Bulan Juni, memiliki tempat tersendiri di relung hati masyarakat Indonesia. Tidak saja karena di bulan ini Pancasila dilahirkan, tetapi juga Bung Karno sebagai yang membidani Pancasila lahir. Pancasila menjadi tonggak awal Indonesia menatap kemerdekaan dan harapan emas masa depan. Bagaimana tidak? Indonesia menjadi salah satu bangsa yang masyarakatnya digelapkan oleh peradaban, sebab penjajah selama berabad-abad. Karena itu, tidak mengherankan jika kelahiran Pancasila menjadi harapan baru Indonesia menapaki dunia baru.

Pancasila menjadi representasi terhadap kultur-sosial masyarakat kita, dasar falsafah dalam berbangsa dan bernegara, serta konsensus dalam menentang penjajahan di atas dunia. Maka dari itu, tidak mengherankan jika Indonesia berada di garda terdepan dalam menentang penjajahan Israel terhadap Palestina. Sebab, dengan tegas Pancasila sebagaimana ditafsirkan dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945, “bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Sebagai falsafah negara, tentu Pancasila ada yang merumuskannya dan Bung Karno merupakan salah satunya. Pancasila merupakan karunia yang tiada tara dari Tuhan Yang Maha Esa kepada bangsa Indonesia. Pancasila menjadi sumber cahaya bagi seluruh bangsa Indonesia dalam membangun peradaban di masa yang akan datang. Dalam konstruksi pembangunan bangsa, Pancasila merupakan sumber energi sebagai kekuatan dan sekaligus pedoman dalam memperjuangkan kemerdekaan, menjadi alat pemersatu membangun kerukunan berbangsa, serta sebagai pandangan hidup sehari-hari bagi bangsa.

Dari sini, dapat kita ketahui bersama begitu besarnya makna Pancasila sebagai dasar negara. Pancasila memberikan arti yang mendalam bagi segenap rakyat Indonesia tentang kemerdekaan setiap bangsa-bangsa. Dijabarkan dalam pembukaan UUD 1945 alinea ke-4, bahwa “kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial,,,.”

Hal yang sama dapat kita lihat dari sosok Bung Karno, presiden pertama kita yang tiada henti berjuang membela Palestina meraih kemerdekaannya dari Israel. Walaupun, Bung Karno sendiri belum pernah menjajakan kakinya di Palestina, tetapi dukungannya terhadap kemerdekaan Palestina tak terbantahkan dan selalu konsisten. Bukan sekadar lewat kata-kata, tapi juga dibuktikan melalui tindakan nyata.

Dalam satu kesempatan pidatonya pada tahun 1962, ia mengatakan, bahwa “selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel. Hal ini tentu tidak semata-mata karena Palestina merupakan negara berpenduduk Muslim dan menjadi salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan kita. Jauh daripada itu, merupakan konsistensi Indonesia yang menentang segala bentuk penjajahan di atas dunia, sebagaimana amanat Pancasila yang diinterpretasikan dalam UUD 1945.

Oleh karena itu, di bulan Juni ini, bulan Pancasila dan Bung Karno, sudah seharusnya dapat dijadikan sebagai momen untuk kita dapat mendalami apa itu Pancasila? Sejauh mana Pancasila menjadi garda terdepan menentang penjajahan dan kekerasan terhadap kemanusiaan. Nilai-nilai dan semangat berpancasila tidak boleh luntur dan lekang dimakan zaman. Sebaliknya, Pancasila harus menjadi energi positif untuk kita menatap masa depan dan keras menentang penjajahan. Sebab, kemerdekaan merupakan hak semua bangsa dan umat manusia.

Singkat kata, atas nama keadilan, kebebasan, dan kemanusiaan, di bulan Pancasila ini, mari kita bergandengan tangan mendoakan dan mendukung kemerdekaan rakyat Palestina.

%d blogger menyukai ini: