Meski bukan orang yang bisa membaca dan menulis, nyatanya Muhammad Ali Pasha dapat membawa kemajuan modern bagi Mesir. Kecerdasannya dalam bekerja menjadikannya seorang yang dinomorsatukan di negeri sungai Nil. Statusnya yang bukan sebagai warga asli, tidak memengaruhi kecintaan bangsa Mesir terhadapnya, karena kontribusi besar yang dibawanya membawa peradaban di kota yang dipimpinnya.

Muhammad Ali Pasha merupakan seorang tokoh modernisme Mesir keturunan Turki, yang lahir pada Januari 1765 M di Kawalla, kota yang terletak dibagian utara Yunani, dan ia meninggal di Mesir 1849. Menurut Muhammad Mastury dalam jurnal Muhammad Ali Pasha, para sejarawan tidak membahas secara pasti latar belakang Ali Pasha. Namun menitikberatkan perhatiannya pada karier ketimbang biografinya.

Di sisi lain, Ayah Ali Pasha yang bernama Ibrahim Agha memiliki 17 anak, asal imigran Turki kelahiran Yunani, merupakan seorang yang bekerja sebagai watchman di daerahnya, selain penjual rokok. Semasa hidupnya Ali Pasha tidak menjejaki pendidikan formal. Itu sebabnya hingga dewasa, ia tidak bisa membaca dan menulis. Namun Ali Pasha adalah seorang yang cerdas dan pekerja keras.

Diketahui karir Ali Pasha mulai menanjak, ketika menjadi menantu gubernur. Mulanya Ali Pasha merupakan seorang pemungut pajak, yang kemudian masuk ke sekolah militer hingga menjadi perwira, karena keberaniannya dan kecakapannya dalam menjalankan tugas. Kualitas Ali Pasha kian terpancar saat menjadi perwira, para tentara Mesir bertempur dengan tentara Perancis. sejak itu ia diangkat menjadi kolonel.

Pada kesempatannya, pasca kekosongan kekuasaan di Mesir ketika penguasa Perancis meninggalkannya (1801). Muhammad Ali Pasha memanfaatkan situasi tersebut menjadi penguasa setelah menyingkirkan pesaingnya dari kaum Mamluk, yang diperangi Napoleon Bonaparte (1789) dan utusan Sultan Turki Usmani bernama Khursyid Pasha.

Sebab kecemerlangannya, Ali Pasha kian tersohor sebagai pemimpin yang dibanggakan orang Mesir. Di sini Ali Pasha dinilai berhasil merevolusi negara tersebut sebagai negara industri dan modern. Kendati bukan penduduk asli dan tidak bisa berbahasa Arab, tetapi para penduduk Mesir menyebutnya sebagai pahlawan. Kuatnya tekad Ali Pasha merubah taraf hidup warga Mesir, pada akhirnya dapat membawa kebaikan bagi tempat yang dipimpinnya dan orang Mesir meresponsnya dengan suka cita.

Dalam buku The Ideas of Arabs Nationalism, Hazen Zaki Nusaibeh menyatakan, bahwa kebangkitan modern di dunia Arab bermula dengan didudukinya Mesir oleh Perancis pada 1798. Sebelum itu, hampir semua negara-negara Arab tak menyadari kemajuan pesat yang dialami Barat oleh abad berikutnya, ketika perjumpaan mereka terakhir dengan Barat sejak Perang Salib.

Jatuhnya Mesir ke tangan Napoleon Bonaparte menyadarkan Ali Pasha melihat kemajuan yang dicapai Barat. Oleh karena itu, ia melakukan beberapa gebrakan yang pelopori Ali Pasha yang membesarkan namanya sebagai modernisme Mesir. Pertama, bidang militer. Kepercayaan Ali Pasha dalam kemajuan militer dapat berimbas pada pembangunan dan keamanan di Mesir, maka ia melakukan reorganisme dan modernisasi kekuatan militer.

Momentumnya pada 1918, bersama seorang kolonel Perancis benama Save yang berpindah agama Islam berganti nama Sulaiman Pasha, Ali Pasha bersinergi membangun angkatan bersenjata Mesir secara modern. Kemudian angkatan laut modern juga dilengkapi dengan kapal-kapal perang yang berasal dari produksi dalam dan luar negeri. Pada 1815 Ali Pasha mendirikan sekolah militer di Kairo dan Akademi Industri Bahari serta sekolah angkatan laut perwira Angkatan Laut di Iskandariah.

Kedua, bidang pendidikan. Mempertegas kembali gelar Ali Pasha sebagai Founding Father of modern Egypt. Dalam penelitian Nissa Assajdah, inovasi pendidikan yang dilakukan Muhammad Ali Pasha yang paling mengemuka adalah terbentuknya kantor Kementerian Pendidikan di berbagai lembaga pendidikan atau sekolah-sekolah. Di lain sisi, Ali Pasha juga membuka Sekolah Teknik (1816), Sekolah Kedokteran (1827), Sekolah Apoteker (1829), Pertambangan (1834), Sekolah Pertanian (1836), dan Sekolah Penerjemah (1836) dengan al-Tahtawi sebagai kepalanya.

bidang pendidikan. Mempertegas kembali gelar Ali Pasha sebagai Founding Father of modern Egypt. Dalam penelitian Nissa Assajdah, inovasi pendidikan yang dilakukan Muhammad Ali Pasha yang paling mengemuka adalah terbentuknya kantor Kementerian Pendidikan di berbagai lembaga pendidikan atau sekolah-sekolah. Di lain sisi, Ali Pasha juga membuka Sekolah Teknik (1816), Sekolah Kedokteran (1827), Sekolah Apoteker (1829), Pertambangan (1834), Sekolah Pertanian (1836), dan Sekolah Penerjemah (1836) dengan al-Tahtawi sebagai kepalanya.

Muhammad Ali Pasha juga mendayagunakan tenaga-tenaga pendidikan dari Mesir dan juga pengajar Eropa. Hal itu berimbas pada penggunaan metode pengajaran yang modern. Upaya menyerap peradaban di Eropa, Ali Pasha mengirim peserta didik untuk belajar di luar negeri, seperti Italia, Inggris, Perancis atau Austria. Pemikiran Ali Pasha tentang pertukaran pelajar, terbilang maju dan berani. Sebab kala itu, umat Islam pada umumnya masih berkutat pada perseteruan kekufuran atau bidang teologi.

Ketiga, bidang ekonomi dan sosial. Dalam memperbaiki perekonomian Mesir, Muhammad Ali Pasha berinisiatif mempertinggi hasil-hasil pertanian. Di samping memperbaiki irigasi lama, ia juga mengadakan irigasi baru dengan menanam tanaman, seperti kapas, tebu, tembakau, pohon zaitun, dan lain-lain. Untuk mendidik para petani, Ali Pasha mendatangkan ahli pertanian dari Eropa untuk memimpin pertanian.

Kiprah Ali Pasha semasa kekuasaannya di manfaatkan seutuhnya. Ibarat awan gelap yang menyelimuti atap langit, Ali Pasha memperkenalkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terjadi di peradaban Barat. Umat Islam yang mulanya hanya menerima nasib atas keadaan yang ada, kini daya pikir mereka tersingkap dan tercerahkan. Konon, gerakan yang dipelopori Ali Pasha ini menjadi tonggak lahirnya para tokoh pemikiran besar Islam, seperti Muhammad Abduh, Muhammad Rasyid Ridha, Rifa’ah Badawi, Rafi’ Al-Tahtawi, Hasan al-Banna dan tokoh yang berpengetahuan luas dan modern lainnya.

Adapun pelajaran yang dapat kita petik melalui Muhammad Ali Pasha, yakni semakin terbuka pemikiran dan mengakui potensi yang dimiliki orang lain. Sudah sepatutnya kita mengambil pelajaran dari mereka. Tak peduli ia berasal dari Barat atau wilayah manapun. Sifat fanatik yang berlebihan hanya akan menjerumuskan seseorang pada kejumudan yang hakiki. Demikian Ali Pasha merupakan tokoh modernisme Mesir yang membawa perubahan besar. Sayangnya, sebagian kelompok umat Islam tak sedikit yang masih menutup pemikirannya, hanya karena berdasarkan label Barat.

%d blogger menyukai ini: