Ada banyak cendikiawan besar dilahirkan di negeri ini, akan tetapi tak sedikit yang berhasil menjadi inspirasi dengan segudang karya dan pemikirannya. Ungkapan tersebut tampaknya tak berlaku bagi KH. Jalaludin Rakhmat. Membaca kisah perjalanan dan pemikirannya, sosok Kang Jalal sapaan akrabnya itu, memang tak pernah bosan. Laiknya sumur tanpa dasar yang tanpa ada habisnya untuk terus ditimba.

Umumnya, masyarakat hanya mengenal Kang Jalal sebagai pemikir Islam. Bagaimana tidak? Ia merupakan tokoh yang ikut membidani lahirnya salah satu organisasi Syiah di Indonesia, yaitu Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), pada awal Juli 2000 di Bandung, Jawa Barat. Saat mendeklarasikan IJABI, Kang Jalal mengatakan bahwa Ormas tersebut berkomitmen untuk ikut serta dalam Renaissance Islam dan mencerahkan pemikiran umat, serta pembelaan atas nasib kaum tertindas (mustadh’afin).

Namun meskipun merupakan tokoh Syiah, saya mengenalnya sebagai pakar komunikasi dengan mutiara pemikiran yang terus menjadi besar dari waktu ke waktu. Mendalami pikiran dan sepak terjangnya memang tak kunjung menciut. Ia telah membidani puluhan judul buku yang menjadi bahan ajar dan rujukan pada bidang komunikasi yang digunakan oleh civitas perguruan tinggi.

Cendekiawan asal Kota Bandung yang lahir pada 29 Agustus 1949 silam itu, tercatat merupakan lulusan SMA Negeri 2 Bandung. Ia lantas melanjutkan pendidikan dan lulus S1 Publisistik (Ilmu Komunikasi sekarang ini ) di Universitas Padjajaran. Setelahnya, gelar master komunikasi didapatkannya dari Iowa State University dan Doktor Ilmu Politik dari Australian National University. Kang Jalal kemudian mengabdikan hidup dengan menjadi Dosen di Universitas Padjajaran, Jawa Barat pada 1978 hingga 2014.

Meskipun saya pribadi tidak pernah bertemu dengan Kang Jalal secara langsung, akan tetapi saya mengenalnya melalui karya legendarisnya, yakni buku Psikologi Komunikasi. Sejak pertama kali diterbitkan pada tahun 1985 oleh penerbit Rosdakarya, buku tersebut menjadi master piece dari karya Kang Jalal. Pasalnya, buku itu telah puluhan kali mengalami proses cetak ulang dan menjadi rujukan bagi kalangan mahasiswa komunikasi.

Sementara itu, secara singkat dalam pemikiran Kang Jalal menjabarkan karakteristik manusia dilihat dari aspek psikologi dalam konteks komunikasi. Dalam hal ini, menjadi menarik karena Kang Jalal bisa menjabarkan sisi psikologi manusia sebagai pelaku komunikasi. Bahkan, ia juga menjabarkan dua hal penting dalam komunikasi pada manusia.

Pertama, komunikasi merupakan proses yang esensial untuk kebutuhan pribadi manusia. Para ahli komunikasi berkali-kali mengungkapkan bahwa kurangnya komunikasi akan menghambat perkembangan manusia. Jika meminjam ungkapan antorpolog Asheley Montagu (1967) yang mengatakan bahwa, the most important agency through which the child learns to be human is communications, verbal also non-verbal. Hal yang terpenting menjadi manusia adalah komunikasi.

Kedua, komunikasi sangat erat kaitannya dengan perilaku dan kesadaran manusia. Dari sini, tak mengherankan bahwa pemikiran komunikasi selalu menarik perhatian Kang Jalal, khususnya dielaborasi dengan psikologi.

Sementara itu, pada proses berbagai karyanya ia buat saat memperoleh beasiswa Fulbright dan masuk di Iowa State University. Di sana, ia mendalami ilmu komunikasi dan psikologi. Bahkan, berkat kecerdasan yang dimilikinya, ia telah berhasil dengan predikat magna cum laude, karena memperoleh 4.0 grade point average, ia terpilih menjadi anggota Phi Kappa Phi dan Sigma Delta Chi. Sebuah prestasi yang tak diragukan lagi.

Selain itu, berkat pemikiran pada bidang komunikasi yang dimilikinya, ia mahir dalam merancang kurikulum di fakultasnya, memberikan kuliah dalam berbagai disiplin, termasuk Sistem Politik Indonesia. Kuliah-kuliahnya terkenal menarik perhatian para mahasiswa yang diajarnya. Berkat pemikirannya itu, ia pun aktif membina para mahasiswa di berbagai kampus di Bandung, serta memberikan kuliah Etika dan Agama Islam di ITB dan IAIN Bandung, sekaligus mencoba menggabungkan sains dan agama. Sebuah kolaborasi akademik yang menganggumkan.

Jejak-jejak pemikiran Kang Jalal selalu konsisten melalui pandangan, persfektif, melalui karya ukiran tangannya, ia membangun kesadaran dan konsisten terhadap dunia akademik. Sebagai cendikiawan dan pakar komunikasi pemikirannya telah memberikan sumbangsih pada ilmu pengetahuan dengan segudang karya dan prestasi, seperti Renungan-Renungan Sufistik (1991), Retorika Moderen (1992), Catatan Kang Jalal (1997), Jalaluddin Rakhmat Menjawab Soal-Soal Islam Kontemporer (1998), Dahulukan Akhlak Di Atas Fikih (2002), Psikologi Agama (2003), dan masih banyak lagi karya lainnya.

Meskipun kini, kita tak akan jumpai karya baru dari bengawan ilmu komunikasi tersebut. Namun, pemikiran dan karya Kang Jalal terdahulu telah menjadi warisan yang tidak akan pernah lenyap dimakan zaman. Menyelami karyanya bagai mutiara intelektualisme di negeri ini. Selamat berpulang, Kang. Pemikiranmu akan menjadi inspirasi bagi generasi muda.

%d blogger menyukai ini: