Perempuan Melawan Taliban

KolomPerempuan Melawan Taliban

Herat, salah satu provinsi yang terletak di wilayah barat Afghanistan, menjadi salah satu kutub perlawanan terhadap Taliban. Mereka bukan pasukan bersenjata. Mereka adalah para perempuan yang menuntut kesetaraan dan hak-hak dasar yang hendak direnggut Taliban. 

Bashirah Tahiri bersama 50 perempuan lainnya turun ke jalan, menyuarakan aspirasi kaum perempuan.  Mereka menentang kekejaman Taliban terhadap perempuan. Mereka tidak ingin Afghanistan kembali ke zaman kegelapan. Sebab saat Taliban berkuasa, perempuan tidak hanya diposisikan sebagai kelas kedua, tetapi juga didiskriminasi dan dipersekusi.

Menurut Bashirah Tahiri, para perempuan mencium aroma tidak sedap perihal masa depan mereka di bawah kekuasaan Taliban. Pasalnya, dalam perundingan yang berlangsung untuk menentukan pemerintahan setelah Taliban menguasai Kabul, tidak ada seorang pun perempuan yang dilibatkan. Kaum perempuan di seantero Afghanistan khawatir jika tidak diperkenankan bekerja, sekolah, dan tidak mendapatkan jaminan keamanan.  

Taliban dalam beberapa pernyataannya berjanji akan melindungi kaum perempuan, tetapi menunggu keputusan Dewan Syariat. Anehnya, hingga sekarang ini belum ada penjelasan yang gamblang perihal masa depan kaum hawa. Wajar jika Bashirah Tahiri dan kawan-kawannya turun ke jalan menyampaikan aspirasi sekaligus protes, bahwa mereka tidak ingin kembali ke masa yang tidak ramah pada kaum perempuan.

Sebelum Taliban berkuasa, perempuan Afghanistan dikenal ulet, cantik, dan energik. Mereka berperan di ruang publik. 40% warga Kabul bekerja, baik saat rezim komunis, kaum Mujahidin, hingga pemerintahan Ashraf Ghani. Bahkan, di beberapa provinsi, di antaranya Herat, kaum perempuan bisa menguasai bahasa Perancis, dan berpenampilan penuh pesona dengan gaya modern. 

Namun, setelah Taliban berkuasa, semuanya berubah seratus persen. Perempuan dirumahkan. Taliban mempunyai divisi khusus, yaitu amar ma’ruf nahi munkar. Mereka turun ke jalan secara khusus melarang perempuan yang berdandan dan memakai high heels. Mereka mewajibkan setiap perempuan menggunakan burka. Para perempuan tidak diperkenankan bekerja, kecuali sebagai dokter atau perawat. Itupun mereka dilarang menggunakan pakaian yang anggun. Parahnya, saat itu Taliban juga melarang anak-anak perempuan untuk sekolah. 

Sikap Taliban terhadap perempuan dikenal sangat diskriminatif. Sebab itu, para perempuan di seantero Afghanistan sangat ketakutan, jika Taliban masih bersikukuh pada paham dan ideologinya. Akibatnya, puluhan ribu perempuan memilih untuk mengungsi dan eksodus ke berbagai negara agar selamat dari diskriminasi dan persekusi. Namun persoalannya, masih ada jutaan perempuan yang masih menetap di Afghanistan.

Baca Juga  Pentingnya Kesalehan Sosial dalam Beragama

Teranyar, Taliban hanya berjanji akan memberikan kebebasan bagi anak-anak perempuan untuk sekolah dengan catatan antara laki-laki dan perempuan dipisah, tidak dalam satu ruangan. Lebih dari itu, Taliban masih belum memberikan penjelasan perihal posisi perempuan di ruang publik dan jaminan keamanan. 

Dalam konteks tersebut, Bashirah Tahiri dan para perempuan lainnya tidak mau diam. Mereka memilih untuk bersuara. Mereka tidak ingin lagi diperlakukan secara diskriminatif oleh Taliban dengan berdalih pada Syariat Islam. Apalagi mazhab yang dianut oleh sebagian besar umat Islam di Afghanistan adalah mazhab Hanafi, yang sebenarnya dikenal relatif ramah dan menjunjung tinggi kaum perempuan. Dalam mazhab Hanafi, perempuan tidak diwajibkan mengenakan burka. Taliban justru mewajibkan perempuan menggunakan burka, cadar. 

Baca Juga  Zikir Setelah Menunaikan Shalat

Lebih dari itu, sebenarnya mengatasnamakan Syariat Islam untuk mengekang kaum perempuan juga problematis. Syariat Islam dikenal sangat menjunjung tinggi kaum perempuan. Di zaman Nabi, perempuan menuntut ilmu dan berperan di ruang publik, baik dalam suasana damai maupun perang. Pada masa sekarang ini pun kita tidak lagi melihat negara-negara yang mayoritas Muslim merumahkan kaum perempuan. 

Masalahnya, mereka yang mengklaim menerapkan Syariat Islam pada ranah politik kekuasaan kerap menjadikan perempuan sebagai objek diskriminasi. Seolah-olah Syariat Islam mengekang perempuan. Mereka menjadikan perempuan sebagai sasaran bagi pemberlakuan “Syariat Islam”, sebagaimana dilakukan Taliban di masa lalu. 

Menurut Khaled Abou el-Fadl (2001), mereka hanya mengatasnamakan Tuhan untuk merendahkan dan meremehkan kaum perempuan. Padahal Tuhan sangat ramah pada perempuan dan memberikan mereka kebebasan dan kesetaraan, sebagaimana pada kaum laki-laki.

Sikap yang dilakukan Bashirah Tahiri dan para perempuan Afghanistan merupakan cara yang tepat. Saat ini mereka tidak bisa diam lagi. Mereka harus bersuara dan menyuarakan aspirasi, bahkan protes yang sekeras-kerasnya. Afghanistan tidak boleh kembali pada masa kegelapan. Kaum perempuan harus berperan bagi kemajuan dan kesejahteraan negara yang terkoyak akibat konflik dan proksi-perang. 

Taliban tidak boleh lagi memaksakan pahamnya, apalagi dengan mengatasnamakan Syariat Islam. Mereka harus mendengarkan aspirasi Bashirah Tahiri dan perempuan lainnya. Jika tidak, maka Taliban akan mendapatkan protes keras, tidak hanya oleh warganya sendiri, melainkan dunia internasional yang sudah sangat ramah terhadap kaum perempuan. Taliban harus mengikuti sunnatullah, bukan berlindung di bawah jubah “Syariat Islam” yang ditengarai hanya untuk memenuhi nafsu kekuasaan semata.

Zuhairi Misrawihttp://IslamRamah.co
Intelektual Muda Nahdlatul Ulama, Ketua Moderate Muslim Society (MMS), Jakarta
Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.