Harun Yahya alias Adnan Oktar, penceramah dan penulis buku-buku Islam asal Turki sekaligus idola sejumlah masyarakat Muslim Tanah Air, divonis 1.075 tahun penjara. Ia terbukti melakukan kekerasan, pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur, penipuan, serta upaya melakukan mata-mata politik dan militer pemerintah. Runtuhnya pesona Harun Yahya nyatanya membuat para penggemarnya minggat. Lantas, kepada siapa seharusnya umat Islam berkiblat?

Di tengah arus globalisasi, hampir semua orang memiliki idola dalam hidupnya. Mulai dari ilmuwan, tokoh agama, atlit sepak bola, sampai anggota keluarga. Keinginan memiliki idola, tidak hanya dialami oleh remaja, melainkan juga orang dewasa. Mengidolakan orang lain, bermula dari kekaguman yang dimiliki. Kekaguman ini kemudian menjelma menjadi simpati dan jatuh hati. Sebetulnya, proses ini tak jauh berbeda dengan proses jatuh cinta. Namun, keterikatan emosi antara idola dan kekasih tentu berbeda.

Pada awalnya, kekaguman muncul berkat paparan informasi terkait seseorang. Membaca tulisan atau biografinya, mendengar suaranya, menyaksikan karya-karyanya, dan lain sebagainya. Kekaguman mendorongnya untuk mengetahui lebih dalam dan jauh tentang sang tokoh. Bahkan, mengoleksi tulisan-tulisannya, sampai foto-fotonya. Upaya ini merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap idola. Di sisi lain, ekspresi mengidolakan seseorang juga dapat menunjukkan perilaku obsesi. Fenomena ini kerap kali kita temui sehari-hari.

Sebagaimana halnya karya-karya Harun Yahya yang mempesona dan menyihir sejumlah masyarakat Muslim Tanah Air. Meskipun ia berasal dan tinggal di Turki, sejumlah buku dan video atas nama dirinya memadati negeri ini sejak tahun 2000. Buku-bukunya sebagian besar menguak kebenaran al-Quran berlandaskan tuturan ilmiah.

Sebagai penentang teori evolusi Darwin, walaupun argumennya tak memenuhi kaidah ilmiah, Harun Yahya menjadi sosok yang diagung-agungkan kaum Muslim. Namun kini, pesonanya hilang karena sejumlah kasus yang menjeratnya. Hal ini menunjukkan, bahwa kita harus kritis kepada apa saja dan siapa saja, termasuk kepada sang idola. Dengan cara membiasakan diri sendiri kritis dalam segala hal, kita tidak akan terjebak dalam pesona sang idola.

Pertanyaannya, mengapa seseorang menginginkan idola? Apa yang sebenarnya ia butuhkan dari mengidolakan orang lain? Kecenderungan memiliki idola sejatinya didasarkan atas kebutuhan manusia untuk memiliki suatu kejelasan tentang dirinya. Hal ini bersumber dari adanya kebutuhan untuk memiliki identitas. Sebab tanpa adanya identitas, manusia tidak dapat mempertahankan kewarasan mereka. Ancaman ini memotivasi manusia untuk melakukan apapun untuk memperoleh rasa memiliki identitas. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memiliki idola (Feist & Roberts: 2013).

Untuk itu, kita tidak boleh sembarang memilih idola. Salah dalam memilih idola akan mempengaruhi perilaku, bahkan pola berpikir kita. Sungguh, tidak ada seorang pun yang menginginkan dirinya atau keluarganya dipengaruhi oleh sesuatu yang buruk. Terlebih, pengaruh negatif itu lahir sebab kelalaian dalam memilih idola.

Dalam ajaran Islam, yakni hadis Nabi Muhammad SAW tertulis, bahwa Anas ibn Malik berkata, “kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami Ketika mendengar sabda Nabi SAW”, engkau bersama dengan orang yang engkau cintai [HR Bukhari].

Hadis ini membuktikan, bahwa kita harus jeli dalam memilih idola, sebab ia yang akan membersamai kita. Jika disuruh untuk memilih, maka saya lebih menganjurkan untuk memilih orang-orang yang baik akhlak dan ilmunya. Sebab tanpa keduanya, sepertinya tak ada lagi alasan untuk mengidolakannya. Apalagi idola acap kali mempengaruhi tingkah laku dan cara berpikir kita.

Dari sekian banyak manusia, tertulis dalam al-Quran, bahwa yang paling mulia adalah Rasulullah SAW [Al-Ahzab (33): 21]. Di dalam pribadinya terdapat uswah hasanah (teladan yang baik). Dan itu tak terbantahkan. Sebab tercatat jelas dalam al-Quran dan hadis. Beragam kesaksian dan narasi mengagungkan serta mengidolakannya. Tidak hanya teladan dalam ruang publik, ia juga menjadi contoh di ruang domestik bagi mayoritas umat Islam di muka bumi.

Mengapa saya katakan mayoritas dan bukan semua umat Islam di muka bumi yang berkiblat kepada Nabi Muhammad SAW? Sebab, walaupun seorang Muslim mengaku bahwa ia Muslim. Namun, ia enggan meneladani Nabi SAW, atau bahkan, tak menginginkannya sama sekali. Lagi-lagi, hal ini dikarenakan, masih sedikitnya informasi yang ia dapat tentang Nabi SAW.

Kini, tugas kita mengenalkan umat Islam pada Nabinya sendiri. Tampak seperti membual memang, tetapi ini benar-benar nyata, terutama saat saya sering kali menjumpai sekelompok anak asyik menyaksikan video random di youtube atau memainkan game online. Berkali-kali. Mereka hanya akan berhenti saat malam atau menunggu dipanggil orang tuanya untuk pulang.

Dengan demikian, jangan salah pilih idola, karena ia yang akan membersamai kita. Pilihlah idola yang memotivasi dan menjadikan diri pribadi yang lebih baik, dengan catatan, tidak tenggelam dalam pesona dan tidak berlebihan dalam memuja.[]

%d blogger menyukai ini: