Buya Arrazy Hasyim: Hidup Bahagia Menurut Imam al-Ghazali

BeritaBuya Arrazy Hasyim: Hidup Bahagia Menurut Imam al-Ghazali

Pastinya, semua orang ingin bahagia. Tapi itu tidak mudah. Buktinya, Imam al-Ghazali mengira, bahwa orang bahagia adalah yang banyak hafalannya. Oleh karena itu, ia kemudian menghafal banyak hadis, al-Quran, dan kitab-kitab. Namun setelah menghafal, ternyata ia tak menemukan kebahagiaan di sana.

Ia juga mengira bahwa orang yang pintar adalah yang menguasai ilmu ‘aqliyyat, bisa berpikir keras, dan piawai berdebat. Demikian halnya, setelah belajar ilmu mantik, filsafat, dan menang berdebat, ia tak kunjung bahagia. Beragam gelar, kekayaan, dan popularitas yang ia sandang juga tak membawa kebahagiaan.

Buya Arrazy Hasyim dalam kanal Youtube binaannya, Ribath Nouraniyah, memberikan penjelasan tentang pengembaraan Imam al-Ghazali dalam menemukan definisi dari kebahagiaan. “Semua ilmu (yang dipelajari) tadi merupakan pengalaman Imam al-Ghazali mencari kebahagiaan(as-sa’adah)”, tutur Buya berdarah Minang ini.

Setelah berproses, sampailah Imam al-Ghazali pada pemahaman bahwa inti kebahagiaan(kimiya as-sa’adah) dimulai dari mengenali diri(ma’rifatu an-nafs). Karena seseorang yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya. Inti kebahagiaan merupakan hal yang berharga. Umumnya, sesuatu yang berharga tidak disimpan di tempat biasa, tapi di tempat yang baik dan terjaga. Begitupun dengan inti kebahagiaan, ia tersimpan di khazanah Allah.

Doktor yang menulis buku Teologi Muslim Puritan, Genealogi dan Ajaran Salafi ini menambahkan, bahwa khazanah kimia kebahagiaan di dunia ini dibawa oleh para nabi. Mereka adalah utusan Allah yang arif dan penuh hikmah. Oleh karena itu, siapa yang ingin mencari kebahagiaan sejati tapi tidak melalui jalur ajaran para nabi, ia telah keliru menempuh jalan. Orang demikian, bagaikan dinar yang berkilau, mengira dirinya kaya padahal merugi di hari kiamat.

Baca Juga  Waspada Ustadz Dadakan!
Baca Juga  Terorisme Keluarga, PR Kita Bersama

Para Nabi mengajarkan manusia menempa kalbu, seperti pandai besi yang menempa besi supaya menjadi senjata yang tajam. Tempaan rohani yang diajarkan utusan-utusan Allah tersebut ditujukan agar manusia berusaha membersihkan hati dari akhlak-akhlak tercela dan sifat-sifat kebinatangan yang menghalanginya dari kebahagiaan sejati. Kemudian menjadikan sifat-sifat malaikat yang mulia sebagai karakter yang menghiasi mereka.

“Rahasia dari kebahagiaan adalah, engkau berangkat dari dunia menuju Allah dalam keadaan fokus menghadap kepada-Nya, berlepas dari selain-Nya, dan hanya berkiblat kepada-Nya. Demikian yang dikatakan Imam al-Ghazali”, pungkas Buya yang juga mendalami kajian tasawuf ini.

Jika diringkas, inti/kimia kebahagiaan hanya melalui jalan-jalan kenabian. Lebih lanjut, bahwa kebahagian hakiki manusia berbeda dengan kebahagiaan binatang yang hanya senang makan, minum, berkawin, ataupun kehendak memangsa yang lain. Adapun kebahagiaan sejati manusia mirip dengan malaikat, yaitu kembali memandang Allah SWT. (KA).

Artikel Populer
Artikel Terkait