Indonesia dikenal sebagai negara berpenduduk mayoritas Muslim. Berdasarkan “Statistik Umat Menurut Agama di Indonesia” yang dirilis Kemenag RI 2018 lalu, 86,7% penduduk negeri ini adalah Muslim. Bahkan negeri kita adalah rumah bagi 12,7% populasi Muslim dunia. Uniknya, walaupun Indonesia adalah negeri Muslim yang besar, wujud negaranya bukanlah ‘negara Islam’ seperti yang diharapkan sekian kelompok politik Islam. Kita patut berbangga, karena sejak awal berdirinya, negara kita telah berada di garis depan untuk mengembangkan model baru budaya bangsa yang Islami, tanpa terseret perdebatan dan konflik klasik tentang tata negara Islam, apalagi negara sekuler.

Para pendiri bangsa kita telah mendefinisikan ulang hubungan antara agama dan negara. Satu hal yang paling menonjol dalam menemukan jati diri bangsa ini ialah lahirnya Pancasila, yaitu asas yang mempertemukan berbagai keberagaman, suku, bahasa, adat istiadat, dan agama, yaitu Pancasila. Kekuatan di balik Pancasila adalah nilai-nilainya dapat menyatukan berbagai ideologi. Jadi, apapun keyakinan maupun kepercayaannya, orang Indonesia pasti akan cocok dan sepakat dengan perinsip hidup yang tercantum dalam Pancasila, tidak terkeculi orang Islam.

Bagi umat Islam, Pancasila dapat melahirkan bangsa yang Islami. Lima sila dasar dalam Pancasila menyala-nyala dan menunjukkan kepada dunia bahwa keyakinan suatu bangsa terhadap ketuhanan, akan mengarah pada keadilan. Ideologi yang demikian itu sangat sesuai dengan visi Islam sendiri. Sangat disayangkan apabila masih ada saja sebagian Muslim yang belum sulit menerima Pancasila sebagai landasan negara, yang sebenarnya sudah sangat cukup untuk dikatakan Islami. Ideologi Pancasila pun sering dituduh sebagai produk Barat yang sekuler dan tidak berakar dari Islam. Padahal, Pancasila merupakan inovasi di dunia Islam yang amat penting bagi berkembangnya Islam yang ramah dan luhur di negeri ini, bahkan di dunia saat ini.

Dilihat dari sudut manapun, Pancasila itu jelas Islami. Sebab, selain dirumuskan oleh orang-orang Islam yang shalih, yang memastikan bahwa kalimat dalam kelima sila dasar negara ini sesuai dengan nilai-nilai pokok dalam Islam, keputusan untuk menjadikan Pancasila sebagai asas berdirinya bangsa dan negara kita pun merupakan kearifan metolologis yang sangat Islami. Bagaimanapun, menerapkan Pancasila ialah proses penting dari menerapkan Islam.

Umat Islam seharusnya paham bahwa sistem Islam itu berdiri di atas prinsip tahapan dan keseimbangan, yang kita kenal dengan istilah ‘Tadarruj’ atau gradualisme. Tadarruj adalah sunatullah tentang proses atau tahapan-tahapan dalam menerapkan atau mengembangkan sesuatu. Berlakunya tadarruj merupakan hukum alam, tidak ada yang dilahirkan dengan kemampuan untuk berlari sebelum tahu cara merangkak dan berjalan, tidak ada yang dapat membaca sebelum mengeja. Pentingnya tahapan-tahapan atau proses tentu wajib kita sadari, termasuk dalam membentuk masyarakat yang Islami

Sejak awal kemunculannya, Islam adalah agama tanpa paksaan. Mengatur sebuah masyarakat untuk menjadi mukmin yang taat secara instan, tanpa proses yang sesuai dengan tahapan dan kebutuhannya, tentu dapat dikategorikan sebagai sebuah paksaan. Hal itu jelas tidak sejalan dengan ruh Islam sejati. Sebagaimana yang kita ketahui, dibutuhkan waktu yang tidak singkat untuk menyelesaikan turunnya seluruh wahyu-Nya kepada Nabi Muhammad SAW, yakni selama 23 tahun lamanya. Hal demikian mengindikasi pentingnya proses dan langkah-langkah yang memperhalus jalan dalam meraih tujuan, terlebih lagi dalam menerapkan ajaran Islam.

Maka dari itu, jika kita ingin membangun masyarakat Muslim yang sejati, masyarakat Muslim sebaiknya tidak membayangkan bahwa tujuan itu dapat dicapai hanya dengan perintah raja, sultan, khalifah, presiden, parlemen, atau Negara Islam. Sebaliknya, kita harus lebih mengedepankan pendekatan tadarruj. Yakni, melalui tahapan-tahapan perkembangan umat Islam, agar secara ikhlas dan antusias mengadopsi nilai-nilai Islam di semua lapisan masyarakat nantinya.

Gradualisme merupakan elemen yang penting untuk diikuti dalam menerapkan Islam. Saya meyakini bahwa peletakan Pancasila sebagai ideologi bangsa kita adalah bagian penting dari proses menerapkan hati dan jiwa Islam sejati bagi masyarakat Muslim dan negeri ini. Untuk itu, umat Islam harus menyadari bahwa asas negara Pancasila adalah pendekatan yang relevan dan sah, agar substansi Islam dapat berjalan dengan baik sesuai dengan konteks yang ada.

Pada dasarnya, pancasila adalah sekumpulan ijtihad para pemikir Muslim yang merangkum berbagai ideologi menjadi satu rumusan. Hasil kesepakatan tersebut kemudian menjadi landasan kokoh untuk menopang suatu bangsa dan negara yang besar dan terus berkembang, termasuk didalamnya umat Islam. Tidak dapat dipungkiri, Pancasila memuat perinsip-perinsip luhur yang dipengaruhi oleh ajaran Islam. Inilah bukti otentik dari konsep para founding fathers Indonesia, yang mengartikulasikan kearifan dan keshalihan bangsanya, dengan cara yang sesuai dengan dinamika sejarah dan budaya kita sendiri.

Hal demikian merupakan pendekatan yang dipraktikkan Nabi Muhammad SAW, seorang nabi yang dapat mengubah kehidupan pra-Islam yang penuh kemerosotan dan ketidaktahuan, menjadi kehidupan Islam yang tercerahkan. Selama 13 tahun pertama, Nabi SAW berjuang untuk menggoyahkan keyakinan keliru orang Mekah dengan menanamkan perinsip-perinsip iman yang kokoh. Kemudian, selama sepuluh tahun berikutnya, barulah aturan-aturan yang akan dijalani oleh umat Islam mulai diturunkan diterima secara bertahap, seperti larangan alkohol, riba, dan sifat buruk lainnya.

Satu hal yang perlu dipahami di sini, tadarruj atau menerapkan Islam secara halus dan bertahap, serta menyesuaikannya dengan kondisi masyarakat, sama sekali bukan berarti bahwa kita terlalu lamban atau menunda-nunda tercapainya masyarakat Islam. Justru sebaliknya, kita sebenarnya sedang hidup dalam lingkungan masyarakat itu dan menjalani prosesnya.

Kesimpulannya, Pancasila adalah proses penting dalam melahirkan suatu bangsa yang Islami. Pancasila merupakan salah satu model untuk menyatukan agama dengan segala aspek kehidupan suatu bangsa, seperti pada alamnya, budaya manusianya, dan sistem masyarakatnya. Umat Islam dan umat agama apapun di negeri ini, tentu akan senang hidup dalam budaya yang mengikuti prinsip Pancasila. Kita patut bersyukur dan berbangga atas lahirnya Pancasila, inilah langkah terbaik untuk mencapai tujuan mulia Islam sejati.

%d blogger menyukai ini: