Antara Hakim dan Rhoma Irama

KolomAntara Hakim dan Rhoma Irama

Pandemi tidak selamanya menjadi kisah nestapa. Pandemi bisa juga menjadi momen merenung dan bersuka cita. Youtube melapangkan jalan untuk itu. Saya bisa menikmati lagu-lagu Arab, yang dulu pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup selama kuliah di Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir. 

Ada banyak lagu-lagu Arab yang menjadi kesukaan saya dulu, di antaranya lagu-lagu yang disenandungkan Ummu Kultsum, Magda Rumi, ‘Amru Diab, Kazeem Saher, Raghib ‘Allamah, Muhammad Fuad, Musthafa Qamar, Ihab Taufiq, dan lain-lain. Tapi, yang ada satu musisi yang membawa kesan khusus hingga sekarang ini, yaitu Hakim. 

Para mahasiswa yang kuliah Pada tahun 90-an hingga tahun 2000-an pasti mengenal sosok Hakim. Sebab lagu-lagunya selalu diputar di angkutan umum, Eltramco, bus, dan taksi, yang biasa ditumpangi para mahasiswa untuk kuliah dan silaturahim dengan para kerabat sesama warga perantauan.

Hakim, nama aslinya Abdul Hakim. Tapi orang tuanya biasa memanggilnya Hakim. Ia tuturkan seluruh perjalanan hidupnya yang penuh lika-liku dan pelajaran berharga dalam sebuah talk show bersama Mona Elshazly di CBC TV. Saat pandemi ini, saya kecanduan menonton acara Ma’akum Mona Elshazly. Acaranya menginspirasi, mendidik, mencerahkan, dan mengasah kemampuan saya dalam berbahasa Arab ala Mesir.

Hakim menciptakan sebuah genre baru dalam lagu-lagu Arab, yaitu lagu populis, musiqi sya’bawi. Lagu yang menghibur dan mengajak warga Mesir bergoyang secara seketika. “Saya diberkati Tuhan, bahwa lagu-lagu saya membuat warga Mesir tersenyum sumringah dan bergoyang. Bahkan, mereka yang melihat wajah saya langsung tersenyum. Sungguh, ini sebuah kebahagiaan bagi saya”, ujarnya.

Istimewanya, Hakim menuturkan lagu-lagunya terinspirasi dari qira’at dalam bacaan al-Quran, seperti sika. Ia belajar irama bacaan di al-Azhar. Tempat ia menempa pendidikan, sejak kelas menengah, menengah atas, hingga kuliah. Saya hanya terperanjat mendengarkan penjelasan Hakim, karena penuturannya ini merupakan hal yang benar-benar baru.

Lagu-lagu Hakim yang selama ini terbilang sederhana, mengajak kita untuk tersenyum dan bergoyang, rupanya mempunyai filosofi yang sangat mendalam. Ia ingin agar kehidupan selalu dirayakan dengan penuh tawa dan riang gembira. Panitia Nobel Perdamaian, Norwegia menyatakan lagu-lagu Hakim telah berhasil melakukan revolusi kebudayaan. Sebab itu, ia diundang untuk bernyanyi dalam rangkaian kegiatan pemberian Nobel Perdamaian. Pencapaian yang sangat luar biasa bagi penyanyi Mesir.

Lagu-lagu Hakim ini mengingatkan saya pada musik dangdut dalam konteks kita. Dangdut merupakan berkah bagi negeri ini, karena mampu menghibur sebagian besar warga. Setiap mendengar dangdut, warga terhibur, ingin bergoyang, dan menemukan kejembaran dalam hatinya. Dan kita semua tahu, bahwa kita mempunyai “Raja Dangdut”, yaitu H. Rhoma Irama.

Baca Juga  Belajar Nasionalisme dari Syekh Ali Jaber

Dangdut telah menjadi musik yang sangat populer di tengah-tengah masyarakat kita, sehingga membentuk kesadaran kebudayaan. Andrew N. Weintraub dalam Dangdut Stories: A Social and Musical History of Indonesia’s Most Popular Music, melakukan penelitian khusus dengan musik dangdut, khususnya Rhoma Irama. Ia memandang dangdut sebagai musik populer yang mampu menghibur dan membangun identitas kebudayaan kita.

Baca Juga  Gus Dur, Pahlawan HAM

Lagu-lagu Rhoma Irama penuh romantika dan dakwah yang mencerahkan. Selain itu, kita juga dapat mendengarkan genre musik-musik dangdut yang sudah menyatu dengan kekhasan daerah, seperti campursari, tarling, dan lain-lain. Bahkan, kalau saya amati beberapa daerah yang bercorak melayu, titik-temunya pada dangdut. Dulunya, musik melayu dapat dikatakan sebagai cikal-bakal lahirnya musik dangdut hingga berkembang sedemikian rupa pada masa sekarang ini.

Sungguh, kita beruntung mempunyai musik dangdut yang dipopulerkan oleh Rhoma Irama dan beberapa musisi lainnya, bertahan hingga sekarang ini. Saya bahkan sampai pada kesimpulan, bahwa dangdut menjadi bagian dari kebudayaan kita yang mampu membentuk jatidiri kita sebagai bangsa. Jatidiri bangsa yang murah senyum, riang-gembira, dan mambangun tepo seliro.

Saya sendiri pernah berjumpa dengan Rhoma Irama. Saya mengucapkan terima kasih yang terhingga. Sebab dari kecil, saya dikenalkan pada lagu-lagunya, yang membuat saya terhibur. Bahkan, selama kuliah di al-Azhar Kairo, jauh dari kampung halaman, saya dihibur oleh lagu-lagu dangdut, khususnya Rhoma Irama. Hampir sebagian besar, karya-karya saya lahir ditemani lagu-lagu dangdut.

Hakim di Mesir dan Rhoma Irama di Indonesia merupakan dua fenomena yang mampu membangun kebudayaan, sehingga kita memahami sebagai manusia harus mengalirkan energi positif. Apalagi di tengah pandemi ini, kita jangan lupa bahagia dan tertawa. Karena tertawa dan bahagia akan meningkatkan imunitas tubuh, sehingga kita selalu sehat. Seketika, saya teringat pesan Rasulullah SAW, “hendaklah kalian menyebarkan kegembiraan, bukan ketakutan.”

Hakim dan Rhoma Irama adalah potret sosok Muslim yang berhasil membangkitkan kegembiraan dan senyum merekah. Dan karena itu pula, sangat aneh jika ada musisi yang hijrah dan menyatakan musik itu haram. Ia lupa, bahwa lagu-lagunya telah membuat banyak orang gembira, termotivasi, dan tercerahkan. Terima kasih Hakim dan Rhoma Irama.

Zuhairi Misrawihttp://IslamRamah.co
Intelektual Muda Nahdlatul Ulama, Ketua Moderate Muslim Society (MMS), Jakarta
Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.