Our purpose in life goes beyond family or people we know,
this is what I call big love.

Terasa indah senja ini kawan. Syukur alhamdulillah.

Sruputt dulu secangkir kopimu dan tentunya sambil cerita-cerita ya.

Seminggu yang lalu, saat waktu luang, saya menonton lagi film berjudul Sang Kiai. Ada kisah dari fragmen perjalanan hidup Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dan istri tercintanya. Sangat menarik saat Sang Kiai berdialog dengan Bu Nyai Masrurah. Dialog yang romantis, penuh energi dan bernyawa untuk bekal kehidupan semua anak bangsa. Inspiring.

Bu Nyai: “Bapak lagi mikirin apa?”

Sang Kiai: “Negeri ini Masrurah, tanahnya subur, rakyatnya banyak. Tapi malah jadi negeri jajahan. Kalau saja umat Islam bersatu seluruhnya, hal ini tidak akan terjadi.”

Bu Nyai: “Allah tidak akan memberi manfaat dan kemulian bagi mereka yang tidak mau berjama’ah. Tidak bagi umat yang terdahulu dan juga hamba Allah yang hidup di akhir zaman. Itu yang Bapak selalu sampaikan berulang-ulang kali.”

Sebuah dialog yang mengingatkan kita semua, dari sebuah buku top markotop berjudul Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari; Moderasi, Keumatan dan Kebangsaan, yang ditulis oleh Gus Mis atau KH. Zuhairi Misrawi. Ada dawuh keren dari Hadratussyaikh dalam Qanun Asasi NU yaitu: “Allah SWT tidak akan mendatangkan kebaikan kepada siapa pun yang bercerai-berai, baik orang-orang terdahulu maupun orang-orang yang hidup belakangan ini.”

Allah Ta’ala akan memberikan pahala bagi seorang penyair yang telah menulis syair yang sangat indah ini:

Hendaklah kalian bersatu-padu
saat menghadapi musibah,
dan janganlah sekali-kali terpecah belah
Cawan-cawan tidak akan pecah jika berkumpul
Dan jika tercerai-berai
Maka akan terpecah belah satu persatu

Perjumpaan Hati

Sang Nabi kita Rasulullah SAW telah memberikan contoh yang luar biasa dalam menjalin persaudaraan di antara para sahabatnya, sehingga mereka berada dalam ikatan solidaritas dan kasih-sayang.

Rasa persatuan dan perjumpaan hati untuk mencapai kesepakatan di antara setiap umat merupakan jalan menuju kebahagiaan, cinta dan kasih sayang. Jejak-jejak sejarah membuktikan bahwa hal tersebut dapat melahirkan sebuah negeri yang makmur, umat yang kokoh, peradaban yang adiluhung dan Tanah Air yang maju. Itulah petuah dari pahlawan bangsa.

Bung Karno sang pencetus Pancasila pernah berkata, “Pancasila baru akan jadi kenyataan dengan perjuangan, perjuangan dan sekali lagi perjuangan”. Perjuangan itu akan bergerak terus berjuang, terus menyelenggarakan apa yang kita cita-citakan dalam Pancasila.

Kita semua ummat Islam Indonesia bersama di sini, berdiri dan tersenyum tentunya untuk kembali berjanji bahwa negeri ini tempat kita berpijak. Bangsa ini adalah sebuah warisan yang luar biasa, tapi juga sebuah cita-cita besar. Negara ini bukan hanya amanat para pendiri bangsa, tetapi juga sebuah titipan berjuta anak cucu yang lahir kelak. Seperti ucapan Moh. Hatta, “di atas segala lapangan Tanah Air, aku hidup, aku gembira. Dan di mana kakiku menginjak bumi Indonesia, di sanalah tumbuh bibit cita-cita yang kusimpan dalam dadaku.”

Bung Karno juga dengan tegas mengatakan,“apabila bangsa Indonesia melupakan Pancasila, tidak melaksanakan, bahkan tidak mengamalkan maka bangsa Indonesia ini akan hancur berkeping-keping”. Para pendiri bangsa mewariskan Pancasila bukan saja hanya untuk dasar dan falsafah negara, tetapi juga sebagai alat pemersatu dalam menjalankan roda kebangsaan kita. Apalagi di tengah situasi terkini, bangsa ini terkena sebuah wabah, bukan hanya corona, tapi juga wabah beragama yang salah kaprah.

Banyak dari kita terhinggapi penyakit merasa dirinya religius, terus ingin semakin relgius bahkan mendadak jadi Tuhan. Sikap yang merasa punya hak menghakimi orang lain. Beragama kita jadi kasar dan banal. Ini kan ngeri Kang!

Seringkali kita suka menilai orang lain, karena itu tadi mendadak kita jadi “tuhan”. Parahnya, ada tokoh agama yang mencaci perempuan sebagai lonte, yang belum tentu benar dan kebenarannya. Perempuan lonte jadi bahan tertawaan di acara mulia Maulid Nabi Muhammad SAW. Sedih sekali bro!

Fenomena wabah beragama yang salah kaprah itu hanya mementingkan simbol, ritus-ritus individual, dan mengabaikan ibadah sosial. Kita seringkali gampang terprovokasi hoaks, ceramah-ceramah kebencian, hujatan, caci-maki yang dibalut indah baju agama. Psikologis massa dihajar langsung. Jadi, larut dalam euforia yang ilusif dan destruktif dengan eskalasi sihir agama terindah dari penceramah yang katanya keturunan Sang Nabi. Sungguh mengerikan, kontradiksi sekali.

Kita semua dan saudara-saudari sebangsa saat ini, sangat pas dengan apa yang diucapkan penyair kebanggaan negeri yaitu W.S. Rendra (1997) dalam sebuah sajaknya; masyarakat yang tak ubahnya rumput kering yang memiliki watak yang sangat mudah terbakar. Tak perlu menunggu kejadian besar, emosi bisa meledak kapan saja dengan skala pemantik yang kecil sekalipun. Situasi ini sungguh sangat tidak kita inginkan terjadi. Sebuah era kemarahan dan anarkisme akibat politisasi identitas dan agama yang tak kita harapkan terjadi di bumi pertiwi. Na’udzubillah min dzalik

Menurut saya puncak dari keimanan seseorang, meminjam Bahasa Gus Dur adalah penghargaan terhadap rasa kemanusiaan, ramah dan suka berbagi.Jika penghargaan kepada sesama manusia terbukti nihil, dapat dipastikan agama hanya berakhir pada simbol-simbol dan jargon indah belaka. Terakhir, yang keren dari umat beragama adalah bukan hanya banyaknya shalat, dzikir dan puasa. Tapi juga bagaimana kita memperlakukan manusia dengan cara yang baik, humble dan elegan.

Gitu aja kok repot!

Akhirul Kalam

Karena sudah mendekati waktu sembahyang Magrib, saya akhiri ngopi-ngopi ganteng dengan untaian do’a dari Hadratussyaikh KH. Hasyim Asyari pendiri NU. Do’a yang ditujukan bagi kita semua, dan juga do’a dari Habib Ali Ali-Jufri untuk ummat Islam, bangsa Indonesia dan dunia.,

“Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari Kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji (QS. Ali Imran 3:194).

Ya Allah, bersihkan hati kami dari kebencian dan terangilah hati kami dengan cahaya cinta. Ya Allah, sadarkan, cerahkan, dan murnikan hati kami karena Engkau yang memiliki kekuatan atas segala hal. Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.”

Gitu aja guys, jangan lupa bahagia ya, awal mula dan akhirnya adalah Pancasila. Mendamba Indonesia yang keren, maju dan bersatu di abad 21. Ayo bersama-sama berbuat untuk rakyat dimana pun berada, karena rakyat sudah berbuat baik kepada bangsa dan negara. Mengamalkan nilai-nilai agama sama dengan memperkuat Pancasila.

Dengan demikian, Indonesia ini sesungguhnya seperti segelas kopi. Sedikit pahit sih, karena kelakuan pejabat negara yang suka korupsi seperti Menteri KKP yang ramai saat ini. Sekali lagi pahit, tapi menyegarkan. Antum suka kan?

Salam ngopi kawan-kawan, salam takzim untuk keluarga ya.

Sehat wal afiat senantiasa.[]

%d blogger menyukai ini: