Setelah Rasulullah SAW mengalami fase yang begitu menyedihkan karena ditinggal dua sayap penguatnya, yakni Abu Thalib sang paman dan istri Nabi Sayyidah Khadijah, beliau diundang oleh Allah SWT untuk berjumpa dengan-Nya di sidrah al-muntaha. Paket perjalanan isra’ mi’raj merupakan sebentuk kasih sayang Tuhan untuk melipur lara hati kekasih-Nya. Isra’ mi’raj ini adalah suatu keistimewaan yang tiap lipatan peristiwanya merepresentasikan energi cinta. Baik dimensi kasih sayang Ilahiyah maupun cinta kasih Rasulullah SAW kepada umatnya.

Pada malam hari tanggal 27 Rajab dengan berkendara buraq, Allah SWT memperjalankan Nabi Muhammad SAW dari Masjid al-Haram di Mekkah menuju Masjid al-Aqsha, Bait al-Maqdis di Palestina. Perjalanan pertama ini yang disebut isra’. Dari Bait al-Maqdis, Nabi kemudian diajak Malaikat Jibril naik (mi’raj), melewati lapis demi lapis langit. Beliau bertemu dengan sejumlah Nabi di tiap langit hingga di langit ke tujuh, dan para penghuni langit pun menyambut serta kehadirannya.

Nabi SAW kemudian melanjutkan perjalanan menuju sidrah al-muntaha untuk menghadap Allah SWT. Saat itulah perintah shalat diwajibkan kepada Nabi Muhammad SAW dan umatnya. Instruksi shalat lima waktu yang kita jalani saat ini bukanlah hasil dari proses instan. Semula Allah SWT mewajibkan 50 kali dalam sehari semalam. Namun, dalam perjalanan Rasulullah SAW pulang dari mi’raj tersebut, Nabi Musa Alahissalam menyarankan Nabi Muhammad SAW agar meminta keringanan pewajiban shalat kepada Allah SWT. Sampai beberapa kali Rasulullah SAW menghadap Allah SWT, dan akhirnya diputuskan waktu shalat menjadi lima kali dalam sehari semalam.

Potret kronologis peristiwa tersebut menggambarkan kerahiman Allah SWT dan Nabi-Nya yang luar biasa. Pertama, safari isra’ mi’raj sendiri adalah satu rahmat dan karunia agung Tuhan kepada Nabi Muhammad SAW. Dia tak menghendaki utusan-Nya berlarut dalam kesedihan. Dengan memberinya kesempatan untuk melihat-Nya, bertegur sapa dengan para Nabi terdahulu, serta diperlihatkan beragam gambaran balasan bagi umat manusia kelak.

Kedua, berdekatan dengan Tuhan, apalagi menemui-Nya adalah nikmat yang didamba banyak makhluk. Dalam satu ungkapan disebutkan, bahwa shalat adalah mi’raj orang mukmin. Melalui medium shalat yang difardhukan tadi, Allah hendak memberikan kesempatan pada kita untuk membangun hubungan dengan-Nya. Sebab kita tak mungkin bisa mi’raj sebagaimana yang dialami Rasulullah SAW. Shalat adalah miniatur mi’raj. Bukan sekadar rutinitas tanpa ruh, shalat adalah cara kita untuk menyambungkan diri kepada Allah SWT, mencari ketenangan serta sumber energi yang mengisi jiwa.

Lebih dalam lagi, makna shalat adalah doa. Momen seorang hamba untuk bermunajat ke hadirat Tuhan. Menurut al-Ghazali, salah satu ikatan cinta spiritual yang luhur tergambar dalam bacaan tahiyyat. Di dalamnya adalah percakapan sarat kasih sayang. Seorang hamba yang menjiwai praktik gerakan dan bacaan shalat akan menemukan kebesaran cinta di sana.

Kalimat pertama diulukkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan mengatakan, bahwa salam kehormatan, keberkahan, serta kebaikan semuanya adalah milik Allah. Demikianlah cara Rasulullah SAW mengungkapkan situasinya kepada Allah saat malam mi’rajnya. Kemudian Allah membalas salam tersebut, “Wahai Nabi! Semoga keselamatan, rahmat, serta berkah Allah dilimpahkan kepadamu”. Ungkapan ini adalah rahmat tersendiri dan kado spiritual yang amat penting dari Tuhan untuk utusan-Nya.

Nabi tentu tidak egois. Mendengar sapaan salam dari Tuhan tersebut, beliau mendoakan keselamatan juga dilimpahkan kepada seluruh hamba Allah SWT yang saleh. Ini adalah bukti kebesaran kasih sayang dan murah hati Rasulullah SAW. Beliau tak pernah melupakan doa kebaikan bagi sekalian umatnya. Melihat dialog Tuhan dan kekasihnya tadi, Malaikat Jibril pun menyatakan terstimoninya dengan bersaksi, bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya. Doa tahiyyat adalah ekspresi cinta dan rahmat Ilahiyah yang luar biasa bagi Nabi Muhammad SAW dan umatnya.

Ketiga, fenomena kasih juga nampak dari proses negosiasi Nabi dengan Allah saat memandatkan perintah shalat. Allah mengakomodir kelemahan hamba-Nya. Sebagai senior dalam mengurus umat manusia, Nabi Musa juga memahami bagaimana tabiat dan karakter kita. Jangankan beribadah 50 waktu, lima waktu yang ditetapkan saat ini saja masih banyak yang belum mampu melaksanakan utuh, baik secara praktik maupun penghayatan. Kalau bukan karena cinta Tuhan dan Nabi, negosiasi itu mungkin tak akan terjadi.

Terakhir, kembalinya Rasulullah SAW ke bumi menjadi wujud ketidakegoisan beliau. Seorang sufi India, Abdul Quddus, menuturkan kelapangan hati Nabi. Ia bersumpah, sekiranya dirinya mengalami mi’raj seperti Nabi, ia tentu tak akan turun ke bumi. Karena berjumpa dengan Allah adalah puncak pengalaman keberagamaan seseorang. Nuzulnya (turun) Nabi dari singgasana Tuhan dapat dimaknai sebagai bahasa cinta Rasulullah SAW kepada umatnya di dunia. Beliau hendak membagi kenikmatan berjumpa dengan Tuhan dengan mengajarkan kita sekalian cara berkomunikasi dengan Allah melalui shalat yang dijiwai pelaksanaannya.

Pulangnya Nabi juga merupakan isyarat untuk menunaikan tugas keduniaan. Setelah mi’raj ke hadirat Tuhan, sebagai hamba, mengadakan hubungan baik dengan semua ciptaan-Nya dan mengembangkan potensi yang ada di bumi adalah hal yang sangat bernilai. Karena itu juga merupakan anak tangga untuk menemui Allah SWT.

Hal tersebut selaras dengan firman-Nya dalam surat al-Kahfi [18] ayat 110, Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.

Ayat ini menegaskan keniscayaan relasi antara kesalehan individual dengan kesalehan sosial. Mengimani keesaan Tuhan dan praktik shalat harus menghasilkan output sosial yang positif. Karena nilai manusia yang beriman tidak terletak pada ritual rukuk sujudnya, tetapi nilainya ditunjukkan oleh gerak perbuatan baiknya. Maka dari itu, wajar jika dalam al-Quran kata alladzina amanu (yang beriman) selalu disandingkan dengan wa ‘amilusshalihat (bergerak positif dan beramal saleh). Karena keduanya memang berkait erat.

Pasca mengucap salam saat menoleh ke kanan dan ke kiri dalam shalat, kita telah kembali menapaki dimensi duniawi. Oleh karena itu, shalat sudah seharusnya menjadikan manusia berperan aktif menjalankan peran kekhalifahannya untuk melakukan transformasi sosial. Berupaya merealisasikan misi Rasululullah SAW sebagai rahmat sekalian alam dengan mengelola ciptaan-Nya dan membangun tatanan kehidupan dunia yang adil dan damai. Shalat memang sarana untuk berkomunikasi, mendaki perjalanan spiritual menuju Tuhan. Namun buahnya adalah spiritualitas sosial dan karakter manusiawi yang paripurna yang bisa menyumbang manfaat bagi sesama serta semesta.

Kisah perjalanan malam Nabi merupakan cakupan cinta kasih Ilahiyah yang amat besar. Terukir rata pada tiap potongan peristiwanya. Di mana Rasulullah SAW yang kemudian membawa pendar kasih tersebut untuk dihidupkan dalam kehidupan dan ajaran yang dibawanya ke dunia. Selaku umatnya, sudah tugas kita untuk melanggengkan ekspresi kasih dalam beragama kepada sekalian makhluk yang ada. Shalawat dan salam cinta semoga senantiasa tercurah untuk Nabi Muhammad al-musthafa. Wallahu a’lam. []

%d blogger menyukai ini: