Yahudi dan Nasrani Bersumber dari Hanifisme Ibrahim

KolomYahudi dan Nasrani Bersumber dari Hanifisme Ibrahim

Islam mewajibkan umatnya untuk beriman kepada kitab suci dan utusan Allah SWT. Sebab itu, ajaran yang ada dalam kitab Taurat pegangan umat Yahudi dan kitab Injil pegangan umat Nasrani menempati titik temu dengan Islam pada pusat ajaran monoteisme, yakni Keesaan Tuhan. Demikian pula Nabi Ibrahim adalah seorang yang hanif lagi Muslim pembawa ajaran monotheisme, tetapi bukan termasuk seorang Yahudi ataupun Nasrani.

Isyarat universalitas Islam ditunjukkan pada keunikannya dalam membenarkan agama Yahudi dan Nasrani, sebab kedua agama tersebut adalah agama Allah yang cikal bakalnya dari Nabi Ibrahim. Tertulis, baik dalam Taurat, Injil dan al-Quran ajarannya saling berkesinambungan tentang Keesaan Tuhan dan memberitakan kabar gembira akan kedatangannya Nabi terakhir yakni, Muhammad SAW.

Ekspresi keesaan ini dikatakan dalam al-Kitab Ibrani, dengarkan Israel, Tuhan adalah Allah kita, Tuhan adalah satu. Kitab Injil juga tertulis, Ingatlah Aku Allah Yang Esa, tidak ada Allah kecuali Aku (32:39). Sedangkan dalam al-Quran dinarasikan dalam surat al-Ikhlas ayat satu. Kendati masing-masing kitab membincangkan Keesaan Tuhan dan Mempercayai kenabian Muhammad, lantas mengapa masih ada perbedaan agama, baik dalam ajarannya maupun pengamalannya.

Beranjak dari sini kita dapat melihat secara historis terhadap pengingkaran sebagian manusia yang telah mengubah isi al-Kitab. Namun sebagian lagi masih menjaga dan mengamalkan kitab Taurat dan Injil yang murni. Jadi umat Islam yang pertama kali mendengar kedatangan Nabi terakhir dan langsung mengimani, mereka adalah orang-orang yang mewarisi kemurnian hanifisme Ibrahim ajaran Nabi Musa pembawa kitab Taurat dan Nabi Isa dengan kitab Injil.

Adapun al-Kitab yang isinya selaras dengan al-Quran adalah kitab perjanjian lama (bibel). Sementara kitab yang menyebar sekarang adalah perjanjian baru, yakni Markus (60 M), Matius (70 M), Lukas (75 M), Yahya (100 M) yang berujung pada perubahan. Terlebih ketika di gereja terjadi Traditio dekratative, yakni tak ada satu pun yang berhak menjelaskan al-Kitab tanpa berbuat salah, kecuali pihak gereja. Dan Traditio konstituve, yaitu gereja memiliki tradisi yang melengkapi kitab suci. Kesamaan ajaran yang bersumber satu ini kian menjadi sangat kontras.

Melalui tradisi ini masyarakat Yahudi dan Nasrani tidak menemukan celah untuk mengkritisi apa yang menjadi hak gereja. Perubahan itu berdampak pada konsep syariah berbangsa yang menghalalkan hukum yang dilarang Allah, misal membolehkan memakan daging babi. Begitu juga, dilakukannya tata cara peribadatan yang tidak ada dalam tuntunan, seperti sujud di hadapan patung. Padahal di Exodus tertulis larangan membuat patung untuk sujud kepadanya (20: 4-5).

Dalam perspektif monoteisme, Yahudi, Nasrani dan Islam sepakat meyakini adanya Tuhan  yang satu. Akan tetapi, monoteisme ini tidak sama dengan tauhid dan setiap agama memiliki konsep yang berbeda. Monoteisme yang ada dalam ajaran Nasrani umat Kristen, seiring bergeser pada Trinitas atau Tritunggal. Dari konsep monoteisme ini, ajaran Taurat dan Injil kian waktu esensi ketauhidannya menghilang.

Karen Armstrong dalam buku Sejarah Tuhan (2018) mengisahkan, sekitar pada tahun 320 gairah teologis masyarakat membara memasuki gereja-gereja di Mesir, Siria, dan Asia Kecil. Para nelayan dan pelancong bersenandung Tuhan yang paling sejati adalah sang bapa, sedang Yesus Kristus yang dianggap Nabi Isa dan bunda Maria alias ibu Nabi Isa tak lebih agung dari sang bapa. Kontroversi ini disulut oleh Aria, seorang pemuka gereja yang terkemuka, tampan, penuh kharisma dan propagandis yang mahir, secara tidak langsung membawa perubahan terhadap ajaran monoteisme yang Trinitas (three in one) hingga kini.

Baca Juga  Daging Kurban Diawetkan Menjadi Makanan Kaleng, Bid’ah?
Baca Juga  Pancasila Menentang Penjajahan di Palestina

Masih dalam buku yang sama, termasuk konsep Yahudi tentang monoteisme terbilang belum pasti. Keyakinan mereka terhadap satu Tuhan memang diajarkan Yahudi. Namun yang membingungkannya, tradisi Yahudi yang tidak boleh mengucapkan nama Tuhan mereka sendiri sejak dulu hingga sekarang. Kiranya peniadaan nama  tersebut memicu keraguan siapa Tuhan yang dimaksud, meski dahulu yang paling sering disebut-sebut bangsa Israel bernama Yahwe. Konon, nama Yahwe ini dikenalkan oleh orang-orang keturunan Abraham (Ibrahim) pada 1200 SM yang setibanya di Kanaan dari Mesir.

Sedangkan dalam al-Quran kitab umat Islam, ajaran Tauhid yang dikenalkan mengandung unsur monoteisme atau Keesaan atas penciptaan segala yang ada. Perspektif umat Islam tentang Keesaan Tuhan bersifat final, tak ada dualisme atau trinitas, yakni Allah SWT. Kendati demikian, bagi agama lain menilai Islam masih belum mencapai monoteisme.

Mengingat banyaknya asmaul husna 99 yang merupakan nama-nama baik yang disandangkan pada Tuhan umat Islam. Padahal, Allah SWT hanya satu dan 99 nama itu hanya sifat atas keagungan-Nya yang tak terbatas, tidak cukup diucapkan manusia dengan satu kata. Dari sini pentingnya al-Quran yang acap kali memerintahkan untuk berpikir. Sebab hanya dengan berpikir dengan akal sehat dan jernih, manusia akan sampai pada kesimpulan Allah  adalah dzat yang satu atau Esa.

Terlepas dari banyak perubahan dalam tiap-tiap ajaran yang sumbernya berpusat pada Hanifisme Ibrahim dan memiliki ajaran kontroversial pada ajarannya masing-masing menurut perspektif tiap-tiap agama. Penghormatan Islam terhadap Yahudi dan Nasrani adalah ajaran unik yang bersifat universal dalam menyikapi agama selain dari Islam. Sebagaimana firman Allah SWT, Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, shabiin dan orang-orang Nasrani, barangsiapa yang beriman kepada Allah, kepada hari kemudian, dan berbuat kebajikan, maka tidak ada rasa khawatir kepadanya (QS. al-Maidah: 69).

Demikian penjelasan tentang sumber Hanifisme Ibrahim, melahirkan agama yang berbeda corak atau konsep, tetapi meyakini Keesaan Tuhan. Apapun keyakinannya, setiap agama mengajarkan umatnya untuk tetap berbuat baik kepada siapapun. Semasa Nabi Muhammad SAW tinggal di Madinah, beliau hidup berdampingan secara damai dan tidak mengusik terhadap mereka yang berbeda keyakinan.

Bahkan orang-orang Yahudi di sana senang mendatangi beliau untuk beberapa kepentingan atau sekadar menemuinya saja. Kesempatan ini digunakan untuk mengajak pada Islam, sehingga tak sedikit mereka yang menerima untuk masuk Islam dan sebagian lagi menolak. Walaupun begitu, Rasulullah SAW tidak memaksa karena sikapnya yang egaliter. Walhasil, mentaati ajaran dalam agama yang dipercayai adalah sebuah kewajiban, sehingga tidak terjadinya pengingkaran dalam pengamalan maupun isi ajarannya.

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.