Pemuda, yang dalam kesempatan ini disebut milenial merupakan harapan bangsa. Di tangan milenial masa depan bangsa ditaruhkan, karena beban baik atau tidaknya Indonesia ke depan berada dalam pundaknya. Ketika milenial baik, bekerja keras, berperadaban, berbudaya, dan menyadari kemajuan bangsanya, maka akan baik bangsa ini. Namun sebaliknya, jika buruk dan tidak memiliki visi-misi ke depan, maka hanya tinggal menunggu kehancuran. Tentu, kita semua tidak menginginkan kemungkinan buruk itu terjadi. Orang tua, sekolah, dan negara harus dapat menyadari ini, sehingga dapat berkerja bersama menempa generasi-generasi penerus harapan bangsa.

Yang kemudian muncul pertanyaan, bagaimana cara melahirkan milenial harapan bangsa? Menjawab pertanyaan itu, rasa-rasanya konsep Bung Karno dapat menjadi teladan yang baik untuk dapat kita renungkan dan amati bersama. Bung Karno dalam satu kesempatan pernah mengatakan, “beri aku sepuluh pemuda maka akan kuguncang dunia”. Merujuk pada penyataan tersebut, Bung Karno mengindikasikan, bahwa eksistensi pemuda dalam suatu bangsa menentukan masa depan bangsa tersebut.

Sedikitnya saya menemukan tiga konsep Bung Karno dalam menempa milenial harapan bangsa yang dapat diperhitungkan. Pertama, adanya perhatian khusus oleh berbagai kalangan, khususnya negara kepada milenial sebagai aset bangsa. Negara harus hadir dan berkewajiban memfasilitasi pendidikan yang baik dan layak, mengajarkan moral dan akhlak, serta keteladanan, sehingga lahirlah milenial yang membawa perubahan suatu bangsa. Yang kemudian, dengan bangga kita akan mengatakan, milenial memng benar-benar harapan bangsa.

Hal semacam ini pernah dilakukan oleh Bung Karno. Yang pada waktu itu tahun 1940-an di sukabumi, dengan perhatiannya yang besar terhadap pemuda, dengan tegas ia menggelorakkan semangat juang para pemuda untuk melawan penindasan dan meraih kemerdekaan. Bung Karno menyebut, beri aku sepuluh pemuda dengan semangat yang berapi-api maka akan kuguncang dunia.

Kedua, memberi kesadaran kepada milenial, bahwa mereka harus berkontribusi terhadap bangsa. Tidak dapat dipungkiri, adanya arus globalisasi yang sulit dibendung berdampak pada hilangnya kepercayaan diri dan mengikisnya kecintaan milenial terhadap budaya bangsanya sendiri. Padahal, kenyataan bahwa milenial harus ikut andil dalam menentukan masa depan bangsa bukan hanya wacana dan angan-angan belaka. Milenial harus dapat mengabdikan diri dengan kemampuan yang dimilikinya kepada bangsa.

Dalam sebuah wejangan, Bung Karno sebagaimana ditulis Sigit Aris Prasetyo dalam Bung Karno dan Revolusi Mental (2017) menekankan, bahwa kaum pemuda harus mampu mendarma baktikan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya kepada Ibu Pertiwi. Menghias Ibu Pertiwi dengan perhiasan yang mahal dan berharga, sehingga terlihat cantik dan menawan. Bung Karno mengatakan, “engkau bisa memberi bunga apa? Bunga Melati? Beri bunga melati. Bunga Mawar? Beri bunga Mawar. Bunga Melur? Beri bunga Melur,,,. Namun, marilah kita semua menyumbang bunga kepada sesungguhnya Ibu Pertiwi, agar Ibu Pertiwi menjadi ibu secantk-cantiknya.”

Ketiga, memotovasi milenial sebagai generasi penerus bangsa, agar dapat melebihi pendahulunya dalam segala hal. Yang dalam hal ini, tentu ilmu pengetahuan menjadi pikiran pokok. Bagaimana ke depan, milenial dapat memegang kendali menciptakan pemikiran baru dalam ilmu pengetahuan. Menjadikan Indonesia pusat peradaban modern. Bung Karno beberapa kali menekankan pemuda untuk gigih dan tekun, pantang menyerah, serta putus asa dalam menuntut ilmu. Untuk tidak minder meski dalam keterbatasan dan kekurangan.

Milenial harus sadar, untuk dapat mengungguli pendahulunya maka harus berusaha keras, pantang pulang sebelum berhasil. Bung Karno pernah mengatakan, “jika Bung Karno telah mencapai sesuatu hal di dalam perjuangan hebat daripada rakyat Indonesia. Jika ada orang yang mengatakan Bung Karno adalah besar, Bung Karno berkata padamu. Hei pemuda-pemudi Indonesia, jadilah besar daripada aku ini”. Merujuk dari pernyataan ini sangat jelas, harapan besar Bung Karno terhadap pemuda dalam membawa bangsa ke depan.

Memang kehebatan Bung Karno dalam hal ini, tidak terlepas dari kehidupan masa lalunya yang penuh dengan lika-liku kepahitan hidup. Namun, jika kita dapat berfikir jernih dan rasional, mestinya kita sadar, Bung Karno saja yang dengan kerterbatasannya dapat melakukan perubahan yang begitu besar, kenapa kita tidak? Maka dari itu, dikontekstualisasikan hari ini, bagaimana Bung Karno melahirkan jiwa-jiwa pemuda yang tahan banting dan menggilas mentalitas inlander sangat relevan dan patut diteladani. Pemerintah, orang tua, dan sekolah (guru) harus menyadari dan mempelajari betul konsep Bung Karno ini, sehingga dapat menempa milenial harapan bangsa Indonesia emas ke depan.

%d blogger menyukai ini: