Ketika Dunia Arab kontemporer tengah dilanda malapetaka konflik kekerasan dan peperangan, beberapa pihak mencoba mengoyak persatuan dan kesatuan Indonesia dengan mengimpor sumber perseteruan itu. Ratusan ribu nyawa melayang akibat kepentingan jangka pendek elite politik demi menggalang populisme Islam yang di antaranya membelokkan makna jihad sebagai senjata ampuh melawan tirani antarpenguasa.

Kini, di Kawasan tempat lahirnya Islam itu, musibah kehancuran semakin memprihatinkan yang dalam bahasa Buya Syafii Maarif (2018), peperangan di Dunia Arab itu telah menjadi kepingan neraka yang dipindahkan ke Bumi. Krisis politik di Kawasan, di antaranya akibat kepentingan elite politik demagogi untuk saling menggulingkan kekuasaan negara. Dengan kata lain, para elite politik berlomba-lomba saling menjatuhkan dengan memanfaatkan emosional keagamaan rakyat sebagai bentuk perlawanan terhadap penguasa pemerintahan negara, atau dalam bahasa kekinian disebut populisme Islam.

Lahirnya bibit-bibit radikalisme dan intoleransi, memunculkan negara boneka Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), Boko Haram, dan lainnya di Kawasan. Mereka mendoktrin para pemuda putus asa untuk pergi berjuang, berjihad atas nama al-Quran dan sunnah Nabi. Mereka telah kehilangan akal sehat, terjebak dalam kubangan ekstremitas sehingga hanya kerugian hilangnya orientasi masa depan. Inilah bahaya populisme Islam yang tengah menggeliat di banyak Dunia Muslim saat ini.

Sibuk dalam perdebatan, pengkotak-kotakan sekte, mazhab, dan aliran dalam Islam, menjadi ladang subur tumbuhnya krisis politik dan sektarianisme negara-negara Islam. Sepanjang sejarah Islam, memang kerap kali melahirkan perseteruan serius yang berakhir dengan peperangan—perang shiffin, perang jamal, perang unta, dan lainnya—mengatasnamakan Tuhan bahwa, Tuhan berada di pihak mereka. Tentu saja kita harus belajar dari sejarah. Pengkotak-kotakan pandangan politik dan sektarianisme adalah pemicu dan sumber konflik yang paling dasar sebelum berakhir dengan pertempuran.

Pertempuran yang menghancur-leburkan dunia Muslim, belum tentu dapat pulih dengan cepat. Negara maju sekalipun, masih berkutat dengan berbagai revolusi yang tak pernah henti. Turki modern misalnya. Negara yang didirikan oleh pemuda revolusioner, Mustafa Kemal Attaturk pada, tahun 1923 dan berideologi Kemalisme atau dikenal dengan nama six arrows of Kemalism—enam prinsip Kemalisme, yakni Republikanisme, Populisme, Statisme, Sekularisme, dan Revolusionisme—masih belum menemukan bentuk identitas dirinya.

Sebagaimana Indonesia, Turki yang mayoritas penduduknya Muslim, terus mengalami gejolak dan krisis politik. Terakhir, terjadi kudeta yang gagal pada 15 Juli 2016. Recep Tayyip Erdogan selamat dari percobaan pembunuhan, segera mengonsolidasi untuk mempertahankan kekuasaan. Siapapun pengikut Fethullah Gulen yang disebut Erdogan sebagai dalang kudeta, ditangkap dan dijebloskan ke penjara.

Padahal mereka dulu sahabat karib. Krisis politik dengan saling menggunakan kekuatan populisme Islam, dua sahabat ini berakhir dengan perceraian dan pertikaian. Bahkan Presiden Turki itu menyebut Gulen sebagai “pemimpin teroris dan “fascis” kepada mantan sekutunya yang kini—sejak tahun 1999—hidup di pengasingan di Saylorsburg, Pennsylvania Amerika Serikat (Trias Kuncahyono: 2018, 296). Kini, Erdogan memainkan peran populisme Islam yang membangkitkan emosional untuk mengokohkan kekuasaannya dan menyingkirkan seluruh lawan-lawannya yang kritis dengan bertindak otoritarian.

Begitupun di wilayah Arab. Para elite yang berebut kuasa, saling bertarung dan saling menghancurkan. Hingga sekarang ini, masih belum tampak tanda-tanda perdamaian di antara mereka. Negara-negara Arab kaya memperebutkan pengaruh dengan memainkan peran politik global. Mereka berani mengorbankan jiwa raga masyarakat sampai banyak pengungsi yang mencari harapan akan kehidupan di dunia yang penuh kedamaian, yang bersedia menerima mereka. Para politikus itu tidak segan-segan menggunakan isu-isu populisme Islam.

Betul, secara individual, mayoritas Arab masih merujuk pada Islam. Ketika citra Islam itu dirusak oleh perilaku penguasa dan elite politik yang berkolaborasi dengan ulama, maka sudah dapat dipastikan, akan terus terbelenggu oleh populisme Islam yang berdampak pada kerusakan. Teks-teks agama, selalu dikaitkan dengan situasi politik. Pemuka agama, terus berceramah provokasi kebencian dan permusuhan. Etika dan akhlak, tidak lagi menjadi fokus utama perbaikan umat.

Gejolak rumit yang terjadi di Kawasan, sudah memercikkan sebagian api konfliknya ke Indonesia. Emosional agama terus digelorakan oleh sebagian elite politik yang tak pandai dan belaga pilon dari kemelut bangkitnya populisme Islam. Lebih dari itu, mereka menjalin perselingkuhan dengan banyak tokoh agama untuk melakukan konfrontasi dan propaganda terhadap pemerintahan yang sah tanpa membangun sikap kritis konstruktif.

Didorong diskursus politik oleh revolusi digital, internet, dan media sosial yang justru menghasilkan kultus ketidaktahuan masyarakat. Internet yang seharusnya sumber informasi dan wawasan ilmu pengetahuan, malah semakin membuat gagal menggugah penalaran dan rasionalitas akibat bias informasi, sehingga semua orang seolah menjadi pakar dan ahli; tahu banyak hal dalam bidang apapun; tidak mempercayai siapapun kecuali sesuai dengan pandangannya saja.

Pada akhirnya orang akan menjadi sombong. Sikap skeptis dan rasa tidak percaya terhadap pemerintah sebagai dampak mengkonsumsi terlalu banyak teori konspirasi, semakin membuat orang terobsesi memuja ketidaktahuannya. Populisme Islam bersikap subversif terhadap apa-apa yang bertentangan dengannya.

Pendapat yang dianggapnya salah, maka suatu kebodohan. Tidak setuju tawaran mereka berarti menentang Tuhan. Mengkritisinya berarti melanggar syariat (hukum-hukum Islam). Konsekuensinya, mereka semua merasa terhina dan tertindas yang mengakibatkan emosi kemarahan yang bersifat hawa nafsu angkara murka. Mereka berani melakukan apapun, sekuat tenaga dengan daya dan upaya untuk terus melawan penguasa hingga hilang kesadaran bahwa mereka telah keluar dari jalur ajaran Nabi yang sesungguhnya, yakni akhlak.

Sekuat apapun orang memberikan suatu fakta realitas bahwa ia salah, karena kehilangan kesadaran akibat fanatisme berlebihan, maka akan menolak bukti yang ada. Kalangan konservatif agama akan cenderung mengabaikan kebenaran-kebenaran yang tidak selaras dengan pemahamannya. Mereka bahkan bereaksi lebih keras terhadap data-data yang bertentangan dengan doktrin dogmatis mereka. Hasilnya, mereka semua menjadi dalang dari pemecahbelahan masyarakat.

Populisme Islam ini lebih memilih tidak peduli dengan segala kompleksitas pengelolaan negara. Atau mungkin tidak mampu memahami kerumitan-kerumitannya. Mereka kemudian bereaksi keras menyalahkan semua yang tengah duduk berkuasa, para teknokrat, politisi, birokrat, dan pejabat. Dengan alasan mereka semua yang telah mengendalikan hidup mereka.

Pelaku perpecahan cenderung diam atas pengelolaan negara setiap hari dalam menjalankan urusannya yang pelik. Mereka baru akan memikirkan dan melakukan konfrontasi habis-habisan jika suatu isu tertentu terkait kebijakan-kebijakan yang dianggapnya suatu kesalahan fatal. Dengan dalih kritik, acap kali melontarkan cacian dan makian yang tidak pantas keluar dari mulut seorang beriman. Dampaknya, rusaklah citra Islam yang diagungkan.

Ironisnya, mereka selalu membawa anak-anak kecil yang tentu saja penalarannya belum sampai pada isu-isu elektoral dan populisme Islam politik. Alangkah sukarnya para penjual ayat Tuhan mengembangkan sikap lapang dada dalam memandang perbedaan. Tidakkah membaca pesan-pesan mulia al-Quran tentang pentingnya membangun persaudaraan. Tentu dengan saudara saling mengingatkan, bukan kebencian dan permusuhan.

Mereka yang menggunakan agama sebagai alat politik, tidak terpikir sedikitpun dampak yang mereka ditimbulkan dari sikapnya yang destruktif. Padahal, tak seorang pun dan dengan alasan apapun memiliki hak monopoli Islam untuk determinasi individu dan kelompok.

Dampak buruknya, seperti yang telah dijelaskan di permukaan tulisan ini, percikan api neraka peperangan dan permusuhan dari Timur-Tengah, menjalar ke negeri ini, terutama di wilayah urban. Dan ini bahayanya dinamika elektoral populisme Islam yang harus segera dicegah demi keberlangsungan negeri kita tercinta, menuju cita-cita bersama.

%d blogger menyukai ini: