Kiswah Menambah Keindahan Ka’bah

Dunia IslamKiswah Menambah Keindahan Ka’bah

Mekkah menjadi istimewa karena Ka’bah. Itu sebabnya, penggunaan kiswah sebagai kain pembungkus merupakan salah satu hal yang signifikan dan populer dari Ka’bah, sehingga keberadaannya menambah kesan yang kian mewah, indah, dan menakjubkan.

Meski jarang disadari, tentunya kita tidak asing dengan tulisan kaligrafi atau hiasan bernuansa Masjidil Haram yang melekat pada dinding rumah, berwarna hitam dan emas. Hiasan tersebut menunjukkan keistimewaan kiswah Ka’bah sekaligus simbol kerinduan pada Kota Suci Mekkah agar umat Muslim dapat bertandang ke rumah Tuhan.

Menguti al-‘Umary dalam Masalik al-Abshar, dalam buku Mekkah, Kota Suci, Kekuasaan, dan Teladan Ibrahim (2018) karya Zuhairi Misrawi, tepatnya pada 220 tahun sebelum hijriah, Tuba’ Abu Karb As’ad adalah sosok yang membungkus Ka’bah dengan kain. Melalui mimpinya, ia mendapati dirinya membungkus Ka’bah dengan kiswah. Di samping itu, ia membuatkan pintu dan kunci untuk Ka’bah. Sejak saat itu, Ka’bah dibungkus dengan kiswah dan mendapat perhatian banyak masyaraakat.

Keberadaan Ka’bah sangat sakral bagi penganut ajaran monoteisme dan umat Islam kini. Oleh karena itu, segala yang terkait dengan kiswah, baik dari proses pembuatan, pembawaan, dan peletakannya diperhatikan secara total dan terhormat. Qushay yang relatif kaya mengeluarkan anggaran untuk mengganti pakaian Ka’bah setiap tahun. Tidak ketinggalan pula kabilah lain melakukan hal yang sama.

Pada masa awal, kiswah paling populer didatangkan dari negeri Piramida, Mesir, yang berasalkan dari kulit hewan. Setiap mereka yang berpartisipasi tentang kiswah merasa memiliki kehormatan dan kebanggan diri sendiri dalam mengagungkan baitullah, karena latar historis dan teologis Ka’bah.

Adapun warna hitam kiswah yang kita kenal saat ini, bukan satu-satunya warna yang dikenakan sejak awal. Kiswah beberapa kali mengalami perubahan warna pada setiap zamannya. Pada masa-masa awal, kiswah ini berwarna putih. Kemudian pada masa Nabi Muhammad SAW menutupinya dengan kain dari Yaman bergaris putih dan merah. Lalu pada masa Abu Bakar as-Shidiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan menutupinya dengan kain putih. Ibn Zubair menutupinya dengan warna merah.

Baca Juga  Sakdiyah Ma’ruf: Isu Perempuan bukan Isu Sensitif
Baca Juga  Sakdiyah Ma’ruf: Isu Perempuan bukan Isu Sensitif

Selanjutnya pada masa Dinasti Abbasiyah, Khalifah al-Ma’mun pernah membungkus Ka’bah dengan kain sutra, pada musim haji dibungkus dengan kain berwarna merah, sementara pada bulan Rajab dengan kain warna putih. Pada masa Khalifah An-Nasir pernah menggunakan kiswah berwarna hijau kemudian warna hitam, hingga kini pilihan warna tersebut dipatenkan dan menjadi ciri khas Ka’bah masa sekarang. Desain kiswah juga diramaikan dengan tulisan kaligrafi indah yang berlapiskan emas dan perak.

Sejak Ka’bah berada dalam otoritas kerajaan Arab Saudi, segala perkara operasional menjadi tanggung jawabnya, tak terkecuali persoalan kiswah. Demikian kerajaan Arab Saudi telah mengontrolnya dengan sangat baik, sehingga Masjidil Haram menjadi zona nyaman bagi setiap pengunjung, kian terlihat menarik dan modern, meski begitu kemodernannya sedikitpun tidak mengurangi nilai kuat kesakralan yang ada dalam Ka’bah. Semoga kita semua mendapat kesempatan untuk bertandang ke Ka’bah dan meraih keberkahan darinya. Amin

Artikel Populer
Artikel Terkait

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.