Istilah ghuroba masih saja disalahpahami oleh sebagian besar masyarakat Muslim sampai sekarang. Bahkan, ketidakpahaman kaum Muslim terhadap istilah ini dimanfaatkan kelompok teroris demi menambah anggota dan pendukung mereka. Keterasingan atau keanehan Islam dalam hadis dibelokkan pemahamannya dan dijadikan tameng aksi teror dan kekerasan. Menurut mereka, “tidak apa jika aksi tersebut dianggap aneh dan asing. Toh, Islam juga muncul dan kembali dalam keadaan asing”. Lantas, bagaimana sebenarnya pemahaman yang benar terkait ghuroba dalam hadis Nabi SAW?

Terlebih dahulu kita kemukakan hadis yang dimaksud, yaitu hadis tentang keterasingan Islam. Tepatnya terekam dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing [HR Muslim].

Dalam buku Meluruskan Pemahaman Hadis Kaum Jihadis tertulis, bahwa hadis ini tidak hanya diriwayatkan oleh satu sahabat saja. Melainkan diriwayatkan oleh lebih dari dua puluh sahabat. Maksudnya, hadis ini tidak hanya disampaikan oleh Abu Hurairah saja, melainkan juga Abdullah ibn Mas’ud, Anas ibn Malik, dan lain sebagainya.

Sebagaimana telah ketahui bersama, bahwa fungsi hadis tidak hanya menjelaskan ayat al-Quran. Namun, hadis juga dapat menjelaskan makna hadis lain. Untuk itu, salah satu cara untuk memahami makna kata ghuroba dalam hadis di atas adalah dengan cara mencari dan membaca hadis lain yang secara khusus menjelaskannya.

Terdapat sebuah hadis hasan yang cukup menjelaskan makna ghuroba dalam hadis sebelumnya. Dari Anas ibn Malik, ia berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan ia kembali menjadi asing sebagaimana awal mula kedatangannya, maka beruntunglah orang-orang yang asing. Para sahabat bertanya, “wahai Rasulullah, siapa orang-orang asing yang engkau maksud?” Rasulullah menjawab, mereka itu orang-orang yang berbuat kebaikan di saat orang lain merusak (muka bumi) [HR Thabrani].

Hadis ini membuktikan, bahwa yang dimaksud ghuroba adalah mereka yang berbuat kebaikan saat orang lain merusak. Dari makna ini kita akhirnya memahami, bahwa ghuroba itu bukan mereka yang tega meneror, apalagi mengebom dan membunuh manusia lain. Mereka bukan orang-orang yang gemar buang sampah sembarangan atau merusak lingkungan. Bukan juga orang-orang yang berperilaku tercela dan merugikan banyak orang.

Sebaliknya, ghuroba adalah orang-orang yang berbuat kebaikan di muka bumi ketika banyak orang berbuat buruk. Membantu dan menolong orang-orang yang kesulitan di saat banyak orang mempersulit urusan orang lain. Menyisihkan harta atau tenaganya untuk meringankan beban orang lain, ketika banyak orang yang tidak perduli dengan kesulitan yang dialami orang lain.

Untuk itu, jadilah ghuroba di bulan Ramadhan yang dipenuhi keberkahan ini. Berbuat kebaikan di saat orang lain merusak. Menyedekahkan harta dengan cara memberi makan orang lain, di saat banyak orang gemar mengumpulkan harta untuk perutnya sendiri. Berperilaku baik dan bijak saat berselancar di dunia maya, ketika banyak orang meyebarkan hoaks (berita bohong) dan melancarkan hate speech (ujaran kebencian).

Dengan demikian, ghuroba adalah orang yang berbuat kebaikan, bukan merusak. Memahami makna ghuroba yang sebenarnya, tidak hanya menyelamatkan diri dari propaganda kelompok teroris. Melainkan dapat menjadi motivasi atau dorongan bagi kaum Muslim untuk melakukan kebaikan di muka bumi. Menyiarkan Islam yang ramah bukan Islam marah. Islam rahmatan lil ‘alamin.[]

%d blogger menyukai ini: