Seorang siswi non-Muslim SMK Negeri 2 Padang, Sumatera Barat, dipaksa mengenakan jilbab oleh pihak sekolah. Padahal, dalam memeluk agama saja tidak ada paksaan, apalagi dalam hal berjilbab. Dan, hak untuk mendapatkan pendidikan sesungguhnya tidak dapat dibatasi oleh model pakaian tertentu.

Nabi Muhammad SAW sebagai teladan umat, tidak pernah memaksakan kehendak. Hal ini jelas terlihat pada perjanjian Hudaibiyah (6 H), 4 tahun sebelum fathu Makkah (pembebasan) terjadi. Nabi bersama para sahabat hendak pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Setelah tiba di sebuah daerah bernama Hudaibiyah, mereka mendapat kabar, bahwa kaum Quraisy yang masih menguasai ka’bah, menolak kedatangan dan hendak menyerang mereka.

Namun, apa yang dilakukan Nabi sungguh menyentuh hati. Alih-alih menyerang dan mengancam kaum Quraisy dengan rombongannya yang begitu banyak, beliau lebih memilih melakukan perjanjian dan pulang. Nabi mengalah demi memperjuangkan kemaslahatan yang lebih besar. Walhasil, tidak ada pertumpahan darah antara orang-orang Makkah dan Madinah selama 10 tahun.

Peristiwa itu membuktikan, memaksa kehendak orang lain tidak diperkenankan dalam Islam. Baik itu pemilihan model pakaian, pernikahan, atau bahkan keyakinan. Allah berfirman, tidak ada paksaan dalam beragama, sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat [QS. Al-Baqarah (2): 256].

Dari sini kita pahami, bahwa seorang Muslim atau Muslimah adalah orang-orang yang betul-betul ikhlas dan berserah diri. Tidak memiliki tujuan lain, kecuali hanya untuk Allah SWT. Islam mengajarkan kemerdekaan, bukan penjajahan kehendak. Setiap orang berhak memilih jalannya masing-masing.

Dan jika Tuhan-mu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang ada di muka bumi. Lantas, apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? [QS. Yunus (10): 99]

Maka dari itu, jika Allah menghendaki semua manusia di bumi beragama Islam, maka bisa saja seluruh manusia beragama Islam. Akan tetapi, pilihan atas dasar kesadaran adalah yang dituju, seperti telah dijelaskan di atas. Bukan pilihan atas dasar paksaan. Baik perilaku Nabi SAW, maupun ayat al-Quran, sama-sama berpesan kepada kaum Muslim untuk menoleransi keputusan dan kehendak orang lain.

Begitu pula dalam berdakwah. Tidak diperkenankan memaksa orang lain untuk menganut apa yang kita anut, termasuk memaksa seorang siswi SMK untuk berjilbab. Sebagaimana halnya kebanyakan perempuan dalam lingkungan sekolah tersebut berjilbab. Bukan hanya tidak menghargai pilihan sang siswi, tetapi sampai mengancam keberlangsungan pendidikannya adalah tindakan anti-demokrasi dan intoleransi.

Menanggapi hal ini, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) angkat bicara. Dia menegaskan, peserta didik tidak boleh dipaksa mencopot atau mengenakan jilbab. Itu termasuk pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Aturan sekolah seharusnya berprinsip pada penghormatan terhadap HAM dan menjunjung nilai-nilai kebangsaan, apalagi di sekolah negeri. Bahkan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyatakan akan menjatuhkan sanksi tegas kepada SMKN 2 Padang tersebut.

Peristiwa ini menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa kita harus terus mempraktikkan dan merawat toleransi di lingkungan sekitar. Menghargai, menerima, dan mengapresiasi keputusan atau pilihan orang lain di mana saja berada. Atau bahkan, menciptakan hubungan yang baik sesama manusia sejak dini. Dimulai dari masa sekolah. Oleh sebab itu, sudah seharusnya orang tua atau guru berperan mengajarkan sikap toleransi antarumat, antarsuku, antaragama, dan sebagainya. Bukan justru menjadi pelaku intoleransi.

Walhasil, Tidak ada paksaan dalam berjilbab. Ajaran Islam tidak memperkenankan kaum Muslim untuk memaksa kehendak, termasuk memaksa orang lain untuk mengenakan jilbab. Hal itu bukan berasaskan doktrin agama, melainkan merujuk pada kebodohan atau kepentingan tertentu.[]

%d blogger menyukai ini: