Habib Ali al-Jufri: Mengedepankan Siap Siaga daripada Prasangka

KhazanahHikmahHabib Ali al-Jufri: Mengedepankan Siap Siaga daripada Prasangka

Islam mengajarkan umatnya untuk menghindari prasangka. Sebab prasangka rentan memicu tuduhan-tuduhan yang tak berdasar. Oleh karena itu, yang harus dikedepankan adalah kesiapsiagaan, karena siap siaga mencerminkan sosok yang mau mempelajari apa yang terjadi, sehingga ia mengetahui bagaimana semestinya mengambil tindakan agar menjadi bijak, bukan sekedar menduga-duga

Selama ini begitu banyak narasi yang bertebaran di media sosial yang Saling mempertentangkan satu sama lain. Misalnya, berhati-hatilah terhadap orang-orang Yahudi, Nasrani atau kafir mereka adalah musuh-musuh Islam. Berhati-hatilah terhadap gereja dan para biarawan, mereka musuh Islam dan musuh negara. Warga Nasrani membenci Islam dan berusaha mendirikan negara koptik.

Berhati-hatilah terhadap reaksioner yang pro-rezim. Berhati-hatilah terhadap kaum Wahabi, kaum antropomorfis, kaum Takfiri Salafi, dan para teroris al-Qaidah. Berhati-hatilah yang disebut dengan Ikhwanul Muslimin, pengikut Sayyid Qutb, pendukung politik Islam yang mengeksploitasi Islam untuk keuntungan mereka sendiri.

Berhati-hatilah terhadap kaum Syiah yang merupakan pengikut agama Persia pra-Islam. Mereka terlahir dari pernikahan mut’ah, mereka orang kafir yang mengutuk para sahabat dan mendukung Yahudi. Berhati-hatilah terhadap kaum sufi, para pelaku bid’ah, peziarah makam, dan pelaku syirik bergabung dengan Islam moderat. Berhati-hatilah dengan para pengikut darwis bodoh, yang menari-nari dalam majelis maulid dan mengelilingi makam.

Dengan semua peringatan ini, tidak mengejutkan bahwa umat Islam terpecah-pecah menjadi kelompok yang berusaha saling menyingkirkan, salah mengira bahwa itu merupakan wujud cinta mereka terhadap bangsa atau jihad di jalan Allah. Setiap kelompok berusaha mempertahankan eksistensi kelompok mereka dengan mengorbankan kelompok yang lain.  

Dalam bukunya Kemanusiaan Sebelum Keberagamaan (2020) mengatakan, pada prinsipnya yang kita butuhkan adalah kesiagaan. Allah SWT berfirman, Wahai orang-orang yang beriman bersiap siagalah kamu (QS. An-Nisa: 71). Namun siap siaga harus diterapkan dengan benar. Bersiap siaga tidak berarti merendahkan, membuat pernyataan yang menggeneralisasi, menghakimi niat orang lain atau berprasangka buruk terhadap mereka.

Baca Juga  Bahaya Islamisasi Ruang Publik

Bersiap siaga tidak akan menyebabkan konflik, apabila tidak didasari oleh kebencian dan tidak menggunakan bahasa kasar. Termasuk, tidak akan mengubah perbedaan opini menjadi permusuhan, baik level individu maupun kelompok. Terkadang pesan-pesan seperti ini lebih dekat dengan menebar sentimen, ketimbang memerintah untuk mengantisipasi terjadinya sesuatu.

Baca Juga  Peran Ayah dalam Mendidik Anak Menurut Al-Quran

Ini menjadi peringatan serius bagi semua pihak. Pada prinsipnya prasangka itu sangat lemah, harus ada sikap siap siaga. Jika memang perkara yang diwaspadai ini membahayakan, maka kesiagaan seseorang menjadi bekal yang cukup untuk menghadapinya.

Adapun yang dimaksud siap siaga di sini adalah memahami dengan benar musuh yang sesungguhnya. Yakni berhati-hati dalam mengeksploitasi kemiskinan, kebodohan, kesesatan, kekafiran, dan penderitaan orang lain, yang hanya menguntungkan kelompok sendiri. Padahal, di samping itu tindakannya berimplikasi menghilangkan kelompok lain. Bekal kesiagaan barang tentu berupa dari jiwa kemanusiaan. Jangan sampai kita kehilangan belas kasih, cinta, persaudaraan sejati, dan harmoni.

Mengedepankan kesiapsiagaan adalah upaya ketangguhan seseorang dari segala eksploitasi. Peringatan itu harus disampaikan dengan cinta, kepedulian, dan kasih sayang. Sebagaimana firman Allah SWT, Dan Allah memperingatkan kamu akan diri (siksa)-Nya. Allah Maha Penyayang terhadap hamba-hambanya (QS. Ali Imran: 30).

Melalui kesiapsiagaan, seseorang menjadi lebih tangguh dan terhindar dari segala jebakan atau tipu daya muslihat. Sudah saatnya kebiasaan berprasangka buruk ini ditinggalkan dan mengedepankan kesiagaan agar tidak mudah ditumbangkan oleh musuh-musuh atau siapapun yang berniat tidak baik terhadap kita.

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.