Quraish Shihab: Hari Kiamat Menurut Al-Quran

KhazanahHikmahQuraish Shihab: Hari Kiamat Menurut Al-Quran

Beriman kepada Hari Akhir itu wajib bagi umat Islam. Al-Quran menginformasikan adanya surga dan neraka sebagai balasan segala perbuatan yang dilakukan di dunia, bertujuan untuk merangsang manusia berbuat baik. Namun, pembahasan tentang surga dan neraka oleh banyak masyarakat, direspons secara berlebihan dan di luar pemahaman nalar. Itu sebabnya, kita harus meninjau kembali apa yang sebenarnya dibicarakan al-Quran tentang keduanya.

Tak ayal, jika ada seorang anak secara polos mengatakan, “Aku selalu takut mendengar cerita tentang neraka dan selalu senang ketika mendengar cerita tentang surga”, ungkap Najeela Shihab yang bertanya kepada sang ayahanda, Quraish Shihab dalam kanal Semua Murid Semua Guru (11/06/2017).

Menurut Quraish Shihab, kendati al-Quran berbicara surga dan neraka, tetapi al-Quran tidak menekankan pada kedua aspek tersebut. “Ada aspek lain, yang justru harus ditekankan pada masyarakat, termasuk pada anak-anak”, ungkap penulis Tafsir Al-Misbah.

Sementara itu Ela sapaan akrab Najeela Shihab menanggapi, memang terkadang kecenderungan untuk menyederhanakan pendidikan agama, masyarakat pada umumnya hanya berfokus pada surga dan neraka, karena dinilai paling mudah untuk mengglobalkan ajaran agama. “Neraka sebagai ancaman, dan surga seolah-olah, tanda kutip sebagai sogokan untuk memengaruhi perilaku”, kata Ela.

“Adapun aspek yang sebenarnya ditekankan al-Quran di antaranya, utamanya manusia. Bagaimana asalnya dan akibat dari perbuatannya serta bagaimana ia mendapat ketenangan hidup”, papar Prof. Quraish.  

Pimpinan Pusat Studi Al-Quran menambahkan, aspek penekanan berikutnya al-Quran mendorong manusia untuk mengetahui tentang alam raya, ilmu pengetahuan. “Dengan ini, anak menjadi sadar adanya Tuhan. Selanjutnya aspek tentang kisah-kisah yang menarik sekaligus bermanfaat untuk diceritakan” ungkapnya.

Sebagaimana yang dijelaskan Prof. Quraish, Ela menanggapi bahwa penjelasan surga dan neraka itu hanya aspek kecil dari al-Quran. Mungkin karena mengajarkan ilmu pengetahuan, kisa-kisah, dan lainnya lebih sulit. Itu sebabnya, orang-orang cenderung hanya mengajarkan yang mudah menurutnya dan mudahnya ini dengan cara menakut-nakuti yang berlebihan. Dalam proses mendidik anak mengenai agama, cara seperti ini tidak sesuai dengan tuntunan al-Quran.

Baca Juga  Perbedaan itu Identitas Islam

Pendiri PP. Bayt Al-Quran juga mengatakan hal semestinya yang harus ditonjolkan menyangkut Tuhan adalah kasih sayang dan rahmatnya. “Jadi harusnya diceritakan betapa anak itu senang, bahagia, pada saat membayangkan Hari Kemudian”, tanggap Ela.

Lantas Ela menceritakan masa kecilnya dulu yang merasa ketakutan pada saat mendengar komik yang dibacakan bersama teman-temannya tentang kisah jembatan Shirathal Mustaqim.

“Pada saat Kiamat, manusia akan meniti jembatan bagaikan rambut yang dibelah tujuh dan itu sangat menakutkan, untung ada Abi pas waktu itu dan bertanya. Kata Abi Ela jangan takut, jalan menuju surga itu sangat luas dan lebar. Insya Allah kita semua bisa memasukinya. Surga yang dimasuki ramai-ramai itu lebih menyenangkan, ketimbang di surga sendirian”, kenang Ela.

Pakar al-Quran ini mencontohkan, demikian orang tua harus belajar bisa mengajari anaknya dengan kegembiraan, bukan ketakutan. “Kemungkinan orang yang jatuh itu karena jalannya di pinggir. Jadi berjalanlah di tengah agar selamat. Untuk anak yang bertanya ini, kalau dia takut, ia harus mencari sebab-sebab yang membuatnya tidak takut. Yakni dengan mempersiapkan diri hidup dengan bertanggung jawab, taat kepada Tuhan, orang tua, hukum, dan undang-undang”, terang Prof. Quraish Shihab. 

Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.