Islam Nusantara Tidak Anti-Arab

KhazanahIslam Nusantara Tidak Anti-Arab

Memaknai Islam Nusantara sebagai anti-Arab adalah sebuah kegagalan paham. Tuduhan yang khususnya ditunjukkan pada warga Nahdliyyin atau tradisionalis tersebut diakibatkan karena lahirnya diskursus Islam Nusantara dan masifnya wacana polemik Arabisasi. Dengan ini mereka berceloteh, orang yang anti-Arab maka barang tentu ketika wafatnya akan dikuburkan dengan kain batik, bukan kain kafan putih. Meskipun tuduhan tak berdasar itu mudah ditepis, tetapi persoalan demikian harus direspons untuk menghindari misinterpretasi yang terus berkelanjutan kalau Islam Nusantara itu tidak anti-Arab.

Penggunaan istilah anti-Arab yang ditunjukkan pada warga Nahdliyin merupakan kerancuan pertama yang kasat mata. Sebab selama ini, antara Islam yang digaungkan di Indonesia tidak pernah memblokade dengan budaya luar. Adapun kekhawatiran pada Arabisasi juga berlaku dengan Westernisasi. Keduanya memiliki dampak yang buruk, jika kita sampai melupakan identitas diri sebagai bangsa Indonesia, karena pemujaan yang berlebihan terhadap budaya yang bernuansa ke Arab-araban dan ke Barat-baratan.

Mungkin karena Arabisasi kerap diidentikkan dengan religiusitas oleh kelompok tertentu. Oleh karenanya, ia mendapat penegasan yang signifikan agar tidak mencampuradukkan antara budaya Arab dengan keberagamaan umat Islam. Maka dari itu, yang melatarbelakangi lahirnya Islam Nusantara, yakni tidak lain untuk menanggapi maraknya keberagamaan yang memaksakan pada konsep Arabisasi.

Mengutip Nadirsyah Hosen dalam bukunya Ngaji Fikih (2020), Islam Nusantara tidak menabrak syariat, tetapi mengisi aplikasi penerapan syariat dengan mengakomodasi budaya. Dalam bahasa ushul al-fiqh, ini disebut dengan al-‘adah muhakkamah (adat kebiasaan dijadikan panduan menetapkan hukum). Kaidah-kaidah syariat oleh ulama Nusantara sudah dipelajari untuk bagaimana diaplikasikan di Indonesia.

Kemudian adanya fakta kalau Islam Nusantara tidak anti-Arab juga jelas dibuktikan dengan kitab-kitab yang dikaji para santri. Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari sebagai penggagas hubbul wathan minal iman, mencintai Tanah Air sebagian dari iman, mengarang kitab yang bertuliskan Arab. Kiai Said Aqil Siradj sebagai pencetus Islam Nusantara sendiri pun, ia menempuh pendidikan di Universitas King Abdul Aziz dan Ummul Qurra’ Mekkah. Kiai Said bahkan memotivasi para pelajar, silakan kepada para santri untuk belajar di Arab Saudi atau Timur Tengah, tetapi jangan bawa budayanya, sebab budaya kita lebih unggul ketimbang budaya di sana.

Baca Juga  Perlunya Menanamkan Toleransi Sejak Dini

Selain itu, dari pihak Nahdliyin tidak pernah memfatwakan yang shalatnya sah hanya berlaku pada mereka yang pakai sarung, kokoh, dan mukenah saja. Sedangkan, mereka yang shalatnya memakai gamis, berjenggot, bersorban shalatnya tidak sah. Keduanya, mendapat porsi hukum yang sama sahnya, selagi masih menutupi aurat dan mengikuti ketentuan-ketentuan sesuai koridor dalam syariat.

Baca Juga  Kiai Saiq Aqil Siroj: Budaya Kita Lebih Baik daripada Budaya Arab

Untuk contoh lebih konkritnya, jika Islam Nusantara adalah anti-Arab, maka sepatutnya mengikuti jejak sekularisasi Turki, seperti yang dipelopori oleh Mustafa Kemal Ataturk. Dalam buku Turki Revolusi Tak Pernah Henti (2018) buah karya Trias Kuncahyono, Turki di bawah kepemimpinan Mustafa Kemal Ataturk (presiden 1923-1928), memulai proses Turkification dan Westernization secara komprehensif, dan sekularisasi yang mengubah bahasa, sejarah, agama, dan politik. Penggunaan bahasa Turki dituliskan dalam alfabet latin menggantikan Arab dan sebagainya.

Klimaksnya, pada tahun 1932 azan yang berbahasa Arab diganti dengan bahasa Turki yang mendapat kritik keras Muslim Turki karena kehilangan segala yang bernafaskan Islam. Seiring berakhirnya kekuasan Kemalisme pada tahun 1950 azan dikembalikan pada bahasa Arab. Demikian sejarah di atas merupakan anti-Arab yang sebenarnya. Sayangnya, sedikitpun dari contoh tersebut tidak ada yang menunjukkan kesamaan antara Islam Nusantara dengan sekularisasi Kemalisme.

Dari sini dapat dibuktikan, kalau ulama Nusantara itu proporsional, lentur, fleksibel, tetapi juga lurus. Dalam bahasa lain, NU itu tawazun, tasamuh, tawasuth, dan i’tidal. Tidak dipersoalkan juga, apabila ada ungkapan-ungkapan yang berbahasa arab, misal ukhti-akhi, umi-abi, dan lainnya. Namun, beda cerita ketika setiap yang bernafaskan budaya Arab orang-orang menilai hal tersebut diklaim sebagai barometer kesalehan.

Walhasil, Islam Nusantara bukan sekadar tidak berbenturan dengan Arab, melainkan dapat juga berbaur dengan budaya lain yang sekiranya hal tersebut memuat kemaslahatan dan selaras dengan nilai-nilai Islam, utamanya tidak mengikis apa yang menjadi tradisi lokal, maka pengaruh tersebut akan diadopsi secara proporsional.

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.