“Tuhan tidak menghendaki kamu semua menganut agama yang tunggal. Semua agama itu kembali kepada Allah. Adalah tugas dan wewenang Tuhan untuk menyelesaikan perbedaan diantara berbagai agama,” demikian pesan KH. Jalaludin Rakhmat dalam bukunya Islam dan Pluralisme: Akhlak Quran Menyikapi Perbedaan.

Pada Senin (15/2/2021), cendekiawan Muslim sekaligus salah satu tokoh pluralisme sejati itu tutup usia. Ia telah berpulang menghadap kekasihnya, Allah SWT. Kepergiannya melengkapi kepiluan bangsa ini yang tengah berjuang bangkit dari keterpurukan akibat pandemi Covid-19 ini. Sang pakar psikologi komunikasi gugur di medan pandemi, menyusul mediang isteri yang telah lebih dahulu menghadap Illahi. Bangsa ini kembali kehilangan mutiara pluralis pencerah yang ramah, meski teramat sering ia menjadi korban amarah, karena dikenal berpaham Syiah.

Kang Jalal, demikan khalayak akrab memanggilnya. Lelaki kelahiran Bandung 29 Agustus 1949 itu telah sangat banyak memberi bangsa ini sumbangsih, baik dalam bentuk pemikiran yang ia tuangkan dalam bentuk buku dan kajian-kajian, diantaranya yakni buku Islam Aktual (1994) dan Psikolgis Komunikasi (1994), kajian Tassawuf, kajian al-Quran dan hadis, dan sosial. Selain itu, juga tenaga, harta dan sebagainya, tak ragu ia berikan untuk republik tercinta ini. Satu yang tak kalah pentingnya ialah soal pluralisme. Tak berbeda jauh dengan sahabatnya, KH Adurahman Wahid (Gus Dur), Kang Jalal juga mengajarkan dan mencontohkan pluralisme, sebagai wasiat penting yang harus di lestarikan, agar bangsa ini tetap damai, harmonis, utuh dan berdaulat.

Kang Jalal menerangkan, jika kita ingin menyebarkan pluralisme di kalangan kaum Muslim atau di kalangan umat beragama, maka hendaknya dengan menggunakan dalil-dalil agama. Mendukung pluralisme tanpa mengemukakan dalil-dalil agama, tidak akan didengar oleh masyarakat. Membincangkan pluralisme tanpa dalil-dalil agama berarti menempatkan pluralisme sebagai kajian akademis, pluralisme sebagai sosiologis. Pluralisme dipahamai sebagai gejala sosiologis, dimana masyarakat pada akhirnya berkembang menjadi masyarakat yang pluralistik. Pluralisme itu bukan sebagai gejala sosiologis belaka, namun sebagai sikap beragama.

Konsep pemikiran Kang Jalal tentang pluralisme memang sejalan dengan firman Allah SWT dalam al-Quran surat al-Hujurat ayat 13, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kalian saling mengenal. Seseungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah, ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mengenal.” Begitulah Kang Jalal, dengan kecerdasan dan keilmuannya tentang agama yang mumpuni, ia mampu meramu intisari al-Quran untuk dijadikan rujukan konsep pluralismenya.

Pluralisme, meski terlihat mencampuradukan agama, oleh Kang Jalal ditegaskan bahwa, pluralisme sama sekali tidak berarti semua agama itu sama dan perbedaan itu sudah menjadi kenyataan. Dan bahwa pluralisme bukanlah sinkretisme, tidak bisa diartikan berbeda-beda menurut pandangan masing-masing individu. Begitu juga dalam memandang bermacam agama, Kang Jalal menilai inti dari kesemua ajarannya itu bukanlah menitikberatkan pada perbedaan yang memisahkan, namun justru mempersatukan.

Yang menjadi penting untuk kita tiru dari Kang Jalal ialah, dirinya bukanlah tipe orang yang hanya pandai berteori dan beretorika tanpa menjalankan dalam kehidupan nyata. Pandangan-pandangannya tentang pluralisme yang berdasar pada al-Quran telah ia lakoni sepanjang jalan hidupnya. Diketahui, Kang Jalal terlahir dari keluarga Nahdliyin, lalu ketika muda bergabung dengan organisasi Persatuan islam (Persis), lalu masuk dalam organisasi pengkaderan Muhammadiyah, dan kemudian kita mengenal di akhir hayatnya sebagai tokoh madzab Syiah di negeri ini. Perjalanan panjang itu lantas membuat Kang Jalal merangkul semuanya dengan cinta. Kang Jalal mampu menyampaikan pesan-pesan keislaman di kalangan awam maupun kalangan elite dengan baik. Meski di sebagian tempat aliran yang ia anut sering mendapat perlakuan buruk, namun tidak membuat Kang Jalal mengutuk agama dan kayakinan lain.

Melalui bahasa lisan dan tulisan, kang Jalal begitu piawai mengkomunikasikan pemikiran-pemikiran keislaman. Ia teramat bijak dan tidak emosional menanggapi kritikan-kritikan yang datang. Kang Jalal berhasil menggabungkan kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional secara baik. Dua hal yang sangat sulit dilakukan oleh kita. Sangat mudah kita kebakaran jenggot ketika menerima kritik dan cacian, tetapi tidak begitu dengan Maha Guru KH Jalaludin Rakhmat.

Pluralisme adalah paham keberagaman yang selalu terbuka dan intraktif secara produktif dengan penganut agama lain, tanpa harus kehilangan jati diri agamanya sendiri. Begitu pula Kang Jalal, di berbagai kesempatan ia memberi ceramah-ceramah Islam di Gereja-gereja. Di salah satu gereja misalnya, ia menjelaskan, bahwa pluralisme telah ada sejak era Rasulaullah. Yang menurut Karen Armstrong, ketika kaum muslimin berada dalam posisi kuat, mereka berwawasan sangat pluralistis.

Kang Jalal mengatakaan, “Seorang pluralis adalah orang yang mengakui adanya banyak jalan menuju Tuhan. Lewat jalan yang beragam itu, masing-masing pemudik disemangati oleh etos bermusabaqoh dalam kebajikan. Rahmat Tuhan yang tak terbataslah yang nantinya akan menentukan mana yang terbaik di antara pemudik itu, tanpa memandang perbedaan agama dan golongannya”.

Demikianlah, pluralisme menjadi amat penting bagi kehidupan bangsa yang majmuk ini. Kang Jalal telah menawarkan konsep pluralisme yang berdasar pada al-Quran, maka tidak ada alasan lagi bagi kita saling mencaci maki dan fitnah hanya karena berbeda keyakinan dan berbeda madzab. Toh inti ajaran dari setiap agama adalah bukan menciptakaan perbedaan yang memisahkan, tetapi sebaliknya, mempersatukan. Kini, tokoh pluralis itu sudah berpulang menghadap Tuhan, namun karya dan ajarannya abadi. Selamat jalan Maha Guru, KH Jalaludin Rakhmat.

%d blogger menyukai ini: