Bulan suci Ramadhan merupakan bulan yang sangat mulia. Dalam bulan tersebut, umat Islam diwajibkan untuk menjalankan ibadah. Bulan penebus dosa, begitu kiranya sabda Rasulullah SAW itu berbunyi. Banyak orang yang fokus pada poin ampunan dosa ini. Sedangkan poin sebelum itu tentang keimanan dan berharap pahala hanya karena Allah SWT diabaikan begitu saja. Padahal sebenarnya, yang terpenting adalah poin keimanan dan menggantungkan pahala hanya kepada-Nya.

Keimanan berarti mengerjakan seluruh perintah Allah dan Rasul-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Sedangkan yang kedua mencakup nilai keikhlasan dan niat karena Allah SWT. Poin kedua ini lah yang merupakan pangkal dari segala amal peribadatan umat Islam. Sampai pada pentingnya niat itu disebut lebih baik dari amal perbuatannya, niatul mu’min khairun min ‘amalihi.

Sementara itu, selain menjalankan ibadah puasa, setidaknya terdapat dua ibadah yang dapat membuat umat Muslim diampuni dosanya saat bulan Ramadhan, di antaranya pertama  shalat tarawih atau qiyamullail.  Menghidupkan malam-malam Ramadhan dapat dilakukan dengan melaksanakan  shalat sunah Tarawih. Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa yang melakukan shalat Tarawih dengan penuh keimanan dan mendekatkan diri kepada Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lampau.” (HR. Bukhari-Muslim).

Di sisi lain, untuk menghidupkan malam-malam Ramadhan dapat dilakukan dengan melaksanakan shalat sunah Tahajud. Allah SWT berfirman, “Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat Tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. al-Israa 17: 79). 

Kedua, menghidupkan malam lailatul qadar. Hal ini sebagaimana disampaikan Rasulullah SAW bahwa orang yang qiyamullail pada malam lailatul qadhar dosanya yang telah lalu diampuni.  Hal tersebut tertuang dalam firman Allah SWT, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari pada seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.” (QS. al-Qadar 97: 1-4).

Ketiga, tadarus al-Quran. Selain bulan Ramadhan bertepatan dengan turunnya al-Quran, bulan Ramadhan juga menjadi waktu rutinan Nabi Muhammad SAW untuk bertadarus al-Qur’an kepada Malaikat Jibril. Dalam hadits riwayat Ibnu ‘Abbas dijelaskan, yang artinya dari Ibnu Abbas berkata, “Rasulullah saw adalah manusia yang paling lembut terutama pada bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril  menemuinya, dan adalah Jibril mendatanginya setiap malam di bulan Ramadhan, dimana Jibril mengajarkannya Al-Quran. Sungguh Rasulullah SAW adalah orang yang paling lembut daripada angin yang berhembus.” (HR. Bukhari).

Hadits ini juga menunjukkan bahwa Rasulullah saw mengkhatamkan Al-Quran sekali dalam setahun pada bulan Ramadahn bersama Malaikat Jibril, terkecuali pada tahun terakhir menjelang kewafatan, Rasulullah SAW mengkhatamkannya sebanyak dua kali.

Bahkan, menurut Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 1393 M.), ulama besar yang dalam bidang Aqidah bermadhab Asy’ariyah dan dalam bidang fikih bermazhab Hanbali, menuturkan bahwa hadits ini menunjukkan kesunnahan bertadarus al-Quran pada malam bulan Ramadhan secara berjamaah.

Sementara, Rasulullah SAW menegaskan bahwa jika ada orang yang mendapati bulan Ramadhan tapi ia tidak diampuni, maka neraka tempatnya. Begitulah riwayat Ibnu Syahin dalam kitab  Fadha’il Syahri. Artinya, sungguh sangat keterlaluan jika  ada orang yang semasa hidupnya pernah bertemu Ramadhan tapi tidak mendapatkan ampunan dariNya. Betapa ruginya orang yang berdosa tapi dosanya tidak terhapus di bulan ini.

Dengan demikian, dibulan Ramadhan ini seharusnya kita berlomba-lomba memohon ampunan di tengah dosa yang bergelimang. Hal tersebut tentunya dengan memaksimalkan puasa, qiyamullail, malam lailatul qadar dan tadarus al-Quran. Ketiganya adalah paket super hebat dan lomplit. Maka dari itu, bila semua ini dilaksanakan dengan spirit keimanan dan ketulusan yang tinggi, dosa di masa lalu akan hangus dan sirna sebagaimana disampaikan Rasulullah SAW.

%d blogger menyukai ini: