Arab Saudi adalah negara yang bersahabat dengan Indonesia selama lebih dari 70 tahun. Negara tempat kelahiran Islam ini, termasuk negara yang paling awal mengakui kemerdekaan Indonesia di mata dunia. Sejak tahun tahun 1950, Indonesia dan arab Saudi menjalin hubungan bilateral hingga sekarang. Duta besar ditunjuk silih berganti untuk menjaga silaturahmi ini. Yang terbaru Ialah Zuhairi Misrawi, cendekiawan Muslim muda, ditunjuk Presiden Jokowi untuk menjadi Kepala Perwakilannya di Arab Saudi.

Saya adalah pembaca setia karya-karya Zuhairi Misrawi sejak lama, sebelum akhirnya bisa mengenalnya secara langsung. Sosok intelektual yang akrab disapa Gus Mis ini, memang sangat produktif menulis sejak muda. Selain sukses menulis puluhan judul buku, ia juga aktif menuangkan analisis tentang Timur-Tengah di media massa nasional. Melalui tulisan, diskusi, seminar atau wawancara, ia rutin menyampaikan pertimbangan, pengkajian, dan pembahasan tentang geopolitik timur tengah, tidak terkecuali Arab saudi. Tentu saja, sikap kritisnya bukan semata-mata mengarah pada Arab Saudi secara umum, melainkan lebih spesifik, yaitu mengkritisi ideologi Wahabisme, aliansi Arab Saudi terhadap Amerika, dan isu Sunni-Syiah. Dia selalu mengkritik negara Timur-Tengah yang kerap berkonflik dan tidak mampu membangun rekonsiliasi untuk tegaknya demokrasi.

Keputusan Presiden Jokowi untuk menugaskan Gus Mis sebagai Dubes Arab Saudi memang unik. Bagaimana tidak, sosok yang dikenal tajam dalam mengupas berbagai isu politik Timur-Tengah ini, kini ditunjuk menjadi wakil negara nomor satu di Arab Saudi. Meskipun demikian, sebenarnya aktivisme Gus Mis dalam mengamati perkembangan politik Timur-Tengah, dan sesekali kritis terhadap gejala politik Arab Saudi, bagi saya merupakan nilai ekstra calon dubes kita ini. Dia adalah sosok yang negara butuhkan untuk membentangkan road map yang jelas demi mengedepankan kepentingan nasional yang lebih besar, sebagaimana yang telah dilakukan Gus Mis selama ini melalui jalan intelektualnya dan karir politiknya.

Kini, Gus Mis akan diutus menjadi diplomat di negeri yang pengaruh budaya maupun ideologinya sangat kuat bagi bangsa kita. Pada dasarnya, diplomasi adalah hal yang sakral antara dua negara. Diplomasi berhasil mengubah budaya perang menjadi tawar menawar dan persahabatan yang saling menguntungkan. Prinsipnya ialah mutual respect dan  mutual interest. Seorang diplomat memperjuangkan hubungan yang sehat dan saling menguntungkan bagi negaranya.

Tantangan diplomasi antara Indonesia dan Arab saudi semakin besar dengan bertambahnya nota kesepahaman antara dua negara tersebut. Secara umum, tantangan tersebut biasanya digambarkan dengan hubungan yang timpang. Arab Saudi mengambil banyak keuntungan dari Indonesia, dengan timbal balik yang belum dapat dikatakan ‘impas’.

Setiap tahun, Indonesia memberangkatkan puluhan ribu jamaah haji dan  umrahnya ke Arab saudi, menyuntikkan keuntungan ekonomi tepat ke urat nadi devisa negara tersebut. Sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan kecilnya kunjungan wisatawan Arab Saudi ke negeri kita.

Ketimpangan pun semakin jelas manakala melihat neraca perdagangan Indonesia-Saudi yang selalu defisit. Arab Saudi menikmati surplus luar biasa dari perdagangan ekspor ke Indonesia, di mana mencapai angka USD 3,5 miliar dolar pada 2019. Sementara itu, Indonesia hanya menikmati total perdagangan ekspor ke Arab Saudi sebesar USD 1,5 Miliar pada tahun itu.

Ditambah lagi, isu perlindungan WNI yang kian menjadi perhatian publik dunia. Kasus-kasus WNI undocumented, terancam hukuman mati, dan kasus besar lainnya (high profile cases) di Arab Saudi masih menjadi PR besar bagi negeri ini. Beberapa masalah serius seperti itulah yang harus dipecahkan oleh seorang Dubes Arab Saudi. Benar-benar pekerjaan yang sangat tidak mudah!

Dengan demikian, ada harapan yang cukup besar kepada Gus Mis setelah menjadi Dubes nanti. Sosok negarawan muda, fasih, kritis, dan pemberani seperti Gus Mis, dianggap mampu memahami tantangan besar hubungan bilateral Indonesia dan Arab Saudi. Ketekunannya dalam merespon isu-isu politik Timur-Tengah yang terus berhembus ke negeri kita, nampaknya telah menghantarkannya menjadi sosok yang paling peka terhadap berbagai tantangan di Arab Saudi. Selamat menjadi diplomat ulung di Arab Saudi, Gus Mis!

%d blogger menyukai ini: