Ibnu Atha’illah As-Sakandari: Tetaplah Berdoa Meski Belum Terkabul

Dunia IslamIbnu Atha'illah As-Sakandari: Tetaplah Berdoa Meski Belum Terkabul

Tak ada yang salah, jika manusia merasa lelah dengan segala pernak-pernik kehidupannya. Namun, tidak dengan berputus asa dalam bermunajat kepada Allah SWT, karena seorang salik harus memperbanyak amal dan bermujahadah dalam waktu yang lama, sehingga ia bisa sampai kepada kehadirat Tuhannya.

Manusia itu dipenuhi banyak permohonan. Lazimnya, mereka yang dalam keadaan sukar akan terus mengingat Allah dan mengulang doa-doanya. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan di sela-sela itu ia merasa malas melakukan sebagian ibadah dan wirid yang diharuskannya. Sampai ia diterpa kegalauan dan frustasi. Bahkan, mungkin pula meninggalkan semuanya karena merasa yang dilakukannya, Tuhan tidak mengijabahi doa dan usaha baiknya serta terlihat sia-sia.

Pada kondisi tersebut, manusia harus menyadari bahwa keimanan itu membutuhkan sikap tawakkal dan menyakinkan diri bahwa kepasrahan pada Tuhan itu tidak pernah mengecewakan. Mengutip kata mutiara dari Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam kitabnya Al-Hikam (2019), jangan sampai tertundanya karunia Tuhan kepadamu, setelah kau mengulang-ulang doamu, membuatmu putus asa. Karena Dia menjamin pengabulan doa sesuai pilihan-Nya, bukan sesuai pilihanmu, pada waktu yang diinginkannya, bukan pada waktu yang kau inginkan.

Oleh karena itu, hendaknya ditundanya pemberian Allah SWT jangan melemahkan semangatmu untuk terus meminta. Permohonan harus dibersamai dengan ikhtiar dan kepasrahan. Keberkahan atau pencapaian yang baik itu hanya dimiliki bagi mereka yang ulet atau istiqamah dalam segala usahanya.

Sebagaimana dalam firman Allah SWT, Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu padahal itu baik bagimu. dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu (QS. Al-Baqarah: 216). Seseorang merasa apa yang dipermohonkannya itu baik, sehingga Tuhan mestinya mengabulkan. Padahal, bisa jadi yang dipintanya itu baik, tetapi menurut Tuhan akibatnya tidak baik bila secara cepat dikabulkan, sehingga permohonannya harus ditunda untuk dikabulkan.

Baca Juga  Beragama Ramah ala KH. Jalaluddin Rakhmat
Baca Juga  Ustadz Kok ‘Nyeleb’?

Maka dari itu, sebagai hamba yang taat berprasangka baik terhadap kehendak itu keniscayaan. Imam Ali bin Abi Thalib mengatakan, aku pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit adalah berharap pada manusia. Pada akhirnya,bagaimanapun berharap kepada Allah SWT itu sudah pasti lebih baik, ketimbang berharap pada manusia. Jadi jangan lupa, tetaplah semangat untuk terus berikhtiar dan memohon kepada-Nya.

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.