Dakwah-dakwah Islam saat ini selalu menjadikan syurga dan neraka sebagai alat untuk mendiskriminasi dan menghakimi seseorang. Keadan ini menjadikan Islam terkesan sangat menakutkan dan sangat sempit. Selain itu, kita juga masih disibukkan dengan perdebatan kolot tentang khilafah, dalil tahlil, dalil ziarah kubur, dalil nasionalisme, bid’ah dan sebagainya. Meski eranya telah modern, abad 21, hal-hal semacam ini masih menjadi gayeman hampir setiap waktu. Yang pada akhirnya, sesama Muslim saling mengafirkan. Perkara-perkara di atas itulah yang kemudian menjadi penghambat bagi kemajuan Islam dan bangsa yang menjadi tempat berlangsungnya perjalanan Islam. Oleh karenanya, Islam berkemajuan ala Bung Karno harus terus dibumikan.

Perjumpaan Bung Karno dengan Islam, dalam konteks ajaran yang ketat, diawali dengan perkenalannya dengan H.O.S Tjokroaminoto, yang kemudian menjadi gurunya semasa kecil hingga tumbuh remaja. Melalui H.O.S Tjokroamnioto inilah, Bung Karno mulai menyelami Islam secara mendalam beserta ajaran-ajarannya yang begitu luas. Bung Karno adalah orang yang sangat gemar membaca, oleh karenaya, ia tidak hanya menunggu gurunya, yakni H.O.S Tjjokroaminoto memberikan ilmu-ilmu Islam, tetapi ia juga memiliki kemandirian dan kemauan lebih untuk tau lebih jauh tentang Islam.

Hal itu dibuktikan dengan ia banyak membaca karya pemikir Islam dunia dan Nusantara. Ini yang kemudian menjadi satu paket pemahaman ajaran Islam yang begitu lengkap dan mumpuni yang terdapat pada diri Bung Karno. Baginya, menjadi Muslim haruslah mengamalkan Islam dengan orientasi kemajuan, progresif. Menurut Bung Karno, sistem khilafah Islamiyah adalah kemunduran zaman. Sedangkan kita semua, masyarakat Indonesia minta maju, kata Bung Karno. Maju ke depan, maju ke muka, maju ke tingkat yang kemudian, dan tak mau di suruh kembali. Kembali ke zaman khilafah.

Bagi Bung Karno, mengapa sistem khilafah disebut sebagai zaman kemunduran, adalah karena secara pemikiran terlalu berhalusinasi dalam mengembalikan kejayaan Islam masa lalu untuk dihadirkan kembali pada era ini. Padahal, masa lalu memiliki alam pikiran sendiri dan tak selalu cocok dengan era kekinian. Justru yang dibutuhkan saat ini adalah selalu mengikuti arus zaman, dengan segala konskuensi perubahannya. Bung Karno telah jauh-jauh hari mengingatkan, bahwa menjadi Muslim yang maju tidak harus menjalankan prinsip syarat dalam ketatanegaraan. Justru ajaran Islam menjadi maju dengan cara saling bersinergi dengan alam pikiran modern yang berkembang.

Progresifitas pemikiran Islam ala Bung Karno yang berorientasi pada kemajuan ini, harus dilihat dari bagaimana ia dapat mempertemukan antara ajaran Islam yang berupa ritual keagamaan sekaligus memproduksi keilmuan modern. Artinya, seorang Muslim harusnya memiliki daya saing yang tinggi dan juga terlibat dalam menciptakan ilmu pengetahuan modern. Menjadi Muslim tak boleh hanya sekedar mengamalkan ritual-ritual kegamaan semata. Lebih dari itu, seorang Muslim harus mensinergikan dengan perkembangan zaman dan menyadari pentingnya kedua hal itu dapat bersatu, khususnya dalam membangun kemajuan peradaban umat manusia.

Di era modern ini, tampak bahwa umat Islam mengalami ketertinggalan yang amat jauh dengan tradisi pemikiran Barat. Atas dasar itu, menjadi kewajiban kita umat Islam untuk menyongsong ketertinggalannya dan membangun masa depan yang lebih menjanjikan, satu diantarnya yaitu dengan membumikan pemikiran Islam progresif ala Bung Karno.

Pertama, kita mesti menyadari, dalam perihal agama, Islam adalah alat pemersatu, karna Islam mengandung semangat persaudaraan. Kedua, Islam harus menerima kemajuan ilmu pengetahuan. Selogan Islam is progres saya artikan, bahwa kita mesti solutif mencari dan menemukan konsep baru yang lebih relevan sesuai kebutuhan dan kemajuan zaman. Seperti yang ditegaskan Bung Karno, bahwa dalam hukum syariat bukan hanya haram, makruh, sunnah, dan fardlu saja, tetapi adapula barang mubah atau jaiz.

Alangkah baiknya, kata Bung Karno, kalau umat Islam lebih ingat pula kepada apa yang mubah atau jaiz ini. Alangkah baiknya, sambung Bung Karno, kalau kita ingat, bahwa kita dalam urusan dunia, di dalam urusan statesmanship, boleh bergelas, boleh berbid’ah, boleh membuang cara-cara dulu, boleh mengambil cara-cara baru, boleh ber-radio, boleh ber-kapal udara, boleh berlistrik, boleh bermodern, asal tidak nyata dihukum haram atau makruh oleh Allah dan Rasulullah.

Sementara kekolotan-kekolotan di era modern masih bisa kita saksikan saat ini. Terbaru mengenai vaksin Covid-19 misalnya. Berdasarkan survai yang dilakukan Kementerian Kesehatan dan Indonesian Technical Advisory Group on Imunization (ITAGI) mengungkap, ada sekitar 8 persen masyarakat menolak vaksinasi Covid-19, dengan diantara alasanya ialah karna tidak percaya vaksin dan keyakinan agama. Inilah contoh kecil masih kolotnya pengetahuan masyarakat, meski zaman telah modern.

“Islam yang sejati tidaklah mengandung asas anti nasionalis; Islam yang sejati tidaklah bertabiat anti sosialistis. Selama kaum Islamis memusuhi kaum nasionalisyang luas budi dan Marxisme yang benar, selama itulah kaum Islamis tidak berdiri di atas Shirothol Mustaqiem, selama itu tidaklah ia bisa mengangkat Islam dari kenistaan dan kerusakan hati” (Soekarno, 1964). Sebagai seorang revolusioner, Bung Karno memang mampu menjembatani berbagai pemikiran menjadi satu paket kesatuan yang utuh. Ide Marxisme ia gabungkan dengan Islamisme, dan nasionalisme. Puncaknya, gabungan tiga unsur tersebut melahirkan apa yang kita kenal sekarang sebagai ideologi negara, yakni Pancasila.

Dalam konteks Islam berkemajuan, Bung Karno memang tidak memiliki pemikiran yang utuh dan sistematis, tetapi dengan melihat beberapa faktor utama mengapa umat Islam mengalami kemunduran, maka akan sedikit menghantarkan kita pada pemikiran progresif, Islam yang berkemajuan ala Bung Karno.

Banyak umat mengalami ketertinggalan menurut Bung Karno disebabkan kurangnya ulama yang mempelajarai sejarah. Fenomena ini yang sedang kita alami sekarang. Banyak ustadz dan penceramah agama yang masih bersikukuh mendirikan khilafaah, mempersoalkan ideologi negara, bahkan menolak lagu kebangsaan Indonesia Raya. Saya yakin, ini akibat dari tidak minimnya para ustadz dan penceramah agama mengetahui sejarah.

Padahal, dengan memahami sejarah kita akan dapat memahami kekuatan-kekuatan masyarakat beserta kemajuan dan kemundurannya. Bung Karno mengharuskan umat Islam untuk lebih terbuka, agar wawasan keagamaan dan kebangsaannya dapat berkembang, serta mampu mengintegrasikan dengan keilmuan modern. Pemikiran yang eksklusif dan tertutup, justru akan menjadikan umat Islam mandul dan tidak berkembang. Bung Karno menegaskan, Islam is progres, yang kemudian Bung Karno mengutip pendiri Republik Turki, Musthofa Kemal Ataturk yang mengatakan, bahwa Islam tidak menyuruh orang duduk termenung, sehari-hari di dalam masjid memutar tasbih, tetapi Islam ialah perjuangan.

Membumikan pemikiran Islam berkemajuan ala Bung Karno menjadi penting, mengingat masih maraknya intoleransi beragama kita di tengah masyarakat. Pemikiran eksklusif yang masih merebak menjadikan kita mudah terpecah belah satu sama lain, padahal Islam sendiri adalah alat persaatuan. Jangan sampai, bangsa lain sudah terbang jauh ke Pluto, kita masih sibuk berdebat khilafah dan bid’ah. Membumikan pemikiran Islam berkemajuan ala Bung Karno adalah jawaban kemunduran Islam saat ini, khususnya di Indonesia.

%d blogger menyukai ini: