Berdakwah Itu Dengan Cinta Bukan Kebencian

KolomBerdakwah Itu Dengan Cinta Bukan Kebencian

Islam adalah agama cinta yang mendamaikan. Untuk itu umatnya harus menyebarkan ajarannya dengan kasih sayang. Namun, ada sejumlah orang Islam yang berdakwah tidak dengan cinta, mereka menyebarkan ajaran Islam menggunakan kebencian, sehingga membuat citra agama Islam di mata non-Muslim menjadi buruk. Hal ini dilakukan oleh Yahya Waloni, melalui pernyataannya dalam sebuah video di kanal Youtube Termometer Islam, dengan menyebut Yasus sebagai Nabi gagal. Sudah pasti, perbuatan tersebut akan menyebabkan umat agama Kristen sakit hati. Maka itu, demi menghindari kebencian antar umat beragama, kita sebagai Muslim harus berdakwah dan menyebarkan Islam dengan cinta, bukan kebencian.

Al-Quran pula sudah mengingatkan kita untuk tidak saling menghina antar umat manusia, melalui QS. Al-Hujurat Ayat 11 yang mengatakan, “Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah suatu kaum tidak menghina kaum yang lain, karena bisa jadi mereka yang dihina lebih baik dari yang menghina. Dan jangan pula, perempuan-perempuan menghina perempuan lain, karena bisa jadi perempuan yang dihina lebih baik dari perempuan yang menghina. Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruknya panggilan adalah panggilan yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

Dari situ kita tahu, bahwa untuk menyebarkan agama Islam tidak perlu mengolok-ngolok atau menyudutkan agama lain, karena itu adalah perbuatan yang salah dan Allah pun tidak menyukainya. Islam melarang perbuatan melampaui batas, seperti gaya ceramah Yahya Waloni di atas yang mengolok-olok agama lain. Artinya adalah Islam selalu mengajak umatnya ke jalan tengah atau kemoderatan. Karena, sesungguhnya agama Islam adalah agama yang toleran. Moderat dalam memandang segala hal, dengan maksud untuk menyatukan segala niat baik dan hubungan sesama umat manusia.

Di negeri ini, masih banyak seseorang yang berdakwah dengan kaku. Karena mereka masih menggunakan konsep eksklusivisme dan fanatisme. Pemahaman tersebut harus segera diubah, lantaran itu adalah penyakit kekakuan mental beragama yang disebabkan oleh doktrin dogmatis. Melalui dakwah yang menggunakan konsep tersebut, maka akan menghasilkan jamaah yang eksklusivisme pula. Sama halnya dengan Yahya Waloni, dalam berceramah dia terlihat sangat kaku, sehingga dakwahnya tersebut akan melahirkan individu yang sektarian dan fanatis. Jika hal tersebut terus-menerus terjadi, maka akan menyebabkan kemunduran bagi peradaban umat Islam sendiri.

Baca Juga  Diskursus Jilbab di Dunia Pendidikan

Di sisi lain, negara ini pula memiliki pemikir ke-Islaman dan kebangsaan yang diperhitungkan, yaitu Prof Ahmad Syafii Maarif, atau yang akrab disapa Buya Syafii. Dia mampu menyinari diskursus wacana pemikiran keIslaman dan kebangsaan. Kemudian, gagasannya selalu mencerahkan umat Islam, bahkan masyarakat secara keseluruhan. Melalui cara demikian, Buya Syafii bisa menjadi penyejuk dan mendamaikan umat. Karena sampai saat ini, dia berkomitmen untuk terus menjaga pluralisme, multikulturalisme, dan nasionalisme di negeri ini melalui cara-cara yang toleran. Selain Buya Syafii, bangsa ini masih banyak memiliki pemikir-pemikir Islam serta kebangsaan yang toleran dan menyejukkan hati.

Namun hal itu akan terabaikan, jika banyak pendakwah yang juga menebar kebencian. Di negeri ini ada sejumlah pendakwah seperti Yahya Waloni yang memiliki banyak pengikut. Entah apa yang menarik dari itu semua. Mungkin, karena para jamaahnya awam dalam memahami agama. Biasanya, seseorang yang sering melakukan ujaran kebencian, karena mereka baru belajar agama ke orang yang salah, dan ada pula karena mereka yang memiliki keterlibatan dalam politik tertentu, sehingga mereka tak segan-segan untuk melakukan ujaran kebencian dalam ceramahnya. Pendakwah yang seperti itu sudah kehilangan harkat dan martabatnya, hingga harus segera ditertibkan oleh pihak-pihak yang berwajib.

Di samping itu, setiap manusia yang ada di muka bumi ini berhak memiliki dan memeluk kepercayaannya masing-masing. Negeri ini telah mengatur hal tersebut yang tercantum dalam UUD NRI Tahun 1945 Pasal 28. Maka itu, Yahya Waloni tersebut tidak berhak menghina agama lain dan non-Muslim. Karena itu adalah teror dan intimidasi mayoritas terhadap minoritas yang menakutkan. Kemudian, hinaan yang dilakukan Yahya Waloni terhadap Yesus itu sudah masuk ke ranah pidana, yakni penistaan agama.

Sementara itu, Islam tidak membenarkan pemeluknya mengucilkan orang lain dari kehidupan. Justru Islam membekali pemeluknya untuk mempererat hubungan antar manusia. Islam adalah agama perdamaian, dinamis, perlindungan, dan toleran. Untuk itu kita harus menghormati sesama manusia demi menciptakan perdamaian. Dengan demikian, demi mewujudkan pendakwah baik yang menebar cinta, maka harus ada penyeleksian atau penyaringan penceramah melalui sertifikasi Kementerian Agama, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, atau lembaga Islam moderat lainnya agar melahirkan pendakwah berkualitas yang paham tentang ilmu-ilmu keagamaan, keIslaman, dan kebangsaan.

Artikel Populer
Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.