Formula Critical Thinking dari Al-Quran

KolomFormula Critical Thinking dari Al-Quran

Pemikiran atau rasionalitas terpancar dari kemampuan jiwa kita untuk menimba ilmu. Memperoleh pengetahuan adalah bagian dari fitrah yang  berasal dari Tuhan. Saat Adam tercipta, tuhan langsung mengajarinya dan menyempurnakannya dengan pengetahuan, “Dia ajarkan kepada Adam nama-nama benda semuanya…” (QS. Al-Baqarah: 31). Kemampuan berpikir adalah sebuah kemajuan alami yang dianugerahkan Allah SWT kepada manusia.

Ada banyak sekali buku menarik yang membahas tentan pentingnya kemampuan berpikir bagi setiap orang. Belakangan, saya membaca sebuah buku dengan tema itu, yang berjudul Thinking, Fast and Slow karya filsuf modern Daniel Kahneman. Buku ini tebal, detail, dan luar biasa, mengajarkan bagaimana cara terbaik untuk menggunakan pikiran intuitif manusia, atau memanfaatkan daya kritisnya. Buku ini membuat siapapun sadar bahwa berpikir itu sangat penting, bukan hanya untuk menentukan pilihan, benar-salah, tetapi untuk hidup dan menjadi manusia.

Mungkin Tidak semua Muslim akan membaca Thinking Fast and Slow, atau buku-buku filsafat modern lainnya. Namun, setiap Muslim bertanggung jawab untuk membaca Al-Quran, sebuah kitab yang juga mengajarkan spirit berpikir. Berpikir merupakan usaha yang sehat bagi manusia. Inilah buku yang paling dekat dengan setiap Muslim yang selalu mengajak untuk berpikir, memiliki kesadaran dan tanggung jawab penuh dalam hidupnya.

Secara konsisten, al-Quran menggunakan banyak istilah yang berkaitan dengan rasionalitas manusia, seperti fakkara (berpikir), faraqa (membedakan), dabbar (memperhatikan), ‘aqala (menggunakan akal), dzakara (mengingat), ‘alima (mencari pengetahuan), nazara (menalar), fahima (memahami), faqiha (mendalami). Dengan begitu banyaknya kisah-kisah dan pernyataan al-Quran yang mendorong pembacanya untuk berpikir, Ia tentu memberikan isyarat tentang pentingnya mencari hikmah, memahami, belajar, dan berpikir.

Saya memulai penulisan artikel ini dengan membaca ‘Reason and Rationality in the Quran Al-Qur’an’, makalah fenomenal Ibrahim Kalin. Tesis utama makalah ini ialah, bahwa al-Quran mengarah pada proses berpikir yang menggabungkan pengamatan empiris, analisis rasional, penilaian moral, dan pemurnian spiritual. Di tengah bagkitnya kelompok yang mempromosikan peran wahyu sambil mengesampingkan akal, kita perlu diingatkan untuk mendamaikan keduanya. Semua tanda-tanda tuhan dari realitas yang ada itu, tersedia untuk dipahami melalui daya nalar.

Baca Juga  Biografi Ibnu Khaldun: Karya Ilmiah dan Sumbangan Akademik

Dengan demikian, kita dapat berinteraksi dengan al-Quran sebagai sebuah kitab yang mengajar untuk berpikir. Tidak sampai di sini, Al-Quran juga mengajarkan kita sebagai makhluk rasional, untuk berpikir secara kritis. Berpikir, akan menjadi kritis ketika mengevaluasi alasan dibalik keputusan. Evaluasi tersebut harus dilakukan secara konstruktif. Tujuan berpikir kritis adalah untuk mencapai pemahaman, mengevaluasi sudut pandang dan memecahkan masalah. Menurut Ibrahim Kalin, pemikiran kita cenderung menjadi kritis ketika pengalaman belajar yang konkret, mendahului pemikiran abstrak. Atau disebut juga sebagai Hikmah, yakni “pemikiran yang dipadukan dengan kebijaksanaan”.

Baca Juga  Gus Mus: Meski Difitnah, Istiqamahlah di NU

Maka dari itu, penting bagi Muslim untuk memahami bagaimana al-Quran menyajikan panduan perjalanan intelektual, moral dan spiritual.  Dalam buku ajar ilm nafs yang ada di hadapan saya berjudul, Quranic Psychology of The Self (h. 323-324), diterangkan bahwa berpikir kritis atau proses berpikir secara lambat, membutuhkan beberapa langkah yang diisyaratkan Al-Quran. Yaitu, penilaian kritis (hukum), bukti (burhan), keterangan yang jelas (bayan), tanda yang nyata (bayyinah), terbukti (bashirah), dan otoritas sumber yang terpercaya.

Sederhananya, kita membutuhkan setidaknya enam elemen tersebut dalam proses berpikir kritis. Dengan mengandalkan keenam elemen tersebut, al-Quran mendorong kita untuk melihat keterkaitan antar berbagai hal, yang mengarah ke dalam rantai besar realitas. Dengan demikian, kita akan mengatasi masalah dualitas, seperti hitam versus putih, sensasi versus rasional, materi versus spiritual, individu versus alam semesta, alam versus budaya, dan seterusnya. Berpikir kritis hadir untuk mengevaluasi alasan dibalik keputusan, dan menemukan hikmahnya.

Cara berpikir Al-Qur’an pada dasarnya tidak deskriptif tetapi terarah, yaitu berorientasi pada tujuan. Al-Quran tidak hanya menggambarkan hal-hal sebagai fakta atau informasi, tetapi juga menawarkan cerita sugestif, metafora, dan deskripsi yang mengubah cara kita melihat sesuatu. Mulai sekarang, sadarilah bahwa ketika kita membaca al-Quran, kita juga didorong untuk melatih pikiran kita. Pengalaman membaca al-Quran tentu akan berbeda jika kita lebih peka terhadap berbagai istilah dan kisah yang menggugah pikiran kita.

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.