Mencintai seseorang tentu sudah bukan menjadi hal yang baru, tetapi bagaimana jika yang kita cintai adalah sosok yang spesial. Sosok itu yakni Nabi Muhammad SAW, seseorang paling istimewa diantara semua orang. Memang semua umat Muslim mencintai Nabi SAW, tetapi jika yang mencintainya adalah Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari seorang tokoh yang berpengaruh terhadap penyebaran Islam di Nusantara. Lalu seperti apa cara ia mencintai Nabi utusan Allah SWT itu?

Bagi seorang Muslim, Nabi Muhammad SAW adalah seorang teladan baik yang harus dicontoh oleh semua orang. Hal itu diperkuat dengan firman Allah SWT, Sesungguhnya dalam diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian (QS. al-Ahzab, 21). Nabi SAW telah membawa kita dari dunia kegelapan menuju dunia yang lebih terang. Ajarannya yang lembut menjadikan ajaran Islam cepat menyebar keseluruh negeri. Beliau juga seseorang yang sangat menyukai sifat kasih, sayang, dan cinta.

Dengan sifatnya itu, beliau banyak dicintai oleh semua orang yang ada di dunia. Hal itu sudah terbukti dalam realitas kehidupan masyarakat saat ini, karena pengikut dan umatnya telah tersebar di seantero penjuru dunia. Melalui ajarannya yang lembut, beliau memiliki keteladanan yang dapat memikat orang lain agar mengikuti dan menjadikannya sebagai panutan dalam kehidupan. Dan beliau juga merupakan sosok yang dapat menenangkan jiwa. Karena jika ada seseorang yang sedang gundah, maka cara mengobatinya adalah dengan sholawat.

Muslim juga menyebutkan, bahwa Nabi Muhammad SAW juga merupakan manusia paling sempurna. Semua langkah dan sepak terjangnya adalah akhlak baik yang dapat menjadi rujukan dalam melaksanakan hidup. Setiap ucapannya adalah petunjuk, terbukti dengan banyaknya hadis Rasulullah yang menjadi pandangan kita dalam ajarannya. Maka demikian, Rasulullah SAW adalah mahluk ciptaan Allah SWT, sekaligus kekasih Allah SWT, yang segala macam tindakannya adalah moralitas dan patut dicontoh oleh semua orang serta dimanifestasikan dalam berkehidupan.   

Sementara itu, untuk mencintai Nabi Muhammad SAW, Mbah Hasyim mewarisi murid dan para pengikutnya buku, yakni buku al-Nurul Mubin fi Mahabbati Sayyid al-Mursalin (Cahaya yang Terang tentang Kecintaan pada Utusan Tuhan, Muhammad SAW). Buku ini dihadirkan Mbah Hasyim agar kita senantiasa mencintai utusan Allah SWT. Karena dengan bersholawat dan mencintainya, kita akan mendapat safaat Nabi Muhammad SAW. Hal itu diperkokoh dengan hadis Nabi dari Ibnu Mas’ud, bahwa Nabi bersabda, Orang yang paling berhak mendapatkan syafaatku pada hari kiamat adalah, yang paling banyak shalawat kepadaku (HR. Tirmidzi).

Kecintaan Mbah Hasyim terhadap Nabi SAW, ketika Mbah Hasyim menekankan pentingnya iman terhadap kehadiran Nabi SAW sebagai utusan Allah SWT. Dan meyakini serta mentaati semua ajaran yang diwahyukan Allah kepada Nabi SAW untuk semua umat manusia. Maksudnya adalah iman terhadap Nabi hukumnya wajib bagi setiap manusia khususnya umat Muslim dan itu akan menjadi tolok ukur kesempurnaan iman seorang Muslim. Mbah Hasyim mengacu kepada firman Allah, QS. an-Nisa ayat 64, yang menyebutkan, Dan kami tidak mengutus seorang utusan kecuali untuk ditaati dengan izin Allah SWT.

Dalam kitab, al-Nurul Mubin fi Mahabbati Sayyid al-Mursalin, karya Mbah Hasyim itu menjelaskan tentang bagaimana cara kita mengukuhkan keimanan terhadap Nabi SAW. Mbah Hasyim mengawali dengan lima tema pembahasan. Pertama, tentang beriman kepada Rasul. Kedua, taat kepada Rasul. Ketiga, mengikuti Rasul. Keempat, berlaku ikhlas kepada Rasul. Kelima, mencintai Rasul. Semua itu pasti tentang kecintaan, ketaatan, dan kasih sayang Mbah Hasyim terhadap Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, melalui kitab karyanya. Mbah Hasyim memperlihatkan kecintaannya terhadap Nabi Muhammad SAW. Kelima poin itu adalah pondasi umat Muslim untuk mencintai Nabi SAW.

Dalam buku karya Zuhairi Misrawi, Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, Moderasi, Keutamaan, dan Kebangsaan menyebutkan, bahwa Mbah Hasyim mengutip pandangan Sahl al-Tustari, tentang dasar-dasar yang harus dijalani oleh seorang Muslim, ada tiga hal. Pertama, meneladani Nabi dalam akhlak dan perbuatannya. Kedua, makan dari rezeki yang halal. Ketiga, mempunyai niat yang tulus dalam setiap perbuatan. Dalam hal ini, Mbah Hasyim memberikan sebuah cara yang akan membantu kita untuk mencapai semua itu, yaitu totalitas dalam meyakini dan memahami ajaran Nabi SAW.

Dengan demikian, untuk mencintai Nabi SAW kita harus mencontoh Mbah Hasyim. Menurut Mbah Hasyim, yang ditulis di buku, Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, Moderasi, Keutamaan dan Kebangsaan, setiap Muslim sejatinya menjadikan cinta kapada Nabi sebagai landasan yang kuat dalam keberagaman mereka. Cinta ini menuju kemenangan, baik di dunia maupun di akhirat. Maka dari itu, dengan cinta, kita akan mendapatkan segalanya. Tanpa cinta, kita akan terjerumus kedalam kesesatan. Maka itu, cinta terhadap Nabi SAW adalah kendaraan terbang kita, untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

%d blogger menyukai ini: