Banyak orang yang mengatasnamakan agama, tetapi tidak dengan realisasi nilai-nilainya, menyebabkan cahaya agama kian redup. Agama yang semestinya mampu mengarahkan manusia yang humanis, tetapi hawa nafsu keagamaan menggeser akal budi manusia untuk menghakimi keyakinan yang tak serasi dengannya. Oleh karena itu, penting menghidupkan keberagamaan yang humanis sebagai jalan untuk mengembalikan fitrah agama pelindung dan rahmat Tuhan bagi penghuni semesta alam.

Nabi Muhammad SAW diutus sebagai sosok yang humanis. Memerjuangkan Islam sebagai agama yang membebaskan manusia dari ketertindasan, penistaan, dan membangun peradaban yang menjunjung tinggi harkat, martabat kemanusiaan. Sebab berbicara mengenai humanisme merupakan suatu proses untuk menjadikan manusia yang seutuhnya.

Meski di zaman beliau perbudakan masih diberlakukan, tetapi semangat ajaran beliau untuk membebaskan sistem perbudakan terlihat kentara. Beliau tidak terpengaruh dengan budaya perbudakan kala itu yang kerap diperlakukan sesukanya, seperti hewan peliharaan. Zaid bin Haritsah memberi kesaksian, selama menjadi budak tidak pernah dimarahi atau diperlakukan tidak adil, justru beliau mendidiknya lantas mengangkatnya menjadi anak. Nabi SAW juga memilik banyak budak yang kemudian dimerdekakannya. Kepada yang Muslim maupun tidak, kebaikan itu tetap diberikan, hidup berdampingan secara damai dan berupaya saling membantu.

Sebenarnya, saat diceritakannya sifat Nabi SAW yang humanis, semua umat Islam memercayainya, mendukungnya. Namun, ketika dihadapinya suatu persoalan hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa memedulikan lingkungan kemanusiaan dan sosial, cara-cara humanis itu sejenak sirna.

Umat Islam yang konon, ajarannya paling humanis mestinya tidak mudah diadu kepada mereka yang berbeda paham, Sunni, Syiah, Ahmadiyah, dan umat yang berbeda keyakinan. Melek sosial sejarah itu penting, beberapa kelompok yang mengklaim paling Sunni, misal FPI, HTI, JAD atau kelompok Islam radikal lainnya sangat kentara melakukan diskriminasi kepada Syiah, bahkan kekerasan, pembunuhan terhadap kelompok Ahmadiyah. Apa mungkin memarginalkan, menistakan, dan berbuat brutal itu sudah diperbolehkan lantaran berbeda paham dan keyakinan?

Abdurrahman Wahid yang dikenal sebagai sosok gigih pembela kaum pinggiran dan memerhatikan hak-hak kemanusiaan, pada wasiatnya agar ditulis di batu nisannya “The Humanist Died Here”. Pesan ini disampaikan kepada Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa sebanyak tiga kali, tetapi baru bisa terlaksana wasiatnya pada haul Gus Dur yang ke-5 di Tebu Ireng. Gus Dur lebih senang dipanggil sosok yang humanis, ketimbang multikulturalis, pluralis, bapak bangsa, budayawan dan sebagainya. Gus Dur merupakan contoh yang paling dekat, selaku orang yang menghidupkan cara beragama yang humanis di Tanah Air.

Agama tanpa humanisme bukanlah agama. Sebaliknya, manusia yang tidak humanis, pada hakikatnya ia telah melenceng esensi nilai-nilai keagamaannya. Itu sebabnya, mereka yang menghakimi atas keyakinan orang lain tanpa pendekatan yang humanis mudah berseteru dan diskriminatif. Solipsisme intelektual sangat tidak menyehatkan bagi umat beragama yang ingin mendewasakan pola pikirnya.

Mengutip Habib Ali al-Jufri dalam bukunya, Kemanusiaan Sebelum Keberagamaan (2020), kita perlu kembali ke rasa kemanusiaan agar keberagamaan kita menjadi lebih baik. Keberagamaan kita harus terpusat pada hati, sehingga rasa kemanusiaan kita hidup kembali. Semua delusi hilang lalu kita kembali sepenuhnya pada Allah SWT. Ego diri, keserakahan, kesombongan, mencari status kemasyhuran dan sebagainya, segala obsesi yang melampaui batas mesti dihilangkan.

Semangat keagamaan yang menggebu-gebu melupakan dirinya manusia sebagai makhluk sosial. Manusia yang saling membutuhkan satu sama lain, sebagai mata rantai kehidupan. Sebenarnya, manusia yang benar menempuh jalan keagamaannya, bukan sekadar Islam, melainkan semua agama karakter humanis akan melekat dengan sendirinya, seperti Gus Dur, Jakob Oetama, Mahatma Gandhi, Umar bin Abdul Aziz, dan banyak tokoh humanis lainnya. Namun, cara keberagamaan yang tidak seimbang, yakni terfokus ukhrawi dan melupakan duniawi berdampak pada antipati sosial yang mengikis agama dari nilai-nilai humanisnya.

Beragama secara humanis merupakan suatu proses penempaan cara beragama yang memperlakukan manusia dengan manusiawi. Mengantarkan manusia berdasarkan potensi yang dimilikinya dan bagaimana cara hidup dengan layak, Berbakti kepada orang tua, mengasihi yang kecil, membantu yang lemah, dan tidak menindak kekerasan, baik secara fisik, seperti memukul maupun psikis, seperti ancaman. Keberagamaan yang tidak humanis atau radikal, mereka biasanya tak jarang membahayakan dirinya sendiri dan orang lain.

Ada banyak cara untuk mengaktualisasi keberagamaan yang humanis. Gus Dur misalnya, melalui pendekatan kebudayaan atau tradisi, yaitu membedakan Arabisasi dan Islamisasi. Jakob Oetama, pendiri Harian Kompas, membawakan visi misi humanisme transendental dalam pemberitaan media cetak atau digital yang dikelolanya. Hal tersebut, demi menyajikan berita-berita yang membangun jiwa kemanusiaan dan spiritual yang ramah, bukan marah-marah, serta tidak provokatif.

Kemudian cendekiawan Muslim KH. Jalaluddin Rakhmat dengan kepakaran komunikasinya, melakukan pendekatan dakwah humanis dengan etika komunikasi al-Quran, yakni perkataan yang mulia (qaulan karima), mudah dipahami (qaulan maysura), benar lagi kritis (qaulan sadida). Terakhir, Mufassir Quraish Shihab yang menafsirkan ulang al-Quran dengan perspektif humanis berdasarkan dinamika sosio-kultural masyarakat.

Banyaknya dakwah di media sosial yang bernuansa provokatif, jauh dari kesan ramah merupakan fenomena krisis keberagamaan humanis masyarakat urban masa kini. Fenomena seperti ini tidak bisa dibiarkan secara terus-menerus, karena bagaimanapun media sosial sudah menjadi kebutuhan yang tak terpisahkan dari keseharian era digital, yang sudah tentu akan memengaruhi pemikiran dan sikap para aktivis digital.

Sebab lahirnya teori humanisme dari Barat, beragama secara humanis, bukan berarti beragama kebarat-baratan, sebagaimana perspektif atheis. Humanisme dalam Islam tak lepas dari konsep hablumminannas, yakni seperangkat literatur yang menghubungkan manusia dengan manusia lainnya. Kendati demikian, titik temu yang perlu ditekankan di sini tidak lain memelihara jiwa kemanusiaannya yang penuh belas kasih, toleransi, pengetahuan adab dan humaniora.

Sejatinya, berproses menjadi seorang humanis itu merupakan esensi dari ajaran agama. Semua agama dan akal budi manusia, tidak bisa tidak menyangkal, bahwa sebaik-baiknya orang yang taat beragama ketika seseorang mampu berhubungan baik dengan manusia lainnya. Demikian Allah SWT berfirman, jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri (QS. al-Isra’: 7). Rasulullah SAW juga bersabda, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia (HR. Ahmad, at-Thabrani, dan ad-Daruqutni).

%d blogger menyukai ini: