Empat Cara Membentuk Akhlak menurut Quraish Shihab

KhazanahHikmahEmpat Cara Membentuk Akhlak menurut Quraish Shihab

Tujuan utama pengutusan Rasulullah SAW pada jemaah manusia adalah untuk menyempurnakan akhlak. Karena akhlak adalah hal mendasar yang melekat pada diri seseorang sebagai modal untuk berkiprah dan berinteraksi dalam kehidupan. Akhlak merupakan indikator paling terang untuk menilai seseorang. Sederhananya, seseorang didefinisikan baik atau buruk dapat dilihat dari tingkah lakunya.

Melalui laman media sosialnya, Prof Quraish menguraikan setidaknya empat cara pembentukan akhlak seseorang. “Banyak cara untuk membentuk akhlak. Pertama, lakukanlah apa yang dinamai takhalluq. Imam Ghazali memberikan penggambaran. Contoh akhlak mulia, seperti halnya kita harus bersikap baik pada anak yatim. Tapi sikap baik ini tak bisa serta merta muncul. Kita harus membiasakan diri untuk bersikap baik terhadap mereka (anak yatim)”, tutur ulama tafsir Tanah Air ini.

Takhalluq dapat diartikan sebagai proses pembiasaan diri terhadap budi pekerti. Dengan kata lain, cara pertama untuk membentuk akhlak adalah pembiasaan, yang terkadang perlu ada unsur pemaksaan diri. Seperti halnya anak-anak yang butuh sentuhan kedisiplinan sejak kecil. Apabila pembiasaan tersebut berlanjut dengan baik, maka itu akan menjadi akhlak.

Kedua, keteladanan. Apa yang menjadi kebiasaan orang tua misalnya, hal itu akan menjadi memori dasar anak-anaknya dan sedikit demi sedikit akan ditiru oleh mereka. Sebab, orang tua adalah role model terdekat bagi anak. Karenanya, kita sebagai subyek perlu menghadirkan sosok berkualitas yang bisa kita teladani, sekaligus kita berupaya menjadi teladan yang baik bagi anak ataupun orang-orang di sekitar.

Ketiga, memilih lingkungan yang kondusif dan mendukung. Ada ungkapan yang mengatakan “kita adalah anak didik lingkungan”. Manusia dengan lingkungannnya adalah dua hal yang tak terlepaskan. Gagasan-gagasan dari lingkungan akan mengisi wawasan tiap penghuninya.

Baca Juga  Bung Karno dan Al-Azhar Mesir

Prof Quraish bercerita saat ia menjadi pendamping haji. Suasana di Mekkah dan Madinah sangat mendukung orang-orang untuk terbiasa bangun sebelum subuh. Mereka pasti ke masjid meskipun jaraknya cukup jauh. Namun, sepulang ke Tanah Air, bahkan masih di Jeddah saja tradisi baik itu mulai kendor. Dari sini nampak bahwa lingkungan dapat mendorong kebiasaan yang jika terus dijaga akan membentuk akhlak.

Baca Juga  Sejarah Damai Sunni-Syiah

Al-Quran menceritakan bagaimana Nabi Ibrahim AS membawa putranya pergi jauh agar mendapat lingkungan yang mendukung di dekat rumah Allah. Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS. Ibrahim [14]: 37).

Keempat, yakni olah jiwa, dan ini yang paling sulit. Para ulama tasawuflah yang menempuh jalan ini. Rasulullah SAW, dalam konteks olah jiwa, menyuguhkan keteladanan pada kita. Kata beliau, jika mau berakhlak baik maka teladani Allah, takhallaqu bi akhlaqillah (berakhlaklah dengan akhlaknya Tuhan). Pelajari dan resapi al-asma’ al-husna, sebab itu sifat-sifat Allah yang sangat mulia. Tuhan yang penyayang, pemaaf, melindungi, dan sebagainya.

Ketika belum mampu menyerap dan mengartikulasikan langsung dari al-asma’ al-husna, maka belajarlah dari orang yang mampu meneladani sifat-sifat Allah. Dan dalam hal ini adalah Rasulullah SAW. Karena akhlak luhur adalah hal yang nyata dari praktik Nabi Muhammad SAW. Posisi akhlak begitu sentral. Dengan berakhlak baik itulah cara menuju Allah. Wallahu a’lam. []

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.