Menanamkan nilai-nilai toleransi perlu dipromosikan sejak dini. Penelitian menunjukkan rasa ingin tahu tinggi pada anak-anak mesti diarahkan pada hal positif dngan memberikan pemahaman bahwa semakin banyak yang diketahui, kian banyak pula perbedaan yang terjadi dalam realitas kehidupan. Demi memenuhi hasrat pemahaman tersebut, toleransi tentang perbedaan dan keragaman mesti diajarkan agar kelak mereka tumbuh dengan kepribadian sosial tinggi, yakni saling menghargai, membantu dan tidak mudah menyalahkan.

Memang tidak mudah menanamkan toleransi pada anak. Sebab toleransi adalah sesuatu yang abstrak hanya hati dan pikiran yang dapat merasakannya, sehingga membutuhkan kesabaran penuh agar anak dapat mengerti dan mengaplikasikannya. Adapaun toleransi sejak dini dinyatakan jelas dalam Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA) Kementrian Agama dan Budaya (2014: 21) yang dikonsepkan dalam aspek Nilai Agama dan Moral (NAM) dan sosial-emosional.

Dalam hal ini pada usia 3-4 tahun anak-anak dilatih untuk pergi ke kamar mandi sendiri, tetapi dengan pengawasan, kemudian bersabar menunggu giliran dan berekspresi menyesal ketika melakukan kesalahan dan meminta maaf. Sedangkan pada usia 5-6 tahun anak-anak diajarkan mengenal agama yang dianut, melakukan kegiatan ibadah, berperilaku mulia (jujur, tolong menolong, hormat, dan sebagainya), menjaga lingkungan, memperingati hari-hari besar agama dan menghormati (toleransi) agama orang lain yang berbeda.

Berdasarkan nilai-nilai di atas dari pihak pendidik, baik guru maupun orang tua mesti menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Upaya agar toleransi bukan sekadar teoritis, melainkan praktisi. Misal dalam perjalanan di pasar, bila ditemukan seorang pengemis tua, hendaknya anak-anak diajarkan untuk memberikan rupiah secara langsung pada pengemis tersebut, sembari diberi pemahaman bahwa orang yang kesusahan berhak mendapat pertolongan.

Termasuk ketika didapati seorang yang salah dalam berbicara, berpenampilan lusuh, atau karena status orang lain yang dinilai rendah, sudah patutnya anak-anak diajarkan untuk tidak menertawakan atau mengejek hal tersebut. Demikian toleransi harus dikemas sesederhana mungkin sesuai tahapan usia dan pemahaman perkembangan anak. Sebagaimana kasus bullying yang terjadi pada anak, diantaranya karena kurangnya pemahaman sikap menghargai (toleransi) terhadap perbedaan berunsur SARA dan bentuk pemikiran.

Saya terinspirasi dari video yang berdurasi 51 menit di Twitter tentang dakwah Rizieq Syihab yang tidak sengaja ditonton anak-anak. Lantaran bahasa kasar dan ekspresi yang mengejek, layar vidoe tersebut langsung dimatikan oleh orang tua. Kemudian menginformasikan dengan baik kepada anak untuk tidak mengikuti perilaku demikian. Meski terbilang singkat, video tersebut cukup memberi pesan mendalam agar para orang tua selalu waspada dan memerhatikan sang buah hati dari pencemaran polusi akhlak di media sosial.

Pentingnya toleransi diajarkan sejak dini, bukan saja karena toleransi memuat nilai-nilai yang mulia karena dapat mengantarkan anak ketika dewasa kelak, mereka mampu mencapai kerukunan hidup, bergotong-royong, dan tidak menjadi pemecah bangsa-negara. Akan tetapi, karena miris tak sedikitnya perilaku anak-anak yang diwartakan media sosial menunjukan mereka sebagai pelaku intoleransi.

Kendati kasusnya terlihat sederhana tetap tidak bisa dianggap sepele, seperti mengolok-olok di media sosial karena perbedaan geng, fans dan sebagainya merupakan pengikisan benih-benih toleransi. Jika sejak dini mereka terbiasa dengan doktrinisasi demikian, barang tentu dalam masa 10 atau 20 tahun ke depan jangan aneh melihat generasi bangsa Indonesia yang gemar dan rentan menjadi subyek aktif sebagai pemecah belah, provokator dan egosentris. Sebab enggan memahami perbedaan menjadi alternatif atau hukum alam yang tak terelakkan.

Maka dari itu, toleransi yang tinggi akan mampu mengantarkan anak untuk mengelola emosinya menjadi kepribadian yang tenang, tetapi pasti. Karena untuk mencapai sikap toleransi seseorang perlu berpikir imbang tidak berat sebelah, upaya menempuh jalan tengah dan menghindari persengketaan. Sbaliknya Indonesia mesti mencanangkan anak-anak tumbuh subur dengan kepribadian yang utuh, yakni menanamkan tolernasi sejak dini agar tidak gagap menghadapi multi keragaman yang menjadi karakter bangsa-negara Indonesia.

Keterlibatan semua pihak dalam menanamkan tolernasi sejak dini secara konsisten berpotensi besar pada kesejahteraan dan perdamaian di masa yang akan datang. Gus Dur yang dikenal sebagai guru bangsa, semasa hidupnya sangat gigih menyuarakan persatuan bangsa dengan toleransi. Menggemakan toleransi sejak dini, bukan suatu keniscayaan demi menyongsong keragaman yang penuh harmonisasi.

%d blogger menyukai ini: