Dalam menyampaikan dakwahnya, Nabi SAW tidak hanya menggunakan manhaj atau metode personal dari mulut ke mulut atau diskusi (al-mujadalah), melainkan melangsungkan dakwah Islam melalui Pendidikan. Bahkan, metode dakwah ini telah dilakukan ketika Nabi SAW masih berada di Makkah (masa pra-hijrah). Dar al-Arqam adalah lembaga pendidikan atau pesantren pertama di masa Nabi. Ia merupakan bukti, bahwa Nabi SAW berdakwah melalui Pendidikan.

Sebelumnya telah kita ketahui bersama, bahwa selama tiga tahun pertama di Makkah, Nabi Muhammad SAW berdakwah kepada masyarakat setempat secara sembunyi-sembunyi. Maksudnya, beliau menjalankan dakwah dengan cara personal, rahasia, dari mulut ke mulut. Dimulai dari orang-orang terdekatnya, yaitu istrinya, Khadijah yang diyakinkan oleh sepupunya, Waraqah ibn Nawfal. Kemudian sepupunya, Ali dan teman sesukunya, Abu Bakr.

Hal itu merupakan langkah dan strategi yang cemerlang, mengingat jumlah masyarakat Arab Islam pada saat itu masih sangat sedikit. Sementara masyarakat dan pemuka suku Quraisy penyembah berhala masih sangat mendominasi, baik dalam kekuatan jumlah, ekonomi, dan politik. Bayangkan saja jika dakwah Islam dilakukan secara terang-terangan sejak awal, bisa jadi umat Islam melemah sebelum berkembang. Meskipun memang olokan dan makian itu tidak dapat dihindari sejak awal Islam disampaikan.

Selanjutnya, ketika jumlah kaum Muslim mancapai sekitar 30-an, Nabi mulai melakukan perubahan metode dakwah, dari metode personal ke metode pendidikan. Rumah milik al-Arqam ibn Abu al-Arqam yang dikenal dengan dar al-Arqam, menjadi tempat pertama dakwah Pendidikan Nabi SAW. Dari sinilah, perjuangan dakwah Nabi melalui Pendidikan dimulai.

Rumah al-Arqam terletak di kaki bukit Shafa dekat Masjidil Haram. Alasan yang dapat dikemukakan mengapa Nabi lebih memilih berdakwah di rumah al-Arqam daripada kediamannya sendiri, yaitu karena lokasi rumah al-Arqam dekat dengan Ka’bah. Untuk itu, para santri atau umat Islam awal dapat dengan mudah beribadah di Masjidil Haram. Selain itu, kondisi keamanan menjadi alasan khusus mengapa Nabi tidak melaksanakan dakwah di rumahnya sendiri.

Setidaknya ada tiga alasan mengapa rumah al-Arqam dapat dikatakan sebagai pesantren pertama dalam Islam. Pertama, peran Nabi SAW sebagai pengajar full time, yang setia menemani para sahabat untuk belajar dan mempraktikkan ajaran Islam di tempat tersebut. Hal ini nyatanya sangat serupa dengan pesantren pada masa sekarang, di mana peran pengajar tidak hanya mendidik dalam beberapa waktu yang terbatas, melainkan membimbing dan merangkul para santri agar dapat menghayati ajaran Islam dalam keseharian.

Kedua, adanya para santri, dalam konteks ini, para santri yang dimaksud adalah para sahabat Nabi Muhammad SAW. Pada saat itu, para santri bertambah secara berangsur-angsur, meskipun tidak secara signifikan. Umar ibn al-Khattab adalah salah satu pengikut yang masuk Islam di Dar al-Arqam ini, tepatnya pada tahun ke-6 dari kenabian.

Setelah Umar masuk Islam, kaum Muslim yang selama ini berdiam diri di dar al-Arqam mulai menampakkan wajahnya ke tempat umum. Tampak Tangguh mereka mengucap takbir. Bahkan, pergi ke ka’bah untuk beribadah, tanpa rasa takut. Salah satu faktor yang mendorong keberanian umat Islam pada saat itu adalah kesaktian Umar ibn Khattab yang dengan gagahnya melawan orang-orang musyrik yang menghujat dan melukai umat Islam.

Ketiga, penyebutan Dar al-Arqam sebagai pesantren pertama di masa Nabi adalah kedekatannya dengan Masjid, sebagaimana disinggung di atas. Masjidil Haram menjadi tempat beribadah umat Islam, di samping rumah al-Arqam yang digunakan untuk mukim dan mempelajari ajaran Islam. keberadaan masjid dalam pesantren merupakan keharusan sebab masjid adalah komponen krusial, karena hanya di masjid para santri dapat mempraktikkan ibadah.

Oleh karena itu, tidak berlebihan jika Dar al-Arqam dikatakan sebagai pesantren pertama atau lembaga pendidikan pertama di masa Nabi SAW. Pendidikan di rumah al-Arqam nyatanya telah memenuhi tiga komponen minimal pesantren, yaitu pengajar, santri, dan masjid. Di samping itu, tempat yang juga dikenal sebagai Dar al-Islam (Rumah Islam) inilah yang selanjutnya diadopsi oleh lembaga pendidikan di masa sekarang.[]

%d blogger menyukai ini: