Syekh Yusri Rusydi: Arif Menyikapi Perempuan Tak Berhijab

BeritaSyekh Yusri Rusydi: Arif Menyikapi Perempuan Tak Berhijab

Perempuan dan jilbab adalah perbincangan yang selalu nyaring bergulir. Muslimah yang tak berhijab tidak jarang mendapati stigma karena dianggap abai pada tuntutan agama. Bahkan, ada yang sedemikian rupa memfatwakan haram, dosa besar, sesat, dan neraka bagi perempuan yang membuka rambutnya di hadapan orang asing. Pernyataan demikian tentu terasa sangat memojokkan, sebab tak menampilkan empati dalam keberagamaan.

Syekh Yusri, ulama kenamaan Mesir ini, mengkritisi fatwa bernada keras demikian. Ia menyatakan kekecewaannya pada fatwa yang tak meletakkan hukum pada porsi semestinya, antara larangan berdosa kecil dengan larangan berimplikasi dosa besar. Di samping itu, fatwa demikian terkesan mereduksi sifat Maha Kasih Allah pada hamba-Nya.

Dalam kanal YouTube Sanad Media, Syekh Yusri menjelaskan, “Hukum tak berhijab di hadapan yang bukan mahram adalah dosa kecil, bukan termasuk dosa besar. Maksudnya hanya dengan shalat, Allah akan mengampuninya. Ucapkan subhanallah, Allah akan mengampuni. Sebab dosa-dosa kecil akan dilebur dengan bertasbih dan berzikir, dengan wudhu ke wudhu, shalat ke shalat, dan segala sesuatu yang baik akan melebur dosa kecil.”

Uraian ini sejalan dengan firman Allah SWT sekaligus sabda Nabi. QS. Hud [11]: 114 berbunyi, “Dan dirikanlah shalat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang yang selalu mengingat (Allah).”

Menanggapi ayat ini, Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam Tafsir al-Wajiz mengafirmasi, bahwa mengerjakan kebaikan yang salah satunya shalat, itu bisa menghilangkan dosa-dosa kecil. Demikian halnya Nabi bersabda, Bertakwalah kepada Allah di manapun kalian berada. Iringilah perbuatan dosa dengan amal kebaikan, karena kebaikan itu dapat menghapusnya (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

Baca Juga  Ustadz Kok ‘Nyeleb’?

Dua teks agama ini menunjukkan luasnya kasih sayang Tuhan. Allah juga sangat memahami tabiat manusia yang kerap mengulang dosa-dosa kecil. Jangan melakukan sesuatu yang menyebabkan orang menganggap rahmat Allah terbatas, sehingga yang tergambar adalah Tuhan penuh kemarahan dan siksaan. Padahal rahmat-Nya lebih besar dari murka-Nya.

Lebih lanjut Syekh Yusri menuturkan, jika mendapati perempuan Muslimah rambutnya terlihat dan ia enggan berhijab, maka kita tak perlu mengharuskan sesuatu yang membuatnya marah, yakni menyuruh berhijab. Jangan pula membencinya. Apabila memaksakan agar berhijab, dia pasti tak akan melakukan atas kemauan dan panggilan hatinya. Dan hal seperti ini akan berujung sia-sia.

Baca Juga  Argumen Teologis Pluralisme dan Toleransi

Dakwah tak boleh ada unsur paksaan. Akan lebih bijak jika menggunakan pendekatan persuatif tanpa harus menggurui. Biarkan dahulu ia pada kehendaknya (untuk tak berhijab) sekalipun ada dosa kecil menyeratai. Yang penting ia shalat, puasa, atau menunaikan kebaikan dan ibadah lainnya. Doakan pula kebaikan untuknya. Biarkan perempuan tersebut berproses, lebih dewasa, mengerti agama, dan muncul rasa malu pada Tuhannya. Dari situ ia akan berusaha menjauhi baik dosa kecil maupun besar.

Membuka rambut bisa dikategorikan dosa besar jika dimaksudkan untuk memikat orang yang melihat keindahannya. Namun lebih dari itu, ketimbang dosa menampakkan rambut, hati yang diliiputi prasangka buruk pada orang lain, sikap serakah, dan tamak, itu dosa besar yang acap kali lebih berbahaya. Terakhir, jangan begitu saja menilai orang dan menimbulkan prasangka. Karena masing-masing kita ibarat suatu campuran, yakni kombinasi antara amail baik dan buruk. Maka dari itu jangan sombong. Lebih berguna jika kita introspeksi dan mendoakan kebaikan untuk mereka. Wallahu a’lam. []

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.