dari hal paling dasar, bahwa di antara makna ‘Islam’ sendiri adalah rasa aman dan perdamaian. Ibarat produk, tagline dari Islam adalah kedamaian. Maka dari itu, sangat tidak relevan, jika Islam sebagai suatu ajaran samawi disebut sebagai agama yang keranjingan dengan pertumpahan darah.

Selanjutnya, nuansa cinta dalam Islam terasa melalui sifat Allah SWT yang terekam di al-Quran. Melalui lafaz basmalah, Allah SWT mengenalkan diri-Nya dengan sifat al-rahman dan al-rahim, yang secara eksplisit menggambarkan dua karakter utama yang mendominasi Dzat-Nya. Kita semua tahu, setiap awal surat dalam al-Quran diawali dengan lafaz tersebut (kecuali surat al-Taubah), yang secara otomastis kita baca setiap mengawali bacaan al-Quran. Hal itu menunjukkan bahwa Allah SWT selalu ingin dikenal dengan identitas dasar berupa sifat jamaliyah-Nya, karakter pengasih-Nya ke seluruh makhluk, baik yang mengimani-Nya maupun tidak.

Tidak hanya sampai di situ, aura Islam sebagai agama cinta juga terpancar dari pengutusan Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa risalah agung. Beliau adalah representasi dari Islam yang merupakan penutur kedamaian. Laku dan akhlaknya sejalan dengan al-Quran, yang mana hampir 90% ruh kandungannya adalah kedamaian dan cinta, baru selebihnya menyoal seputar hukum.

Baca Juga  Bung Karno dan Cita-Cita Kebangsaan

Sejarah menceritakan begitu banyak gambaran mulianya akhlak Rasulullah SAW. Seperti kisah hijrahnya Nabi Muhammad SAW ke Thaif. Beliau mengalami penolakan keras dari penduduk setempat atas dakwahnya, bahkan kekerasan fisik juga beliau alami. Bukan sikap reaktif yang Rasulullah SAW tunjukkan. Beliau juga enggan memakai ‘kartu AS’ yang ditawarkan Malaikat Jibril untuk melumpuhkan penduduk Thaif karena sikap buruk mereka kepada Rasulullah SAW, yakni dengan dilemparkannya gunung kepada mereka. Beliau SAW justru mendoakan kebaikan agar keturunan mereka kelak diliputi cinta dan berkenan memeluk Islam. Jika bukan karena cinta, maka terlemparlah sudah gunung itu.

Baca Juga  Ngaji Al-Muqaddimah: Sebuah Pengantar Singkat

Beralih kepada cerita asal-muasal primordial dari penciptaan alam semesta ini. Disebutkan dalam suatu hadis qudsi yang sering diriwayatkan oleh para sufi, bahwa Allah SWT berfirman, Dulu Aku hanya khazanah yang tersembunyi (kanzun makhfiy). Aku rindu dikenali. Maka Aku ciptakan makhluk agar aku diketahui. Hadis ini bukan berarti Allah SWT butuh makhluk atau yang lain.

Namun bisa dibilang, di antara alasan penciptaan semesta raya ini adalah karena cinta dan kerinduan, yang mana rindu akan hadir jika ada rasa cinta. Maka dari itu, cinta sejatinya selalu ada di setiap dimensi ruang dan waktu di alam ini dan menjadi ikatan dasar yang menghubungkan semua unsur penciptaan. Allah SWT menurunkan agama sebagai pemandu hamba-Nya untuk beribadah sebagai ekspresi kecintaan makhluk pada Khaliknya.

Berbagai instrumen yang terkait dengan Islam nyatanya selalu akrab dengan ajaran kasih sayang. Hal ini menjadi bukti yang tidak terbantahkan, bahwa misi ajaran Islam tak lain adalah mewujudkan kasih sayang dan keamanan, serta melanggengkan kedamaian di antara semua makhluk. 

Melalui pembacaan yang terbuka dan teliti terhadap al-Quran dan sejarah, tidak sulit bagi kita untuk memahami, bahwa jihad dalam bentuk perang dalam Islam, adalah sekadar legitimasi final jika ada serangan atau penindasan, di mana jalan penyelesaian secara damai sudah sama sekali tertutup. Dari sini semakin terang, bahwa bukan kekerasan ataupun penindasan yang Islam ajarkan. Namun sebaliknya, semua aspek dan dimensi dalam Islam justru kental dengan ajaran cinta kasih. Wallahu a’lam.

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.