Cara Elegan Membela Agama

KolomCara Elegan Membela Agama

Kabar penganiayaan yang dilakukan oleh seorang Jenderal kepada Muhammad Kace membuat saya tak habis pikir. Kace merupakan tersangka kasus dugaan penodaan agama. Sedangkan Irjen Napoleon Bonaparte adalah terpidana kasus suap. Dengan dalih membela agama, seorang Jenderal bintang dua melakukan tindakan keji. Ia memukuli Kace, bahkan melumurinya dengan tinja di Rumah Tahanan yang sama-sama mereka huni.

Saya termasuk pihak yang menulis kritik pada Kace karena sikapnya yang rawan merusak relasi antarumat beragama di negeri ini. Namun demikian, tindakan Napoleon pada Kace itu memalukan dan tak bisa dibenarkan, baik oleh Islam maupun hukum positif negara. Ia telah main hakim sendiri. Alih-alih membela, stigma pada Islam justru kian tebal karena kelakuan sang Jenderal.

Terma membela agama (Islam), membela Tuhan, ataupun membela al-Quran kini memang sudah tak asing lagi di telinga. Istilah-istilah tersebut biasanya berkait kelindan dengan isu penistaan yang diasumsikan oleh sejumlah pihak.

Aksi bela Islam berjilid-jilid pernah terjadi sekian tahun silam, yang ditengarai oleh ucapan Ahok. Gerakan boikot produk-produk Perancis di Tanah Air juga sempat digalakkan sebagai respons atas pernyataan Presiden Perancis, Emanuel Macron serta kasus karikatur yang diproduksi Charlie Hebdo. Selain cenderung bermuatan politis, harus diakui, tindakan-tindakan tersebut khas menampakkan sikap reaksioner umat Muslim. Tidak mau berpikir panjang atau mencoba mengandalkan nalar.

Kata “membela”, bagi saya masih menunjukkan ada sesuatu yang muskil dan mengganjal. Pertama, wacana bela agama, bela Tuhan sudah lekat dengan aksi-aksi emosional, diskriminatif, bahkan kekerasan. Aneh rasanya, di mana membela adalah upaya merawat, memelihara, dan menjaga baik-baik, tapi cara yang digunakan kontraproduktif serta merugikan.

Kedua, membela mengandung arti bahwa obyek yang dibela butuh pertolongan. Ia terancam sehingga tak berdaya. Masuk akal jika Gus Dur lantang berkata, Tuhan tak perlu dibela. Karena Dia memang telah Maha Segalanya. Gus Dur mengajukan alternatif, bahwa yang perlu dibela adalah kaum lemah, mereka yang diperlakukan tak adil. Itulah cara kita ‘membela’ Tuhan dan agama.

Bukannya tak setia, pernyataan Gus Dur justru masuk akal dan menunjukkan kesadaran mendasar sebagai makhluk berkemampuan terbatas yang Tuhan tak mungkin membutuhkan bantuan kita. Amal ibadah kita saja tak ada gunanya bagi Tuhan. Adapun membela manusia tertindas, adalah porsi kerja paling tepat bagi kita selaku pengelola (khalifah) bumi beserta isinya, sebagaimana mandat dari Allah (QS. Al-Baqarah [2]: 30).

Kalaupun harus membela, maka ekspresikan pembelaan itu dengan akhlak mulia. Sebab, marwah Islam ada di tangan pemeluknya. Islam tak akan bertaji jika umatnya haus kekerasan, gemar mencaci, atau bersikap kasar. Bukan menjadi pembelaan, laku negatif, lisan yang kotor, dan sikap reaksioner, hanya akan menjatuhkan martabat agama Rasulullah SAW ini. Lebih dari itu, respons emosional mencirikan seorang yang tak belajar dan tak mencoba bernalar.

Ada kisah yang sudah sangat populer. Ketika seorang Yahudi buta giat mengumpat Nabi dan Islam yang dibawanya. Tidaklah beliau melempar makian serupa pada pengemis tua tersebut. Namun, Rasulullah membalasnya dengan rutin berkunjung sembari menyuapinya makanan tiap pagi. Bahkan, Nabi tetap tenang mendengarkan repetisi makian wanita buta tadi yang dilayangkan pada beliau.

Betapa berkelas cara Nabi menanggapi orang yang menyakitinya. Apa yang Nabi ajukan untuk membela diri dan menjaga Islam adalah pertunjukan akhlak mulia, bukan arogansi. Rasulullah SAW tahu betul, jika keburukan dibalas dengan keburukan, maka api kebencian tak akan pernah padam.

Buah manis dari akhlak cinta Nabi pun tampak di kemudian hari pasca beliau wafat. Pengemis buta itu masuk Islam setelah tahu bahwa Muhammad yang ia hina dina adalah sosok yang tetap sudi tiap pagi menghaluskan makanan untuk menyuapi dirinya. Akhlak mulia ternyata senjata paling jitu untuk menjinakkan lawan.

Baca Juga  Nabi Muhammad SAW Melampaui Toleransi

Sejumlah riwayat mempertegas, bahwa Nabi tak menyimpan dendam karena beliau atau Islam diremehkan misalnya. Yang membuat beliau marah adalah jika kebenaran dilanggar atau didustakan (disangkal, dipungkiri).

Diceritakan bahwa, Rasulullah SAW tidak marah disebabkan urusan dunia. Tetapi apabila kebenaran didustakan, beliau akan marah tanpa ada seorang pun yang bisa tegak di hadapan kemarahan beliau, sehingga beliau memenangkan kebenaran itu baginya”. (HR. At-Tirmidzi).

Baca Juga  Nabi Muhammad SAW Melampaui Toleransi

Imam Bukhari juga mencatat hadis serupa yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah bahwa, Demi Allah, beliau tidak pernah marah karena urusan pribadi. Tapi jika ajaran Allah dilanggar, maka beliau marah karena Allah (lillah).

Secara emosi tentu Nabi kesal pada oknum-oknum yang memfitnah Islam. Namun, beliau tidak mentransfer kemarahan itu menjadi amukan, umpatan, dan yang sejenisnya. Dengan demikian, marahnya Nabi dalam hadis ini berarti beliau mengingkari tindakan seseorang yang mendustakan kebenaran. Lalu Nabi mengatur langkah strategis untuk perbaikan dan dakwah.

Kemudian, di samping mempraktikkan cinta dan akhlak mulia, rawat dan belalah Islam dengan aktivitas belajar. Tradisi intelektual Muslim menunjukkan sinyal yang amat lemah saat ini. Buktinya kita amat terseok-seok mengimbangi kontestasi peradaban. Umat Muslim masih berkutat pada perdebatan non-substansial, dan tak kunjung membaur ke dalam dinamika di luar pagar.

Seorang pembelajar tak akan mudah menyalahkan, karena penerangan ilmu yang dimilikinya. Ia tak mengutuki kegelapan, tapi berusaha mencari jalan keluar menuju cahaya. Mengetahui bahwa membaca adalah intruksi pertama Tuhan, semestinya itu cukup untuk menampar kesadaran akan pentingnya ilmu dan belajar.

Dunia Islam dulu kokoh, dihormati, dan pernah menjadi kiblat peradaban pada sekitar abad ke-8 hingga abad ke-12M. Dan faktor utama yang menunjang, menurut Ahmet T. Kuru, adalah iklim intelektual yang inklusif dan penuh gempita. Hidupi dan perjuangkan Islam dengan mengabdi pada ilmu pengetahuan.

Terakhir, ketika ada pihak yang mengkritisi, berburuk sangka, atau menjatuhkan Islam, ketimbang bereaksi gegabah lebih baik mengajaknya bertukar pikiran. Tidak dengan ucapan yang menyakiti, menyesuaikan lawan bicara, dan tanpa tensi emosi. Berdebat secara konstruktif adalah salah satu teknik mendakwahkan Islam yang elegan. Dengan sendirinya, citra agama akomodatif dan rileks akan inheren dengan Islam. Membuka komunikasi dialogis akan menghindari kesalahpahaman dan relatif lebih produktif.

Itu adalah salah satu cara yang ditempuh Nabi dalam menunaikan amanat dakwah. Yang Allah cantumkan dalam surat al-Nahl [16]: 125, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik…”

Sekalipun dibuat kesal dan heran oleh fenomena pembelaan agama selama ini, saya tetap harus berupaya untuk berbaik sangka. Bahwa, berbagai wacana publik ataupun aksi-aksi yang diklaim sebagai pembelaan pada agama tersebut adalah batas cara yang mereka tahu untuk menyalurkan emosi dan mengekspresikan loyalitas. Mengingat, munculnya rasa marah memang wajar bagi siapapun yang merasa identitasnya diusik.

Pasang badan, turun ke jalan, dan orasi lengkap dengan ayat untuk membela keyakinan memang mengesankan suasana heroik dan penuh kepeduliaan. Jadi tak heran, jika hal-hal yang mudah dicerna visual itu banyak diamini dan bergulir renyah di kalangan akar rumput.

Namun demikian, langkah-langkah pembelaan yang berkelas terbukti lebih menghasilkan kemaslahatan universal. Wibawa Islam pun terselamatkan. Kesabaran dan sikap arif justru mampu memenangkan hati orang-orang di luar Islam. Karenanya, mari jaga dan bela agama Rasulullah dengan komitmen akhlak terpuji, aktivisme belajar, serta dakwah yang dialogis dan santun. Wallahu a’lam. []

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.