Buya Husein: Perempuan adalah Korban Utama dalam Sistem Radikal

BeritaBuya Husein: Perempuan adalah Korban Utama dalam Sistem Radikal

Telah banyak ruang sosial, politik, serta pendidikan kita yang disusupi pemikiran ekstrem-radikal. Misi pamungkas gerakan semacam ini adalah mendekonstruksi dasar dan sistem ketatanegaraan bangsa. Ketika kelompok garis keras berkuasa, kaum hawa selalu mengalami kemalangan. Ambil contoh, betapa tertindasnya kalangan perempuan saat kelompok Taliban berkuasa di Afghanistan pada 1996-2001. Mereka dilarang bekerja, tak boleh sekolah, dan tidak merdeka. Karenanya, antisipasi pada diaspora gerakan garis keras menjadi begitu penting.

Dalam webinar bertajuk “Moderasi Beragama dalam Cyberspace”, Kiai Husein Muhammad menuturkan,  di mana intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme atas nama agama kian menguat, maka perempuan adalah korban pertama. Kaum hawa akan menjadi sasaran utama kebijakan dan pengaturan yang dibuat oleh kelompok keras tersebut. Pengalaman Afghanistan tadi adalah preseden yang menggambarkan ketidakramahan sistem radikal terhadap perempuan.

“Ada argumentasi mengapa perempuan menjadi sasaran/obyek pertama pengaturan kehidupan bernegara. Itu karena kalangan puritanis memandang perempuan sebagai sumber fitnah. Fitnah yang dimaksud adalah sumber yang memicu hasrat seksual laki-laki, yang berpotensi menciptakan kekerasan seksual serta kekacauan sub-moral. Karenanya, perempuan didomestikasi, tidak bisa beraktivitas di luar rumahnya,” jelas kiai yang aktif membela hak-hak perempuan tersebut.

Miris sekali, sikap mengekang kreativitas perempuan seperti itu dianggap kalangan garis keras sebagai bentuk proteksi. Pandangan mereka begitu menjatuhkan, di mana perempuan dianggap sebagai biang kekacauan moral. Segala bentuk penindasan, jika terjadi, itu sama sekali bukan produk agama. Dengan kata lain, penindasan mereka terhadap perempuan adalah wajah dari kekeliruan menafsirkan teks agama.

Baca Juga  R.A Kartini pun Ngaji Pada Kiai

Lebih lanjut Kiai Husein memaparkan, bahwa perlindungan sesungguhnya bagi perempuan adalah dengan tetap memberi ruang kepada mereka kapanpun dan di manapun yang dibarengi dengan jaminan keamanan. Rasa aman tersebut harus kita ciptakan sendiri, dengan menyusun aturan agar aktivitas serta aktualisasi diri perempuan bisa lancar dan terjaga. []

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.